Sabut kini menjadi sumber energi listrik terbarukan di pabrik pengolahan kelapa milik PT Dewa Agricoco Indonesia atau Dewacoco di Desa Goal, Kecamatan Sahu Timur, Halmahera Barat, Maluku Utara. Dengan proses gasifikasi, serat kasar kulit kelapa diubah menjadi sumber energi listrik saat pabrik mengalami pemadaman listrik.
Kami menyaksikan bagaimana sabut kelapa disulap menjadi sumber listrik di pabrik Dewacoco, Jumat (12/12/2025). Pabrik ini berjarak sekitar 2 kilometer dari jalan raya Trans Goal. Di area seluas 40-an hektar, terdapat perkebunan kelapa (Cocos nucifera).
Untuk menuju ke daerah ini, dari Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Banten, kami terbang ke Bandara Sultan Babullah, Kota Ternate, Maluku Utara. Kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Dufa-dufa, Ternate, untuk menyeberang ke Jailolo, Halmahera Barat, menggunakan kapal cepat sekitar satu jam.
Dari Jailolo, kami menggunakan mobil menuju pabrik dengan waktu tempuh sekitar 40 menit untuk jarak 22 kilometer. Jalan menuju pabrik sudah beraspal lebar yang mampu dilewati dua kendaraan roda empat saat berpapasan. Sebagian besar jalannya masih mulus.
Dewacoco, yang berdiri pada 2020, adalah perusahaan pengolahan kelapa terintegrasi dari kelompok bisnis PT Royal Agro Industri (RAI). Selain di Halmahera Barat, RAI juga membawahkan dua pabrik lainnya, yakni PT Tri Mustika Cocominaesa di Sulawesi Utara dan PT Samuda Coco Indonesia di Kalimantan Tengah.
Ketika kami berada di pabrik Dewacoco, mobil bak terbuka hingga truk pengangkut kelapa hilir mudik. Kelapa-kelapa itu tidak hanya datang dari wilayah Sahu atau Jailolo, tetapi juga Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan.
Kelapa butir utuh itu ditumpuk di halaman pabrik. Kelapa berkulit kecoklatan lalu disortir sebelum dimasukkan ke mesin pengupas untuk memisahkan sabutnya. Kelapa lalu diambil airnya (de-watering) dan dipisahkan bagian tempurung dan dagingnya (deshelling).
Selanjutnya, daging kelapa dicuci, diparut, dan dihaluskan sebelum dimasukkan ke mesin dengan suhu panas untuk membunuh bakteri. Kelapa kemudian dicacah, dikeringkan, diayak, dan disortir hingga halus.
Beginilah proses pengolahan kelapa menjadi tepung kelapa (desiccated coconut). Meski sudah diproses khusus, pemeriksaan laboratorium masih diperlukan.
”Namanya makanan, sensitif sekali soal kebersihan. Jadi, ini yang harus kami jaga,” ucap Ronny Takasily, Manajer Produksi Dewacoco.
Saat memasuki ruangan produksi, setiap orang harus mengenakan pakaian dan sepatu khusus, masker, jaring rambut, dan membersihkan tangan. Benar-benar harus higienis.
Setiap hari, pihaknya bisa memproses hingga 80.000 butir kelapa untuk menjadi 8,8 ton tepung dengan rendemen 13,5 persen per hari. Tepung kelapa itu dikirim ke China, Mesir, Turki, dan sejumlah negara di Eropa.
Pihaknya juga memproduksi 20 ton minyak kelapa mentah (crude coconut oil/CNO) setiap bulan. Tujuan pasarnya domestik melalui mekanisme business to business (B2B).
Hampir semua bagian kelapa dimanfaatkan, termasuk limbahnya. Bungkil atau sisa ampas padat dari produksi CNO, misalnya, menjadi pakan ternak. Lalu, bagaimana dengan sabut kelapa yang komposisinya sekitar 30 persen dari kelapa utuh?
Selama ini, masyarakat Halmahera Barat kerap kali hanya membakar atau membuang sabutnya. Namun, di pabrik Dewacoco, sabut justru disulap menjadi sumber energi listrik melalui gasifikasi.
Caranya, petugas memasukkan sabut kelapa ke mesin pencacah untuk dihaluskan. Sabut lalu dibawa ke alat pengering berbentuk silinder. ”Ini untuk mengurangi kadar air 25-35 persen yang sebelumnya lebih dari 50 persen,” ucap Tito Ardianto, Kepala Sif Gasifikasi Dewacoco.
Setelah kering, sabut-sabut dimasukkan ke mesin khusus pembentuk pelet. Berwujud tabung dengan suhu panas, pelet sabut kelapa dikumpulkan. Semakin keras peletnya, kian bagus hasilnya. Setiap hari, petugas bisa menghasilkan 100 karung pelet.
