EtIndonesia. Ada seorang anak muda yang bekerja sebagai murid magang di sebuah bengkel sepeda. Suatu hari, seseorang mengantar sepeda yang rusak untuk diperbaiki. Anak magang itu bukan hanya memperbaiki sepeda tersebut, tetapi juga membersihkannya hingga tampak indah seperti baru.
Para murid magang lain menertawakannya, menganggap dia terlalu berlebihan. Tak lama kemudian, pemilik sepeda datang mengambil sepedanya.
Keesokan harinya, anak magang itu justru direkrut untuk bekerja di perusahaan milik pemilik sepeda tersebut.
Ternyata, untuk menjadi orang yang menonjol itu sangat sederhana—cukup mau sedikit merugi dan memberi lebih.
Seorang pemilik peternakan meminta anaknya bekerja keras setiap hari di ladang.
Seorang teman berkata kepadanya : “Kamu tidak perlu membuat anakmu bekerja sekeras itu. Tanaman tetap akan tumbuh dengan baik.”
Pemilik peternakan itu menjawab : “Aku bukan sedang membesarkan tanaman, aku sedang membesarkan anakku.”
Ternyata, mendidik anak itu sangat sederhana—biarkan dia merasakan sedikit kesusahan.
Seorang pelatih tenis bertanya kepada murid-muridnya : “Jika sebuah bola tenis jatuh ke dalam tumpukan rumput, bagaimana cara mencarinya?”
Ada yang menjawab: “Mulai dari tengah tumpukan rumput.”
Ada yang berkata : “Mulai dari bagian yang paling cekung.”
Ada juga yang menjawab : “Mulai dari bagian rumput yang paling panjang.”
Pelatih pun menyampaikan jawaban yang benar: “Cari secara teliti, dari satu ujung lapangan rumput ke ujung lainnya.”
Ternyata, cara menemukan keberhasilan itu sangat sederhana—hitung dari satu sampai sepuluh tanpa melompati satu pun langkah.
Ada sebuah toko yang selalu terang benderang.
Seseorang bertanya : “Lampu apa yang kalian pakai? Kok awet sekali?”
Pemilik toko menjawab : “Lampu kami juga sering rusak, hanya saja setiap rusak langsung kami ganti.”
Ternyata, cara menjaga dan mempertahankan sesuatu itu sangat sederhana—cukup rajin.
Seekor katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan : “Tempatmu terlalu berbahaya. Pindahlah ke tempatku.”
Katak pinggir jalan menjawab : “Aku sudah terbiasa, malas pindah.”
Beberapa hari kemudian, katak sawah datang menjenguk, namun mendapati katak pinggir jalan telah terlindas mobil dan mati di jalan.
Ternyata, cara mengendalikan arah hidup itu sangat sederhana—jauhi kemalasan.
Seekor anak ayam baru saja menetas dari telur, kebetulan ada kura-kura yang lewat. Sejak itu, anak ayam tersebut terus membawa cangkang telurnya seumur hidup.
Ternyata, untuk melepaskan beban berat itu sangat sederhana—lepaskan kelekatan dan pandangan yang kaku.
Beberapa anak ingin menjadi malaikat. Tuhan memberi masing-masing sebuah tempat lilin dan berpesan agar mereka menjaga cahayanya tetap bersih.
Hari demi hari berlalu, Tuhan tak kunjung datang. Semua anak berhenti membersihkan tempat lilin mereka. Namun ada satu anak yang terus membersihkannya setiap hari, meski sering diejek sebagai anak bodoh.
Suatu hari, Tuhan datang tiba-tiba. Semua tempat lilin tertutup debu tebal, kecuali milik anak yang dianggap bodoh itu. Akhirnya, hanya dialah yang menjadi malaikat.
Ternyata, menjadi malaikat itu sangat sederhana—cukup lakukan dengan sungguh-sungguh.
Seekor anak babi memohon kepada Tuhan agar diizinkan menjadi murid-Nya. Tuhan mengabulkannya. Kebetulan, ada seekor anak sapi yang baru keluar dari lumpur, tubuhnya penuh kotoran.
Tuhan berkata kepada anak babi : “Pergilah, bantu bersihkan tubuhnya.”
Anak babi terkejut dan berkata : “Aku adalah murid Tuhan, bagaimana mungkin aku melayani sapi yang kotor seperti itu?”
Tuhan menjawab : “Jika kamu tidak melayani sesama, bagaimana orang lain tahu bahwa kamu adalah murid-Ku?”
Ternyata, memperlakukan orang lain itu sangat sederhana—cukup dengan ketulusan hati.
Sebuah tim pendulang emas berjalan di gurun pasir. Semua tampak letih dan menderita, kecuali satu orang yang melangkah dengan ringan dan ceria.
Orang lain bertanya : “Mengapa kamu terlihat begitu santai?”
Ia tersenyum dan menjawab : “Karena barang yang kubawa paling sedikit.”
Ternyata, kebahagiaan itu sangat sederhana—kurangi keinginan, belajarlah merasa cukup.
Seseorang melamar pekerjaan. Tanpa sengaja, ia memungut sampah di lorong dan membuangnya ke tempat sampah. Aksi kecil itu terlihat oleh pewawancara yang kebetulan lewat, dan akhirnya ia mendapatkan pekerjaan tersebut.
Ternyata, untuk mendapatkan penghargaan itu sangat sederhana—biasakan diri dengan kebiasaan baik.
Ternyata, hidup pun sangat sederhana— selama kita mampu menghargai, merasa cukup, dan bersyukur, maka hidup akan memancarkan keindahannya sendiri.
Hikmah Cerita
Salam hangat untuk para pembaca. Semoga kumpulan cerita pendek dalam buletin hari ini berkenan di hati.
Meski singkat, setiap kisah mengandung makna yang mengajak kita merenung. Penulis sungguh patut dikagumi—dengan kata-kata sederhana ia mampu mengungkap hakikat kehidupan, serta menunjukkan bahwa kesuksesan bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari langkah-langkah kecil yang terus dikumpulkan.
Di balik hal-hal yang tampak rumit, sebenarnya sering tersembunyi kesederhanaan. Namun di balik kesederhanaan, sering pula tersimpan kerumitan.
Saat kita suka membandingkan, hal yang sederhana pun menjadi rumit. Namun ketika kita berhenti memperhitungkan dan mengeluh, hal yang rumit justru menjadi sederhana. (jhn/yn)




