Oleh: Ras MD (Pengamat Politik/Direktur Eksekutif Parameter Publik Indonesia)
Kabar pamitnya Rusdi Masse (RMS) dari Partai NasDem sejatinya bukan lagi sesuatu yang mengejutkan. Selama hampir setahun terakhir, isu ini berulang kali beredar di ruang publik, meskipun kerap dibantah oleh jajaran DPW NasDem Sulawesi Selatan. Namun dalam politik, bantahan sering kali hanya soal waktu. Realitas pada akhirnya selalu menemukan jalannya sendiri.
RMS—figur yang selama ini dikenal sebagai lokomotif elektoral NasDem di Sulsel—akhirnya resmi berpamitan. Mundurnya RMS tentu bukan sekadar peristiwa personal, melainkan sebuah momentum politik yang berpotensi memicu dampak serius terhadap infrastruktur NasDem Sulsel, baik di level DPW hingga ke akar rumput.
Tak bisa dipungkiri, kultur politik RMS telah lama mewarnai perjalanan NasDem di Sulawesi Selatan. Dari partai yang semula dipersepsikan sebagai kekuatan papan bawah, NasDem menjelma menjadi salah satu partai paling dominan di daerah ini. Mesin partai, jejaring elektoral, hingga soliditas struktur tumbuh dan menguat dalam bayang-bayang figur RMS.
Karena itu, kekhawatiran patut diajukan. Jika fase transisi kepemimpinan di tubuh NasDem Sulsel tidak dikelola secara kuat, kolektif, dan solid, maka infrastruktur partai hingga ke level terbawah berpotensi mengalami kerapuhan. Jika kondisi ini dibiarkan, NasDem Sulsel bukan tidak mungkin hanya akan dikenang sebagai partai yang pernah berjaya—bukan lagi sebagai kekuatan dominan pada pemilu-pemilu mendatang.
Di sisi lain, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) disebut-sebut sebagai partai yang paling menantikan kehadiran RMS. Bahkan, beredar kabar bahwa agenda Rakernas PSI yang digelar di Makassar akhir bulan ini disiapkan sebagai momentum simbolik—di mana para elite PSI akan menyaksikan langsung RMS mengenakan atribut kebesaran PSI.
Pertanyaannya kemudian: akankah PSI Sulsel bernasib seperti NasDem Sulsel dengan hadirnya sosok RMS?
Menurut saya, jawabannya justru sangat berbeda. Pengaruh RMS terhadap NasDem bisa melonjak signifikan karena adanya keselarasan antara figur dan ekosistem partai. Namun kondisi tersebut tidak serta-merta berlaku bagi PSI.
Hingga hari ini, PSI belum tampil sebagai partai alternatif solusi bagi mayoritas publik Sulawesi Selatan. Pengalaman di berbagai pemilu menunjukkan bahwa elektoral PSI belum mampu bersaing dengan partai-partai mapan. Ini menjadi indikator kuat bahwa PSI belum memperoleh ruang yang cukup dalam struktur sosial dan politik masyarakat Sulsel.
Tiga Faktor Mengapa PSI Tak Istimewa di Mata Publik Sulsel, Meski RMS BergabungDalam perspektif publik Sulawesi Selatan, kehadiran PSI belum menghadirkan lompatan elektoral yang signifikan. Sekalipun RMS bergabung, daya tarik PSI tetap terbatas. Setidaknya, ada tiga faktor kunci yang menjelaskannya.
Pertama, segmentasi pemilih yang terlalu sempit.
Sejak awal, PSI memosisikan diri sebagai partai anak muda, urban, dan terdidik. Segmentasi ini mungkin relevan di kota-kota besar tertentu, namun tidak dominan di Sulsel. Basis pemilih terbesar di daerah ini masih bertumpu pada komunitas lokal, pemilih tradisional, jejaring kekerabatan, keagamaan, serta patronase sosial. Ketika PSI gagal menembus ekosistem ini, pesan politiknya memang terdengar, tetapi tidak mengakar.
Kedua, bayang-bayang figur pusat yang terlalu kuat
PSI kerap dipersepsikan sebagai partai elite Jakarta. Narasi nasional jauh lebih dominan ketimbang narasi lokal. Akibatnya, PSI Sulsel sulit tampil sebagai “partai orang Sulsel”. Bukan karena kekurangan kader, melainkan karena otonomi narasi daerah nyaris tidak terlihat. Padahal, publik daerah menginginkan partai yang berbicara tentang problem mereka—dengan bahasa mereka sendiri.
Ketiga, Jokowi bukan magnet elektoral di Sulsel
Faktor ini sering diabaikan, padahal krusial. Joko Widodo memang figur nasional yang kuat, namun daya dongkraknya terhadap elektoral PSI di Sulsel terbukti tidak signifikan. Data pemilu menunjukkan bahwa asosiasi PSI dengan Jokowi tidak otomatis berbanding lurus dengan perolehan suara. Di Sulsel, pilihan politik jauh lebih ditentukan oleh figur lokal dan jejaring sosial ketimbang endorsement simbolik dari pusat.
Figur Besar Tak Selalu Cukup
Pada akhirnya, RMS sukses membesarkan NasDem di Sulawesi Selatan karena terdapat keselarasan antara figur RMS dan karakter partai NasDem. Namun dalam konteks PSI, keselarasan itu belum tampak. Karena itu, saya cukup pesimis RMS dapat membesarkan PSI seperti ia membesarkan NasDem.
Dalam politik, figur besar tidak selalu cukup. Tanpa ekosistem sosial yang hidup, struktur partai yang mengakar, dan narasi lokal yang kuat, figur sebesar apa pun akan menghadapi keterbatasan serius dalam mengubah peta kekuatan politik di daerah. (*)


