- Kapolri menyatakan Indonesia berhasil mempertahankan kondisi nir-serangan terorisme (Zero Attack) selama periode 2023 hingga 2025.
- Keberhasilan ini dicapai melalui kombinasi strategi pendekatan lunak (sosial) dan pendekatan keras (penindakan tegas) oleh Polri.
- Polri menemukan pergeseran ancaman: paham radikal menyasar anak di bawah umur melalui media digital di banyak provinsi.
Suara.com - Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan pencapaian signifikan Indonesia dalam penanggulangan terorisme.
Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, yakni periode 2023 hingga 2025, Indonesia berhasil mempertahankan kondisi Zero Attack atau nihil serangan terorisme.
Capaian ini dinilainya membanggakan karena di saat yang sama, Indonesia sebenarnya masih masuk dalam kategori medium impact berdasarkan indeks ancaman terorisme global.
Hal tersebut disampaikan Kapolri dalam Rapat Kerja bersama Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (26/1/2026).
"Walaupun Indonesia berada dalam kategori medium impact, kita berhasil mempertahankan Zero Attack dari 2023 sampai dengan 2025," kata Sigit di hadapan anggota Komisi III.
Ia menjelaskan, keberhasilan ini tidak terlepas dari penerapan dua strategi utama secara berkesinambungan, yakni pendekatan lunak (soft approach) dan pendekatan keras (hard approach).
Dalam soft approach, Polri fokus memperkuat ketahanan masyarakat melalui peran keluarga dan tokoh agama untuk menangkal paham radikal.
Sementara pada sisi hard approach, Polri melakukan langkah mitigasi ketat, mulai dari peringatan dini, pemutusan jalur pendanaan logistik, hingga tindakan tegas berupa preventive strike.
Kendati serangan fisik berhasil ditiadakan, Kapolri memberikan peringatan serius mengenai pergeseran pola penyebaran radikalisme.
Baca Juga: Tolak Wacana Menteri Kepolisian, Kapolri: Lebih Baik Saya Jadi Petani
Saat ini, paham berbahaya tersebut mulai menyasar anak di bawah umur melalui media digital.
Polri mencatat telah menangani 70 anak di bawah umur di 19 provinsi yang terpapar paham Neo-Nazi dan White Supremacy melalui aktivitas daring.
Bahkan, sebuah pengungkapan besar tercatat pada 18 November 2025 lalu yang melibatkan jaringan perekrutan anak secara masif.
"Polri berhasil mengungkap kasus terorisme dgn 5 tersangka yang merekrut 110 anak secara daring. Korban berusian 10-18 tahun dan berasal dari 26 provinsi," ungkapnya.
Menyikapi dinamika yang semakin kompleks ini, Kapolri menegaskan bahwa Polri akan terus memperkuat kerja sama lintas sektoral.
Langkah koordinasi tidak hanya dilakukan dengan pemangku kepentingan di dalam negeri, tetapi juga mempererat hubungan dengan kepolisian mancanegara guna memastikan keamanan nasional tetap terjaga dari ancaman terorisme lintas negara.



