EtIndonesia. Ada seorang pria paruh baya yang sehari-harinya sangat sibuk bekerja. Karena itu, dia jarang punya waktu untuk menemani anak laki-laki satu-satunya, dan hal ini membuatnya selalu merasa bersalah.
Suatu hari, dia bertekad untuk berubah. Dia sengaja mengosongkan jadwal pada suatu Sabtu sore, membeli dua tiket pertandingan liga utama, dan berniat menghabiskan waktu berkualitas bersama putranya.
Waktu yang ditunggu pun tiba. Ayah dan anak itu berangkat dengan gembira menggunakan mobil. Namun sayangnya, mereka justru terjebak kemacetan parah.
Ketika pertandingan sudah dimulai, mobil mereka masih terhenti di tengah jalan. Keduanya pun mulai mengeluh dan kesal, menyalahkan kemacetan dan kondisi lalu lintas.
Tiba-tiba sang ayah tersadar: “Bukankah aku sengaja meluangkan waktu hari ini untuk bersama anakku? Sekarang aku sedang bersamanya. Kalau begitu, mengapa aku harus begitu memusingkan pertandingan itu?”
Sejak saat itu, dia melepaskan rasa kesalnya dan menghabiskan sore itu dengan mengobrol hangat dan penuh tawa bersama sang anak.
Banyak dorongan dalam hidup manusia berangkat dari niat dan hakikat yang baik. Namun dalam proses pelaksanaannya, kita sering kali justru kehilangan arah.
Seperti sang ayah tadi—hakikat tujuannya adalah menemani anaknya. Namun dalam perjalanan, dia hampir terseret oleh kemacetan, pertandingan, dan emosi lain yang membuatnya lupa akan tujuan awalnya.
Hakikat pernikahan adalah kebersamaan dua insan yang saling memahami dan menghargai. Tetapi tidak sedikit orang yang akhirnya tersesat dalam pertengkaran, perbedaan pendapat, dan perdebatan sepele seperti siapa yang harus mencuci piring—hingga lupa pada makna awal pernikahan itu sendiri.
Begitu pula dengan persahabatan. Awalnya dibangun atas dasar saling membantu dan berbagi kebahagiaan, tetapi seiring waktu sering berubah menjadi perhitungan, sikap dingin, dan keluhan.
Benar, banyak hal berangkat dari niat yang baik. Namun setelah melangkah, sering kali kita seperti pesawat luar angkasa yang melaju ke langit tak dikenal, lalu tenggelam dalam samudra “kehilangan arah” yang tak bertepi.
Pada hakikatnya, manusia memiliki cinta, perasaan, kasih sayang, dan kebijaksanaan. Namun ketika hakikat ini terjun ke dunia nyata, ada hukum lain yang menariknya menuju wilayah yang tak terduga—itulah yang disebut kehilangan arah.
Hakikat agama adalah untuk mengenal dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Tetapi dalam sejarah, betapa banyak peperangan justru terjadi atas nama agama.
Hakikat kegiatan amal adalah menolong yang miskin dan lemah. Namun bukankah tak sedikit kegiatan amal yang akhirnya tersesat dalam pencarian nama dan keuntungan?
Mencius berbicara tentang hakikat manusia yang pada dasarnya baik, menegaskan bahwa di lubuk hati terdalam manusia ada kebaikan sejati. Namun Xunzi, dengan tegas dan tanpa tedeng aling-aling, menunjukkan bahwa hakikat ini memiliki kemungkinan besar untuk tersesat di sepanjang perjalanan hidup.
Tak heran jika ajaran Konfusianisme selama ribuan tahun tidak berani sepenuhnya memihak pada pandangan “manusia itu sepenuhnya baik” atau “sepenuhnya jahat”. Sebab kenyataannya, hakikat kebaikan yang murni sangat mudah tersesat di dunia ini.
Di dalam hati setiap manusia, terdapat cinta. Dari hakikat inilah kita terdorong untuk melakukan banyak hal. Namun dalam kehidupan sehari-hari, betapa sering cinta berubah menjadi perpisahan, pertengkaran, kekecewaan, bahkan kebencian.
Itu pun merupakan bentuk kehilangan arah—kehilangan arah dari tujuan hakikatnya.
Abad ke-21, penemuan terbesar umat manusia mungkin adalah menemukan dirinya sendiri.
Menemukan hakikat diri, memahami tujuan sejati dari hakikat itu, lalu kembali ke sana—agar tidak terus tersesat.
Kini pesawat dan kapal banyak menggunakan sistem navigasi satelit GPS, agar tahu di mana mereka berada dan tidak tersesat.
Lalu, bukankah di dalam batin manusia juga dibutuhkan semacam “sistem penunjuk arah”, agar kita tidak kehilangan hakikat diri kita sendiri?
Jangan ulangi kesalahan yang sama: berangkat dari niat yang baik, namun tersesat di hiruk-pikuk dunia fana.
Ketika kamu merasa sangat tidak nyaman, berharaplah kamu bisa seperti ayah dalam cerita tadi—kembali menemukan tujuan awalmu, lalu melepaskan semua emosi negatif yang sebenarnya tidak perlu.
Renungan
Dalam melakukan sesuatu, manusia selalu memiliki tujuan atau hasil yang diharapkan. Selama tujuan akhirnya tercapai, maka meskipun prosesnya tidak berjalan sesuai rencana, itu sebenarnya tidak menjadi masalah.
Misalnya, seseorang yang kamu sukai sedang merasa murung. Kamu ingin menghiburnya, lalu membeli setangkai bunga mawar untuk diberikan kepadanya. Namun tanpa sengaja kamu terjatuh, dan bunga mawar itu pun patah. Melihat kejadian itu, ia justru tertawa.
Walaupun bunganya rusak, orang yang kamu sayangi tetap berhasil terhibur. Prosesnya memang tidak sesuai dengan bayanganmu, tetapi hasil akhirnya sudah tercapai.
Maka jangan biarkan diri tersesat karena proses yang tidak mulus. Lihatlah kembali tujuan dan hakikat dari apa yang sedang kamu lakukan.(jhn/yn)