Dalam satu jam pembakaran, pihaknya dapat mengumpulkan 10-15 karung pelet. Setiap karung berisi 30 kilogram pelet. Biomassa padat dari sabut kelapa ini lalu diubah menjadi gas yang dapat terbakar melalui mesin khusus. Proses termokimia ini dikenal dengan gasifikasi.
Gasifikasi biomassa kemudian menghasilkan energi listrik dengan kapasitas daya 300 kilowatt. ”Kami menggunakan gasifikasi untuk menjalankan mesin pabrik saat sambungan listrik utama padam. Di sini, kalau seminggu, ada saja pemadaman listrik dan bisa sampai 6 jam,” ujar Tito.
Selain dari gasifikasi biomassa, terdapat tiga sumber listrik lainnya, yakni dari PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) sebagai pembangkit utama, panel surya, dan generator listrik. Total kebutuhan listrik di pabrik yang beroperasi hampir 24 jam sehari ini mencapai 500 kilowatt.
Meskipun menjadi sumber listrik cadangan, biomassa sabut kelapa ramah lingkungan dengan emisi rendah. Emisi karbon dioksida (CO2) bahan bakar dari biomassa sebesar 17-49 gram/Megajoule (g/MJ), lebih kecil dibandingkan bahan bakar fosil, yakni 86 g/MJ (Judd, 2003).
Selain pembangkit listrik dari biomassa, Dewacoco juga menggunakan pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 75 kilowatt. Panel surya yang menangkap panas matahari terpasang di atap pabrik dan mampu menyalakan lampu pabrik dan sekitarnya hingga perangkat pengatur udara di mes karyawan.
Tidak hanya ramah lingkungan, energi terbarukan ini juga lebih hemat dibandingkan generator listrik bermesin diesel. Jika memakai generator listrik diesel selama lima jam, kata Tito, butuh bahan bakar minyak sekitar 200 liter solar industri atau nonsubsidi. Dengan harga sekitar Rp 20.000 per liter, ongkos untuk genset mencapai Rp 4 juta selama lima jam.
Adapun jika memanfaatkan biomassa, bahan utamanya hanya sabut kelapa. Dengan kapasitas pengolahan hingga puluhan ribu butir kelapa per hari, pabrik ini tidak pernah kekurangan sabut kelapa. ”Malah, kami yang keteteran mengolah sabut untuk gasifikasi,” ucap Tito.
Michael Liando, Acting Deputy Operation Head PT Dewa Agricoco Indonesia, mengatakan, pasokan kelapa dari petani yang masuk ke Dewacoco terus bertambah. Sejak beroperasi penuh pada 2024, pasokannya 30.000 butir sehari, lalu bertambah menjadi 50.000 butir per hari.
Kini, pasokan kelapa mencapai 80.000 butir dengan berat total sekitar 64 ton per hari. Dengan asumsi 30 persen bagiannya adalah sabut kelapa, Dewacoco berpotensi mendapatkan 19,2 ton sabut kelapa per hari. Jumlah ini lebih dari cukup untuk gasifikasi.
”Kami sekarang memaksimalkan sabut kelapa untuk pembangkit listrik. Kami juga berencana membuat briket,” ucap Michael. Meski masih jadi pembangkit listrik cadangan, biomassa dari sabut kelapa berpotensi besar jadi sumber listrik utama pabrik.
”Kami terus mengusahakan meminimalkan sampah hingga nol dalam pengolahan kelapa,” ucap Michael. Bahkan, arang hasil pembakaran sabut kelapa untuk gasifikasi (biochar) juga dapat meningkatkan kesuburan tanah.
Rino Katuuk, Kepala Bagian Kebun Dewacoco, mengatakan, biochar dapat meningkatkan kandungan karbon di dalam tanah. Namun, penggunaannya perlu dipadukan dengan pupuk organik. Sabut kelapa yang dicacah halus juga bagus untuk tanah karena kaya fosfor dan kalium.
”Kami memanfaatkan limbah dari pengolahan kelapa itu sebagai pupuk di area kebun sekitar 40 hektar, dekat pabrik. Sabut kelapa juga bisa menekan tumbuhnya gulma,” ucapnya. Ada 3.500-an bibit kelapa yang ditanam, seperti varietas bido, upat-upat, serta kelapa hibrida hengniu dan kopyor.
Perlahan, pengetahuan tentang budidaya kelapa termasuk pemanfaatan limbahnya, sampai kepada petani setempat. Dony Dowongi (33), petani asal Desa Tapua, Kecamatan Ibu Selatan, Halmahera Barat, misalnya, mulai menerapkan cara budidaya kelapa yang tepat untuk kebunnya.
Jarak tanam, misalnya, sekitar 10 meter dari arah timur ke barat dan 8 meter dari utara ke selatan. Tujuannya agar tanaman mendapatkan sinar matahari optimal. Lubang tanam juga dianjurkan ukuran 60 sentimeter untuk panjang, lebar, dan kedalamannya. Lalu, dicampur pupuk kompos.
