Situasi politik Tiongkok memasuki titik balik! petinggi partai komunis Tiongkok, Zhang Youxia disingkirkan, Xi Jinping terisolasi dan tanpa dukungan, militer kehilangan para jenderalnya—runtuhnya “bangunan” Partai Komunis Tiongkok (PKT) dinilai telah menjadi kenyataan.
EtIndonesia. Pada 24 Januari 2026, Kementerian Pertahanan Tiongkok secara mendadak mengumumkan bahwa Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (KMP) Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan KMP Liu Zhenli diduga terlibat pelanggaran disiplin dan hukum yang serius.
Setelah diteliti oleh pimpinan pusat partai, diputuskan untuk membuka penyelidikan resmi terhadap Zhang Youxia dan Liu Zhenli. Sejak rumor penahanan Zhang Youxia ramai beredar di internet pada tanggal 20 hingga pengumuman resmi, ia menjadi salah satu jenderal yang “jatuh” dengan proses tercepat sejauh ini.
Saat Zhang Youxia ditangkap, di luar negeri tengah ramai ditayangkan serial berjudul Winnie’s Last Days (Akhir Zaman Winnie), yang menyindir terjadinya kudeta di Zhongnanhai: seorang “Jenderal Zhang” yang tak lagi mampu menahan diri mengerahkan pasukan untuk menangkap sang diktator “Winnie” yang duduk di singgasana kekuasaan.
“Winnie” merupakan sebutan rakyat untuk Xi Jinping. Kebetulan ini menunjukkan bahwa penangkapan Zhang Youxia mungkin bukan hasil perencanaan matang, melainkan lebih menyerupai tindakan impulsif.
Analisis menyoroti frasa kunci dalam pengumuman resmi: “diputuskan setelah diteliti oleh pimpinan pusat partai”. Ungkapan ini biasanya hanya digunakan untuk tokoh setingkat wakil negara ke atas, kasus yang menyangkut keamanan politik sistemik, atau tindakan besar yang harus mendapat persetujuan tingkat tertinggi. Ini berarti bukan komisi disiplin yang terlebih dahulu menemukan masalah, melainkan kesimpulan politik sudah ditetapkan lebih dulu, baru kemudian prosedur dijalankan.
Zhang Youxia yang berusia 75 tahun—dari segi posisi di militer, latar belakang, dan hubungannya dengan Xi—dipandang mirip dengan Lin Biao pada era Mao Zedong. Opini publik di luar negeri menilai dampak peristiwa ini dapat disejajarkan dengan “Insiden Lin Biao” atau “Insiden Wang Lijun”, yang merupakan kejadian-kejadian insidental langka namun sering memicu perubahan besar dalam konstelasi politik.
Profesor Universitas California, Victor Shih menyatakan keterkejutannya. Ia sebelumnya mengira He Weidong-lah figur bergaya Lin Biao, namun ternyata justru Zhang Youxia—sahabat lama yang pernah membantu Xi mengkonsolidasikan kekuasaan. Hal ini akan menyebabkan tersingkirnya gelombang terakhir jenderal militer yang memiliki pengalaman tempur nyata dalam Perang Vietnam.
Sejak berkuasa pada 2012, Xi Jinping telah membersihkan lebih dari 100 perwira tinggi militer, termasuk empat wakil ketua Komisi Militer Pusat. Dalam susunan terbaru KMP, kini hanya tersisa Zhang Shengmin.
Skala pembersihan ini melampaui Revolusi Kebudayaan maupun pembersihan besar-besaran di Uni Soviet. Xi Jinping kerap dibandingkan dengan Chongzhen, kaisar terakhir Dinasti Ming—dikenal kejam, curiga, dan gemar membunuh; dalam 17 tahun pemerintahannya ia mengganti 14 menteri perang, dan akhirnya menjadi pengakhiri Dinasti Ming.
Zhang Youxia memiliki tiga “label” yang sulit ditiru di tubuh militer:
- Keturunan merah generasi kedua: ayahnya adalah seorang jenderal pendiri negara.
- Pengalaman tempur nyata: pernah bertempur dalam Perang Vietnam, yang hampir punah di jajaran elite saat ini.
- Senioritas dan basis kuat: memiliki posisi stabil di berbagai kepemimpinan lintas generasi.
Zhang Youxia dianggap sebagai sosok terakhir di militer yang masih mewakili logika profesional dan suara sistem. Penyingkirannya akan membawa tiga konsekuensi utama:
- Pengambilan keputusan menjadi tidak profesional: para jenderal tidak lagi memikirkan cara memenangkan perang, melainkan cara menebak kehendak atasan.
- Sistem komando menjadi hampa: konsep operasi gabungan terdegradasi, keputusan kembali terpusat pada satu orang; level menengah hanya boleh menjalankan perintah, bukan menilai.
- Meningkatnya risiko petualangan eksternal: karena tak ada yang berani menjadi “rem”, semua hanya mengikuti arus, sangat rentan terhadap salah perhitungan dan kehilangan kendali.
Analisis menyebutkan bahwa hilangnya kemampuan militer untuk melakukan kritik profesional, diplomasi yang makin emosional, meningkatnya biaya pengendalian internal, serta melemahnya kemampuan koreksi kesalahan, pada akhirnya akan merembet ke nilai tukar, lapangan kerja, kebijakan wajib militer, dan skala kontrol sosial.
Ketika sistem mengosongkan semua “zona penyangga”, itu menunjukkan menurunnya kepercayaan diri terhadap diri sendiri. Kini, setiap pusat pemikiran independen di tubuh militer otomatis dipandang sebagai titik risiko. Ini menandai bahwa runtuhnya “bangunan besar” PKT telah menjadi kenyataan. (Hui)
Zhongnanhai : Komplek dan Kantor Pusat Partai Komunis Tiongkok di Beijing





:strip_icc()/kly-media-production/medias/5483057/original/024499400_1769322388-IMG_7044.jpeg)