Bukan Sekadar Fitur, Ini Prinsip Subaru dalam Mengembangkan Mobil

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Di tengah industri otomotif Indonesia yang semakin dipenuhi adu fitur dan teknologi instan, Subaru menegaskan memilih jalur berbeda. Merek asal Jepang ini menempatkan manusia sebagai pusat pengembangan produk, dengan keselamatan, kenyamanan, dan durabilitas sebagai value utama yang terus dijaga.

Pendekatan tersebut bukan sekadar strategi pemasaran, melainkan filosofi yang telah melekat sejak awal Subaru dikembangkan. Setiap model dirancang dengan mempertimbangkan kebiasaan manusia, karakter berkendara, serta rasa aman yang konsisten dalam jangka panjang.

Executive General Manager Subaru Indonesia, Adrian Quintano, mengatakan filosofi Subaru sejak awal memang berangkat dari manusia, bukan teknologi semata.

“Yang dimulai di Subaru, penekatannya adalah tentang manusia. Mulai dari habitnya manusia, jadi sehingga ketika orang bawa Subaru, itu mereka lebih nyaman,” buka Andrian saat berkunjung ke kantor kumparan baru-baru ini.

Filosofi human-centric itu diterjemahkan ke dalam detail-detail yang mungkin tidak selalu terlihat secara kasat mata, namun terasa langsung saat digunakan. Mulai dari posisi berkendara, visibilitas, hingga karakter mobil yang tetap nyaman meski memiliki DNA SUV.

“Jadi hal-hal kecil yang dipikirin oleh orang Jepang itu memang untuk kenyamanan manusia,” lanjutnya.

Bagi Subaru, mobil bukanlah produk yang diciptakan untuk siklus singkat. Setiap kendaraan diposisikan sebagai investasi jangka panjang bagi penggunanya, baik dari sisi kenyamanan maupun keandalan.

“Ketika orang beli mobil, itu kita aiming untuk 25 tahun, 110 tahun,” ujarnya.

Pendekatan jangka panjang tersebut tercermin dari tingkat loyalitas konsumen Subaru di pasar global. Data menunjukkan tingginya angka pembelian ulang, khususnya di pasar Amerika Serikat.

“Bahkan kalau kita lihat di Amerika itu, orang yang repeat purchase Subaru itu lebih dari 62 persen. Artinya dari 10 orang yang beli, 6 itu paling nggak dia beli lagi,” katanya.

Menurut Adrian, pola loyalitas serupa juga mulai terlihat di Indonesia. Konsumen yang sudah merasakan pengalaman menggunakan Subaru cenderung kembali memilih merek yang sama.

Once kita udah coba Subaru, pasti akan nambah lagi. Cukup banyak populasi orang yang awalnya beli satu, kemudian dibeli lagi,” paparnya.

Selain human-centric dan durability, sikap selektif terhadap teknologi juga menjadi value penting Subaru. Merek ini menegaskan tidak akan mengadopsi teknologi yang belum terbukti aman dan relevan bagi manusia.

“Dan ketika teknologi itu belum proven, itu tidak akan diwujudkan oleh Subaru,” tegasnya.

Karena itu, Subaru tidak terburu-buru mengikuti tren elektrifikasi jika dinilai belum sesuai dengan kebutuhan pasar dan berpotensi mengganggu karakter berkendara.

“Jadi kita memang memilih teknologi yang konvensional, yang kita yakin bisa dipakai ke jangka panjang,” tukasnya.

Sementara itu, General Manager Marketing, PR, and CRM Subaru Indonesia, Irhan Farhan, menilai tantangan Subaru di Indonesia bukan pada produk, melainkan pada pemahaman publik terhadap value merek.

“Saya taunya Subaru itu balapan aja gitu,” buka Irhan di kesempatan yang sama.

Padahal, menurut Irhan, kekuatan Subaru justru terletak pada fondasi teknologi yang berorientasi pada keselamatan dan kenyamanan, bukan sekadar kecanggihan visual.

“Dengan Subaru port teknologi kita yang dibawah ada Boxer engine, Symmetrical rolling drive, global platform dan I-side. Kita akan membawa value atau benefit buat customer safety, comfort,” terangnya.

Bahkan dalam pengembangan produk, Subaru disebut tidak segan mengorbankan potensi komersial demi menjaga aspek keselamatan dan karakter berkendara.

“Jadi memang saya sempat nanya, kenapa nggak model ini ada hybridnya? Oh, setelah di trial mengganggu handling dan safety-nya,” katanya.

Menurut Irhan, value Subaru bukan tentang kemewahan atau fitur yang berlebihan, melainkan rasa aman dan ketenangan saat digunakan.

“Lebih berharga dibandingkan fitur-fitur yang sophisticated lah ya. Ini sebenarnya membuktikan bahwa teknologinya itu reliable lah ya dengan motosport itu,”tegasnya.

Nilai-nilai tersebut juga menjadi alasan Subaru tetap mempertahankan DNA motorsports sebagai pembuktian keandalan dan durabilitas teknologi.

Di Indonesia, penguatan value Subaru turut didukung oleh komunitas pengguna yang aktif dan loyal, yang secara organik menjadi duta merek.

“Dan ini merupakan pen-advocate sih buat kami. Karena dari situ banyak timbul referal.” tukasnya.

Melalui edukasi dan storytelling yang konsisten, Subaru berharap value human-centric, safety, dan durability dapat semakin dipahami oleh konsumen Indonesia. Dengan pendekatan tersebut, Subaru menegaskan posisinya sebagai merek yang tidak sekadar mengikuti tren, melainkan membangun kepercayaan jangka panjang dengan penggunanya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Debut Gila Carrick, MU Gaspol Lawan Tim Papan Atas
• 10 jam lalumedcom.id
thumb
API Laporkan Komika Pandji Pragiwaksono Dilaporkan ke Polda Banten Soal Mens Rea!
• 8 jam laludisway.id
thumb
Haul KH Abdul Wahab Turcham, Ratusan Murid Teladani Nilai Perjuangan Ulama
• 22 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Wamenkeu Thomas Akan Fit & Proper Test sebagai Calon Deputi Gubernur BI Hari Ini
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Kalah 0-3 dari Persebaya, PSIM Yogyakarta Turun Peringkat
• 13 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.