Manuver Trump Puji Tentara Inggris Usai Komentarnya Bikin Marah

detik.com
15 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Inggris sempat marah buntut komentar Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump terkait pernyataannya mengenai tentara NATO tidak akan bertempur di garis depan di Afghanistan. Kini Trump memuji tentara Inggris usai pernyataannya memicu kemarahan.

Dilansir dari AP News, Minggu (25/1), pernyataan Trump mengenai Afghanistan sebelumnya menuai gelombang kritik di Inggris, terutama dari keluarga prajurit yang tewas atau mengalai luka serius dalam konflik di Afghanistan. Setelah berbincang dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Trump memberikan pujian kepada tentara Inggris.

"Para tentara hebat dan sangat berani dari Britania Raya akan selalu bersama Amerika Serikat," kata Trump di Truth Social.

Dia menyebut 457 prajurit Inggris yang tewas di Afghanistan dan mereka yang terluka parah sebagai 'di antara para pejuang terbesar sepanjang masa'.

Baca juga: Australia Minta Trump Hormati Tentara NATO soal Afghanistan

Selain itu, Trump juga menjelaskan mengenai ikatan antara militer AS dan Inggris 'terlalu kuat untuk dipatahkan' dan bahwa Inggris, 'dengan hati dan jiwa yang luar biasa, tidak ada duanya (kecuali Amerika Serikat)'.

Pernyataan Trump ini muncul setelah wawancaranya dengan Fox Business Network pada Kamis di Davos, Swiss, ketika ia mengatakan tidak yakin 31 negara NATO lainnya akan mendukung Amerika Serikat jika diminta, serta menyebut pasukan dari negara-negara tersebut berada 'agak menjauh dari garis depan'.

Trump tidak secara langsung menyampaikan permintaan maaf atas komentar tersebut. Dia juga tidak mencabutnya, sebagaimana disarankan PM Starmer dalam tanggapan awalnya pada Jumat, yang menyebutkan bahwa ucapan Presiden AS itu 'menghina dan terus terang sangat memalukan'.

Kantor Perdana Menteri di 10 Downing Street menyatakan isu tersebut dibahas dalam percakapan keduanya pada Sabtu, bersama topik lain seperti perang di Ukraina dan keamanan di kawasan Arktik.

"Perdana menteri mengangkat keberanian dan kepahlawanan tentara Inggris dan Amerika yang bertempur berdampingan di Afghanistan, banyak di antaranya tidak pernah kembali ke rumah," demikian pernyataan Downing Street. "Kita tidak boleh melupakan pengorbanan mereka."

Baca juga: Blackout Besar-besaran di Greenland, 20 Ribu Orang Terdampak

Pandangan Trump dalam wawancara Fox Business itu dinilai bertentangan dengan kenyataan bahwa pada Oktober 2001, hampir sebulan setelah serangan 11 September, Amerika Serikat memimpin koalisi internasional di Afghanistan untuk menghancurkan al-Qaeda, yang menjadikan negara tersebut sebagai basis, bersama para pelindungnya dari Taliban.

Bersama AS, terdapat pasukan dari puluhan negara, termasuk anggota NATO, yang mandat pertahanan kolektifnya dipicu untuk pertama kalinya setelah serangan di New York dan Washington. Lebih dari 150.000 tentara Inggris bertugas di Afghanistan selama bertahun-tahun setelah invasi tersebut, menjadikannya kontingen terbesar setelah Amerika Serikat.

Selain itu, Pemerintah Italia dan Prancis juga menyampaikan ketidaksetujuan mereka pada Sabtu atas pernyataan Trump. Keduanya menyebut komentar tersebut 'tidak dapat diterima'.




(wnv/rfs)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Eks Direktur SMA Akui Dapat Uang Terima Kasih 7 Ribu Dollar AS dari Penyedia Chromebook
• 8 jam lalusuara.com
thumb
4.500 Porsi Makanan Disiapkan untuk Pengungsi Longsor Bandung Barat
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Barcelona Kembali Rebut Puncak Klasemen Usai Hajar Real Oviedo 3-0
• 12 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Kronologi 23 Marinir Tertimbun Longsor Cisarua, 4 Meninggal Dunia saat Sedang Latihan
• 3 jam lalurctiplus.com
thumb
Program Revitalisasi Sekolah Dinilai Beri Manfaat Langsung bagi Kegiatan Belajar Mengajar
• 5 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.