jpnn.com - BANDUNG – Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPANRB) Rini Widyantini menyebutkan jumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) 2026.
Diketahui, ASN terdiri dari PNS dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
BACA JUGA: PPPK Paruh Waktu Ingin Aspirasinya Didengar Pemerintah & DPR, Turun ke Jalan Solusi Terakhir
Terbaru, ada lagi jenis ASN PPPK Paruh Waktu yang bersifat sementara atau transisi sebelum diangkat menjadi PPPK tanpa melalui tes lagi.
Menteri Rini menyebutkan, jumlah ASN di Indonesia saat ini mencapai lebih dari 6,5 juta orang dan tersebar pada berbagai tahapan usia. Mulai dari usia produktif hingga pra-purnabakti.
BACA JUGA: Honorer Tersisa Urusan Pemda, Kalau Pengin jadi ASN Ikut Seleksi Saja
“Dari jumlah ini, sekitar 13 persen ASN atau lebih dari 800 ribu orang, akan memasuki masa purnabakti dalam lima tahun ke depan,” kata Menteri Rini saat menjadi keynote speech pada Seminar Kebebasan Financial Melalui Entrepreneur dan Bisnis di Universitas Padjadjaran, Bandung, Sabtu (24/1/2026).
Lebih lanjut dikatakan, masa purnabakti tidak semata menjadi penutup karier, melainkan fase peralihan peran yang perlu disiapkan secara lebih terencana.
BACA JUGA: Info Penting untuk PPPK Paruh Waktu, Sepekan Lagi ya
Tanpa kesiapan yang memadai, lanjutnya, fase ini justru berpotensi menimbulkan tantangan kesejahteraan dan sosial.
Rini Widyantini menyampaikan bahwa dalam menempuh karier, seorang pegawai cenderung lebih sering berbicara perjalanan awal karier tentang CPNS, pengangkatan, dan promosi jabatan.
“Tapi lebih jarang kita (ASN) berbicara dengan serius tentang satu fase yang pasti dialami semua pegawai, yakni masa purnabakti. Padahal bagi banyak pegawai, purnabakti bukan berarti berhenti berkarya,” kata Menteri Rini, dikutip dari keterangan Humas KemenPANRB.
Menurut Menteri Rini, masa purnabakti memang sering digambarkan sebagai masa yang tricky.
Hal tersebut dikarenakan adanya tantangan tidak sederhana, dan tidak selalu terlihat di permukaan.
Masa purnabakti tidak hanya berdampak pada kondisi finansial, tetapi juga pada kesehatan mental, relasi sosial, dan rasa kebermaknaan hidup.
Berbagai studi menunjukkan bahwa ketidaksiapan non-finansial dalam transisi pensiun berkontribusi pada menurunnya kesejahteraan dan partisipasi sosial di usia lanjut.
“Artinya, meskipun kebutuhan finansial relatif tercukupi, tanpa kesiapan mental dan sosial, fase ini tetap bisa terasa berat,” jelasnya.
Individu yang mengalami kehilangan peran dan rutinitas kerja tanpa transisi yang baik cenderung mengalami penurunan well-being dan kepuasan hidup.
Bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka belum memiliki ruang peran pengganti yang jelas.
“Inilah sebabnya, purnabakti tidak cukup dipahami sebagai persoalan ekonomi semata, tetapi sebagai fase kehidupan yang perlu disiapkan secara lebih menyeluruh,” pesannya.
Diungkapkan bahwa lebih dari 800 ribu ASN akan memasuki masa purna bakti dalam lima tahun ke depan.
Secara nasional, kondisi ini sejalan dengan dinamika demografi kita yang bergerak menuju ageing population.
Dalam konteks pengelolaan SDM, angka ini tentu mencerminkan tantangan yang tidak kecil, khususnya terkait keberlanjutan kapasitas SDM ASN dan kesejahteraan ASN saat purnabakti.
Namun, pada saat yang sama, angka ini juga menunjukkan potensi yang besar.
Banyak ASN memasuki masa purnabakti dalam kondisi masih produktif, berpengalaman, dan memiliki jejaring yang kuat.
“Jika potensi ini dapat dimanfaatkan dengan baik, maka purnabakti ASN tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu, tetapi juga dapat berkontribusi pada penguatan aktivitas ekonomi, sosial, dan kemasyarakatan,” katanya.
Menteri Rini menambahkan bahwa semasa aktif, ASN ditempa melalui berbagai pengembangan kompetensi.
Kinerjanya dikelola secara berkelanjutan dan pengalaman puluhan tahun telah membentuk pengetahuan, kebijaksanaan, serta kemampuan manajerial yang matang.
“Karena itu, ketika memasuki masa purna-tugas, pengalaman tersebut tidak berhenti begitu saja. Saya berharap justru bertransformasi menjadi aset sosial dan ekonomi yang dapat terus memberi nilai tambah bagi masyarakat,” tambahnya. (sam/jpnn)
Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:
Redaktur & Reporter : Soetomo Samsu




