Ini Kata Pakar Geologi ITB soal Pemicu Longsor di Bandung Barat, Waspada

jpnn.com
5 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com - Pakar Geologi Longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB) Imam Achmad Sadisun mengatakan bencana tanah longsor di Cisarua dan Lembang, Kabupaten Bandung Barat bukan sekadar longsor biasa.

Imam menyebut longsor tersebut dipicu jebolnya bendungan alami di hulu sungai yang berpotensi terulang kembali.

BACA JUGA: Warga Terdampak Longsor Bandung Barat Bakal Direlokasi

Dia menjelaskan bahwa peristiwa yang menerjang Kampung Pasirkuning dan Pasirkuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, serta Kampung Sukadami, Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang pada Sabtu (24/1) dini hari tersebut, merupakan mekanisme aliran lumpur (mudflow) yang jauh lebih destruktif daripada pergerakan tanah lokal.

"Rumah-rumah warga sebenarnya tidak longsor pada lereng-lereng tempat mereka berdiri, tetapi terdampak material longsoran yang dikirim dari hulu melalui alur sungai," ujar Imam di Bandung, Minggu (25/1/2026).

BACA JUGA: Kasus Suami Korban Jambret Jadi Tersangka di Jogja Diserahkan Polisi kepada Jaksa

Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa penyebab utama kejadian tersebut adalah terbentuknya sumbatan atau landslide dam di hulu lereng selatan Gunung Burangrang.

Di mana, material longsor menutup alur sungai, menahan volume air hingga jenuh, lalu jebol seketika membawa muatan lumpur, pasir, hingga bongkah batu dengan kecepatan tinggi.

BACA JUGA: Isu Reshuffle Kabinet Mencuat, Saleh PAN: Itu Hak Prerogatif Presiden

Berbeda dengan narasi umum yang hanya menyalahkan alih fungsi lahan, Imam menekankan adanya interaksi faktor alamiah vulkanik tua yang memiliki lapisan pelapukan tebal.

Kemudian, saat hujan berdurasi panjang menjenuhkan pori-pori tanah, kekuatan geser lereng menurun drastis hingga materialnya meluncur menutup aliran sungai di hulu.

Imam memperingatkan bahwa ancaman belum berakhir, karena tim ahli masih menemukan indikasi adanya sumbatan-sumbatan serupa di bagian hulu sungai.

Jika hujan intensitas tinggi kembali mengguyur, akumulasi air di balik sumbatan tersebut berisiko jebol kembali dan mengirimkan kiriman lumpur ke hilir.

Imam mengungkapkan salah satu informasi yang paling dicari, namun jarang diketahui publik adalah tanda visual sebelum bencana terjadi. Karenanya, dia meminta warga di sepanjang bantaran sungai untuk memantau debit air saat hujan.

"Jika sungai yang biasanya mengalir tiba-tiba surut atau menghilang saat hujan lebat, masyarakat harus waspada. Itu menandakan adanya pembendungan di hulu. Segera menjauh dari alur sungai karena air bisa datang tiba-tiba dalam bentuk aliran lumpur," ujarnya.

Imam menekankan bahwa tinggal di sempadan sungai memiliki risiko tinggi terkena aliran debris (debris flow), sehingga mitigasi ke depan tidak boleh hanya fokus pada penghijauan, tetapi harus menyentuh ranah struktural seperti pembangunan debris flow barrier (penghalang aliran) dan sistem pemantauan jalur aliran (flow track) menggunakan geofon atau sensor getaran.

"Yang paling merusak itu bukan airnya, tetapi material sedimen yang terbawa aliran. Karena itu, sistem mitigasi perlu difokuskan pada pengendalian sedimennya," kata Imam.(ant/jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ditipu Mantan Karyawan, Fuji An Ingin Segera Penjarakan Pelaku, Tak Berharap Uang Miliaran Miliknya Kembali
• 21 jam lalugrid.id
thumb
Dana Hibah Dikirim ke Rekening Pribadi, Ini Pengakuan Keraton Surakarta
• 22 jam lalumerahputih.com
thumb
Misteri Kematian Lula Lahfah, Reza Arap Dipanggil Polisi Hari Ini
• 13 jam laluviva.co.id
thumb
KAI Amankan Pelaku Pelemparan Batu KA Jayakarta Premium ‎
• 4 jam laluidxchannel.com
thumb
Pelaku UMKM ikan bilih alami lonjakan pasokan pascabencana banjir
• 22 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.