Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas melonjak hingga tembus US$5.000 per troy ons untuk pertama kalinya. Kenaikan harga kali ini memperpanjang reli tajam harga logam mulia didorong oleh sentimen geopolitik dan perubahan arah investasi dari obligasi dan mata uang.
Berdasarkan data Bloomberg, harga emas naik 1,7% menjadi US$5.072,80 per troy ons pada pukul 10.10 pagi waktu Singapura. Sementara itu, harga perak melonjak 4,2% menjadi US$107,49 per troy ons. Platinum naik ke rekor tertinggi, sementara paladium juga menguat.
Sebelumnya, harga emas batangan sempat melompat sekitar 2% hingga menembus US$5.085 per ons, seiring depresiasi dolar AS yang memperkuat permintaan.
Adapun, indeks dolar AS telah turun hampir 2% dalam enam sesi perdagangan di tengah spekulasi bahwa AS dapat membantu Jepang dalam upayanya memperkuat yen. Hal ini menambah kekhawatiran terhadap independensi Bank Sentral AS (The Fed) serta kebijakan Presiden AS Donald Trump yang dinilai tidak menentu.
Kenaikan harga emas yang dramatis menegaskan kembali peran historis emas sebagai indikator ketakutan di pasar. Setelah mencatat kinerja tahunan terbaik sejak 1979, harga emas telah naik lebih dari 17% sepanjang tahun ini.
Salah satu pendorong harga emas berasal dari investor yang menjauh dari mata uang dan obligasi pemerintah AS (Treasuries). Aksi jual besar-besaran di pasar obligasi Jepang pekan lalu turut menjadi contoh terbaru penolakan investor terhadap belanja fiskal yang berlebihan.
Dalam beberapa pekan terakhir, langkah-langkah pemerintahan Trump mulai dari serangan terhadap The Fed, ancaman mencaplok Greenland, hingga intervensi militer di Venezuela telah mengguncang pasar. Bagi investor yang berupaya menghadapi ketidakpastian ini, daya tarik emas sebagai aset lindung nilai jarang terlihat sekuat sekarang.
“Emas adalah kebalikan dari kepercayaan,” ujar Max Belmont, manajer portofolio di First Eagle Investment Management, dikutip Bloomberg pada Senin (26/1/2026).
Dia menambahkan bahwa emas merupakan aset lindung nilai terhadap lonjakan inflasi yang tak terduga, penurunan pasar yang tidak diperkirakan, serta meningkatnya risiko geopolitik.
Pada akhir pekan, Trump mengancam Kanada dengan tarif 100% atas seluruh ekspornya ke AS jika Ottawa menandatangani perjanjian dagang dengan China, sehingga memperburuk ketegangan bilateral.
Sementara itu, ketidakpastian politik di dalam negeri AS tetap tinggi setelah pemimpin mayoritas Demokrat di Senat, Chuck Schumer, berjanji akan memblokir paket belanja besar-besaran kecuali Partai Republik mencabut pendanaan untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri. Langkah ini meningkatkan risiko penutupan sebagian pemerintahan (partial government shutdown).
Membengkaknya utang publik di negara-negara maju telah menjadi pilar penting lain dalam reli emas. Sejumlah investor jangka panjang, yang meyakini inflasi akan menjadi satu-satunya jalan menuju solvabilitas negara, berbondong-bondong masuk ke emas sebagai sarana menjaga daya beli.
“Dalam tiga tahun terakhir, orang-orang menjadi jauh lebih khawatir terhadap arah jangka panjang utang,” kata John Reade, kepala strategi di World Gold Council.




