Korporasi Pelat Merah Dominasi Emisi Karbon Global, Kontribusi hingga 57%

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Data terbaru Carbon Majors menunjukkan perusahaan-perusahaan yang dikendalikan negara mendominasi emisi global sepanjang 2024 dengan kontribusi mencapai 57% dari total emisi karbon dioksida (CO₂) fosil dunia.

Di antara korporasi yang ditelusuri, sebanyak 32 entitas menyumbang 50% emisi CO₂ fosil global pada 2024, turun dari 38 perusahaan lima tahun sebelumnya. Temuan ini menunjukkan konsolidasi emisi pada kelompok entitas yang kian menyempit.

Adapun emisi dari perusahaan dalam basis data Carbon Majors meningkat di seluruh kawasan pada 2024 dibandingkan 2023. Perusahaan Asia tetap menjadi penyumbang terbesar, dengan kontribusi hampir sepertiga emisi global yang tercatat.

Pada 2024, lima pengemisi terbesar yang dimiliki negara mencakup perusahaan minyak dan gas milik pemerintah Arab Saudi, Saudi Aramco; perusahaan batu bara asal India, Coal India; CHN Energy milik pemerintah China; National Iranian Oil Co., yang dikendalikan pemerintah Iran; dan Gazprom milik Rusia. Perusahaan-perusahaan ini bertanggung jawab atas 18% emisi CO₂ dari bahan bakar fosil dan semen global atau setara 7,8 gigaton CO₂e pada 2024.

Baca Juga : Perlu Investasi Jumbo Untuk Kejar Ambisi Target Bahan Bakar Bersih 2030

Emisi Coal India, CHN Energy, National Iranian Oil Co., dan Gazprom tercatat meningkat pada 2024 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara itu, lima pengemisi terbesar milik investor mencakup ExxonMobil dan Chevron asal Amerika Serikat, perusahaan migas asal Inggris Raya Shell dan BP, serta terakhir ConocoPhillips dari AS. Lima perusahaan ini menyumbang 5,5% emisi global atau 2,4 gigaton CO₂e.

Analisis terbaru atas data 2024 menunjukkan emisi perusahaan-perusahaan dalam basis data tersebut terus meningkat dibandingkan dengan 2023, sementara produksi makin terkonsentrasi pada segelintir entitas.

“Produsen fosil yang dikendalikan negara mendominasi, mewakili 17 dari 20 pengemisi terbesar dunia, mencerminkan hambatan politik dalam percepatan aksi iklim,” ungkap Carbon Majors.

Analis Senior InfluenceMap Emmett Connaire mengatakan bahwa basis data Carbon Majors menunjukkan bahwa setiap tahun emisi global makin terkonsentrasi pada kelompok produsen beremisi tinggi yang makin kecil, sementara produksi keseluruhan terus meningkat. Pada saat yang sama, para pengemisi besar ini terus menggunakan lobi untuk menghambat transisi yang telah lama dinyatakan penting oleh komunitas ilmiah.

“Pembaruan data ini menegaskan pentingnya bukti yang ketat untuk menentukan akuntabilitas atas kerugian terkait iklim, dengan menghubungkan aktivitas korporasi dan dampak iklim ke ranah hukum, legislatif, dan regulasi,” kata Connaire.

Deretan korporasi penghasil emisi karbon terbesar pada 2024 menurut penelusuran Carbon Majors

Sementara itu, Mantan Sekretaris Eksekutif UNFCCC sekaligus pendiri Global Optimism Christiana Figueres berpandangan bahwa meski investasi energi bersih dan elektrifikasi kini hampir dua kali lipat dibandingkan bahan bakar fosil secara global, para raksasa karbon tetap bertahan pada produk usang yang mencemari dan menyesatkan publik soal dampak nyata dari tindakan mereka.

Baca Juga : Ketimpangan Investasi: Dana Perusak Lingkungan 30 Kali Lebih Besar dari Solusi Alam

“Namun mereka tidak akan mampu menghambat lebih lama. Data ini menjadi alat bagi mayoritas pihak yang mendorong solusi berbasis sains dan akuntabilitas,” katanya.

Ketua dan pendiri Fossil Fuel Treaty Initiative Tzeporah Berman menambahkan bahwa perjanjian bahan bakar fosil global menjadi kebutuhan mendesak untuk fondasi pertanggungjawaban para raksasa penghasil emisi ini.

Analisis Carbon Majors disebutnya memperlihatkan kenyataan bahwa sekelompok korporasi fosil yang sangat kuat dan terkonsentrasi bukan hanya mendominasi emisi global, tetapi juga secara aktif melemahkan ambisi pemerintah dalam aksi iklim.

“Peningkatan produksi dan penolakan terang-terangan terhadap penghapusan bertahap bahan bakar fosil, seperti terlihat pada COP30, menunjukkan hambatan sistemik terhadap kemajuan,” katanya.

Pada COP30 tahun lalu, koalisi yang terdiri atas lebih dari 80 negara memang mengusulkan peta jalan transisi untuk menghapus pemakaian bahan bakar fosil, tetapi rencana tersebut terhambat oleh penolakan negara-negara produsen migas utama.

Data Carbon Majors menunjukkan 17 dari 20 pengemisi terbesar dikendalikan oleh pemerintah negara-negara yang menolak peta jalan tersebut, yakni Arab Saudi, Rusia, China, Iran, Uni Emirat Arab, Aljazair, Irak, Qatar, dan India. Ketujuh belas entitas ini memproduksi 38% emisi CO₂ dari fosil dan semen pada 2024. Tiga entitas lainnya adalah Shell yang berbasis Inggris serta Chevron dan ExxonMobil dari Amerika Serikat. Amerika Serikat sendiri tercatat tidak menghadiri KTT COP30.

Adapun basis data Carbon Majors merupakan satu-satunya kumpulan data yang melacak emisi dari produsen minyak, gas, batu bara, dan semen terbesar dunia sejak 1854. Dengan pembaruan data 2024, analisis ini menunjukkan 70% emisi CO₂ fosil antropogenik sejak Revolusi Industri dapat ditelusuri ke 178 entitas korporasi dan negara dalam basis data tersebut. Dalam periode tersebut, hanya 22 perusahaan menyumbang sepertiga atau 33,4% emisi CO₂ fosil global.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Usai Lawatan Luar Negeri, Prabowo Panggil Sejumlah Menteri ke Hambalang, Bahas Apa?
• 19 jam laluliputan6.com
thumb
Mendagri Tito Ungkap Banyak Pasar hingga Warung Sulit Bangkit Pascabencana Sumatera
• 5 jam lalujpnn.com
thumb
Arsenal vs Manchester United: Michael Carrick Pilih Matheus Cunha untuk Hadapi The Gunners
• 22 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Jakarta Livin Mandiri Kalahkan Jakarta Popsivo Polwan 3-1 dalam Laga Sengit Proliga 2026
• 19 jam lalupantau.com
thumb
Beby Salsabila Ungkap Kisah di Balik Film Tolong Saya! (Dowajuseyo)
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.