”Sebelumnya, cukup tiga kali cangkul langsung tanam (bibit kelapa). Warga di sini kebanyakan seperti itu,” ucapnya.
Kini, ia telah menerapkan berbagai tips untuk 80 pohon kelapa yang baru ia tanam. Sabut kelapa yang sebelumnya dibuang juga telah digunakan untuk bahan pupuk.
Pemanfaatan sabut kelapa juga membuka lapangan kerja bagi warga. Tidak hanya untuk 15 karyawan yang mengurusi gasifikasi dan kelistrikan, puluhan orang bekerja menjadi pengupas sabut kelapa atau balewang. Bermodalkan pisau khusus, mereka mengupas sabut kelapa.
”Saya bisa (mengupas sabut kelapa) 1.000 kelapa per hari,” ucap Apolos Boga, yang bertugas dari pukul 08.00-18.00 WIT. Setiap mengupas 100 butir, ia menyimpan potongan kulit kelapa sebagai bukti telah menjalankan tugasnya.
Meskipun mengupas sabut kelapa melelahkan, Apolos bersyukur bisa bekerja. Dengan upah Rp 250 satu butir kelapa, ia bisa mengantongi Rp 250.000 sehari. ”Saya sudah satu tahunan kerja di sini. Tangan su (sudah) tebal,” ucapnya.
Kepala Dinas Pertanian Maluku Utara Anwar Husen mengatakan, pemanfaatan sabut kelapa dapat menjadi sumber ekonomi bagi petani. ”Selama ini, sabut kelapa biasanya dibuang oleh perajin kopra lokal dengan dibakar. Padahal, ini bisa diubah jadi pembangkit listrik,” ujarnya.
Dengan produksi kelapa utuh sedikitnya 200.000 ton setahun, katanya, potensi sabut kelapa di Maluku Utara sangat besar. Melalui hilirisasi, kelapa butir dapat diolah menjadi aneka produk. ”Kami terbuka agar industri mengembangkan hilirisasi kelapa,” katanya.
Foniike Samad, dosen Sekolah Tinggi Pertanian dan Kewirausahaan Banau, Halmahera Barat, mendorong perusahaan dan pemerintah memberdayakan petani dalam pemanfaatan limbah kelapa. ”Perusahaan bisa menampung limbah air, batok, dan sabut kelapa dengan harga bersahabat. Lingkungan pun bisa terlindungi,” ujarnya.
Ketua Umum Himpunan Sabut Kelapa Indonesia (Hipski) Cepi Mangkubumi mengatakan, selama ini, pemanfaatan sabut kelapa baru 10-15 persen. Umumnya diolah jadi cocofiber (serat kelapa) dan cocopeat (media tanam). Sisanya dibuang dengan dibakar atau hanya dibiarkan di kebun.
Selama ini, sebagian besar industri pengolahan kelapa ada di Jawa, sedangkan bahan bakunya banyak di Sumatera dan wilayah timur, seperti Maluku Utara. Ini kendala industri sabut kelapa.
Padahal, cocofiber kerap menjadi bahan baku furnitur hingga jok kendaraan, sedangkan cocopeat untuk media tanam hingga aneka kerajinan. Sebagian besar produknya dikirim ke China. Salah satu kendala pemanfaatan sabut kelapa adalah kehadiran industri pengolahan.
”Selama ini sebagian besar industri pengolahan kelapa ada di Jawa, sedangkan bahan bakunya banyak di Sumatera dan wilayah timur, seperti Maluku Utara. Ini kendala industri sabut kelapa,” ujar Cepi. Oleh karena itu, industri perlu hadir di daerah timur dapat mengembangkan pengolahan limbah kelapa.
Akan tetapi, sentra kelapa kerap terkendala dengan infrastruktur, seperti kehadiran pelabuhan ekspor. Di sisi lainnya, sejumlah negara ingin mengembangkan pabrik pemanfaatan limbah kelapa di Indonesia. Kondisi ini bisa mengancam industri lokal yang skala kecil dan menengah.
”Sebenarnya, pemerintah telah membuat peta jalan untuk hilirisasi kelapa. Tapi, implementasinya belum kelihatan. Kita juga belum punya lembaga khusus yang mengurus sabut kelapa,” ungkap Cepi. India, misalnya, memiliki badan regulator pemerintah yang fokus mengurusi industri sabut kelapa.
Hilirisasi kelapa, termasuk pemanfaatan sabut dan limbah lainnya, pun butuh dukungan berbagai pihak. Apalagi, sabut kelapa dapat dimanfaatkan untuk sumber listrik, seperti di Maluku Utara. Menyala sabut kelapa!




