Wabah Virus Nipah Merebak di India: Ini Gejala Penularan dan Risiko Kematiannya

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Awal tahun 2026, virus Nipah menyebar di negara bagian India, Benggala Barat (West Bengal), dengan lima kasus telah terkonfirmasi, termasuk di antaranya dokter dan perawat yang ikut terinfeksi.

Dilansir Independent, sekitar 100 orang telah diminta melakukan karantina mandiri di rumah. Para pasien yang terinfeksi dirawat di sejumlah rumah sakit di Kolkata dan sekitarnya, dengan satu pasien dilaporkan berada dalam kondisi kritis.

Virus Nipah dikenal sebagai salah satu virus paling mematikan di dunia. Hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk mengatasinya, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikannya sebagai patogen berisiko tinggi.

Para ahli menyebut infeksi pada manusia tergolong jarang, namun biasanya terjadi ketika virus menular dari kelelawar ke manusia, sering kali melalui buah yang terkontaminasi. Seperti apa virus Nipah? Berikut pembahasan lengkapnya.

Gejala Infeksi Virus Nipah

Infeksi virus Nipah (NiV) umumnya diawali dengan gejala ringan, sehingga kerap sulit dideteksi sejak dini. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Amerika Serikat, masa inkubasi biasanya berkisar antara 4 hingga 21 hari. Namun, dalam kasus tertentu, jeda antara paparan dan munculnya gejala bisa lebih lama.

Pasien biasanya mengalami gejala mirip flu secara tiba-tiba, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan kelelahan. Pada sebagian kasus, muncul pula gangguan pernapasan seperti batuk, sesak napas, atau pneumonia, dengan tingkat keparahan yang bervariasi.

Komplikasi paling serius dan menjadi ciri khas infeksi Nipah adalah radang otak (ensefalitis). Gejala neurologis, mulai dari kebingungan, penurunan kesadaran, kejang, hingga koma, umumnya muncul beberapa hari hingga minggu setelah gejala awal. Sebagian pasien juga dapat mengalami meningitis.

Virus Nipah memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi. Angka fatalitas-nya dilaporkan berada di kisaran 40 hingga 75 persen, tergantung pada wabah dan jenis virus yang terlibat.

Bagi pasien yang selamat, risiko jangka panjang tetap mengintai. Badan Keamanan Kesehatan Inggris mencatat, penyintas dapat mengalami gangguan neurologis berkepanjangan, seperti kejang berulang atau perubahan kepribadian. Dalam kasus langka, ensefalitis bahkan bisa kambuh berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah infeksi awal.

WHO menjelaskan bahwa virus Nipah merupakan patogen zoonosis, yang berarti dapat menular dari hewan ke manusia, serta antarmanusia. Pembawa alami utama virus ini adalah kelelawar pemakan buah (Pteropus).

Manusia bisa terinfeksi melalui kontak langsung dengan kelelawar atau hewan lain yang terinfeksi, atau dengan mengonsumsi makanan yang terkontaminasi air liur, urine, atau kotoran kelelawar. Penularan antarmanusia juga telah dilaporkan, terutama melalui kontak erat dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi, seperti di lingkungan keluarga atau fasilitas kesehatan.

Sejarah dan Persebaran Virus Nipah

Virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada 1999, setelah terjadi wabah ensefalitis dan gangguan pernapasan di kalangan peternak babi di Malaysia dan Singapura. Sejak saat itu, virus ini diakui sebagai patogen zoonosis serius yang mampu menular ke manusia.

Wabah berulang kemudian tercatat di Asia Selatan. Wilayah timur laut India dan beberapa distrik di Bangladesh kerap melaporkan kasus, bahkan Bangladesh hampir mengalami wabah setiap tahun sejak 2001. Di India bagian selatan, wilayah Kerala melaporkan wabah pertamanya pada 2018, disusul kasus sporadis di tahun-tahun berikutnya.

Di luar Asia Selatan, infeksi serupa juga dilaporkan di Filipina, yang diduga disebabkan oleh virus Nipah atau strain serupa. Penelitian ilmiah menunjukkan kelelawar buah sebagai reservoir alami virus ini. Virus Nipah telah ditemukan dalam urine kelelawar di Malaysia, dan antibodi terhadap virus ini terdeteksi pada sedikitnya 23 spesies kelelawar di Asia dan Afrika, termasuk Ghana dan Madagaskar.

Meski reservoir hewannya luas, wabah pada manusia sejauh ini terbatas di Asia Selatan dan Tenggara, umumnya di wilayah pedesaan atau semi-pedesaan dengan interaksi intens antara manusia, hewan ternak, dan kelelawar.

Apakah Ada Obatnya?

Hingga kini, belum ada pengobatan maupun vaksin untuk mencegah infeksi virus Nipah. Perawatan pasien bersifat suportif, berfokus pada penanganan gejala dan komplikasi yang muncul.

WHO memasukkan virus Nipah ke dalam daftar patogen prioritas dalam cetak biru Riset dan Pengembangan, karena potensinya yang bisa menjajdi epidemi sehingga memerlukan penelitian mendesak.

Tanpa vaksin, pencegahan menjadi kunci utama. Lembaga kesehatan global merekomendasikan langkah-langkah sederhana untuk mengurangi paparan virus:

Munculnya kembali wabah Nipah di India menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit zoonosis masih nyata, dan kewaspadaan global tetap menjadi kunci untuk mencegah krisis kesehatan yang lebih besar.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
TNI AD Turun Tangan Bantu Suplai Air Bersih untuk Warga Padang
• 6 jam laluidntimes.com
thumb
Pramono Tegaskan Pindah ke Rusun JAdi Solusi Warga Rawa Buaya agar Tak Kebanjiran Lagi
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
Komandan Garda Revolusi: Iran Siap Tarik Pelatuk Hadapi Serangan Militer AS
• 16 jam laluokezone.com
thumb
Polisi Ungkap Fakta Baru: Lula Lahfah Habis Operasi Batu Ginjal
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Hujan Lebat dan Angin Kencang 25–27 Januari 2026
• 23 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.