Mendagri: 16 Wilayah di Aceh, Sumut, dan Sumbar Masih Perlu Perhatian

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyebut masih ada 16 wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang membutuhkan perhatian khusus dalam penanganan pascabencana.

Hal itu disampaikan Tito saat rapat koordinasi Percepatan Rehabilitasi Pascabencana Sumatera di Kantor Kemendagri, Jakarta, Senin (26/1).

Dari hasil evaluasi bersama kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, ada sejumlah kemajuan dalam pemulihan pascabencana, terutama di Sumatera Barat.

Dari 19 kabupaten/kota, 16 daerah terdampak bencana dan 5 di antaranya telah kembali normal, yakni Kabupaten Solok Selatan, Kota Bukittinggi, Kota Padang Panjang, Kota Payakumbuh, dan Kabupaten Pesisir Selatan.

Namun demikian, masih ada lima kabupaten/kota di Sumatera Barat yang membutuhkan atensi khusus, terutama Kabupaten Agam, terkait akses jalan, jembatan, layanan pendidikan dan kesehatan, hingga pemulihan ekonomi masyarakat.

“Sehingga yang perlu atensi khusus adalah 5 kabupaten/kota, yaitu nomor satu jelas adalah Kabupaten Agam. Ini ada berbagai permasalahan mulai dari pemerintahan, kemudian juga ada masalah sarana layanan kesehatannya rata-rata Sumatera Barat kalau menurut catatan kami," ujarnya

Sementara di Sumatera Utara, dari 18 daerah terdampak, 5 wilayah telah pulih sepenuhnya, di antaranya Kota Medan, Kabupaten Nias, Kabupaten Langkat, Kabupaten Asahan, dan Kabupaten Batu Bara.

Meski begitu, Tito menekankan perlunya perhatian khusus di wilayah Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan, terutama terkait sungai, jalan provinsi, dan fasilitas pendidikan.

“Yang mendekati normal 11 kabupaten. Ada yang memerlukan atensi khusus meskipun tidak menafikan tentunya yang lain, yaitu Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara. Tapanuli Selatan yang terdampak buruk kemarin memang ada beberapa fasilitas pendidikan, saya ulangi, jalan provinsi yang masih ada hambatan di Tapanuli Selatan,” kata Tito.

Untuk wilayah Aceh, Tito mengungkapkan, kondisi pemulihan masih membutuhkan kerja ekstra. Dari 18 daerah terdampak, baru Kabupaten Aceh Besar yang dinilai telah kembali normal. Sebanyak 9 daerah mendekati normal, sementara 8 kabupaten/kota masih membutuhkan perhatian khusus.

Daerah dataran tinggi seperti Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah menghadapi persoalan akses jalan dan jembatan yang terputus akibat longsor. Selain itu, pemerintah juga menyoroti perlunya penguatan stok logistik di wilayah pegunungan agar ketahanan pangan masyarakat tetap terjaga.

“Di Highland itu di daerah pegunungan itu tiga, yaitu Bener Meriah, Gayo Lues, dan kemudian di Aceh Tengah yang ibukotanya Takengon. Itu rata-rata permasalahannya adalah jalan yang longsor atau hilang dan jembatan yang putus. Jalan nasional sudah masuk, sudah. Kalau tidak memakai jembatan sementara, dia memakai jalan alternatif dengan terobosan,” ujarnya

“Dari pengalaman itu mohon kami menyarankan tiga tempat ini untuk diperkuat stok 3 bulan,” tambah Tito.

Di wilayah dataran rendah Aceh, seperti Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, dan Pidie Jaya, endapan lumpur menjadi persoalan utama yang berdampak pada permukiman, fasilitas umum, hingga aktivitas ekonomi.

Pemerintah pusat bersama kementerian/lembaga terkait akan melanjutkan koordinasi untuk percepatan pemulihan, termasuk penanganan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, ekonomi, serta bantuan sosial bagi warga terdampak.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Willy Minta Kemensetneg Jadi Leading Sector RUU Kewarganegaraan
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Chelsea Kalahkan Crystal Palace 3-1, Naik ke Peringkat Empat Liga Inggris
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kejelasan dari Isu Jajanan Jadul Diduga Berbahan Spons Cuci
• 19 jam laludetik.com
thumb
Teknologi Hybrid Sebagai Motor Penjualan Chery di Indonesia
• 20 jam lalumedcom.id
thumb
493 kasus gigitan Hewan Penular Rabies di Lampung Selatan pada 2025
• 17 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.