Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) ritel sebanyak delapan kali pada tahun ini. Target dana yang ingin dihimpun berada di kisaran Rp 150 triliun hingga Rp 170 triliun.
Pelaksana Tugas Direktur Surat Utang Negara (SUN) DJPPR Kementerian Keuangan, Novi Puspita Wardani, menjelaskan pemerintah memang tidak pernah menetapkan target penerbitan SBN ritel dalam angka pasti. Biasanya, pemerintah hanya menggunakan rentang sebagai acuan.
Pada tahun lalu, target penerbitan juga berada di kisaran Rp 150 triliun hingga Rp170 triliun. Realisasinya mencapai Rp153 triliun.
“Tahun ini berapa (target)? Saya sampaikan sekitar Rp 150 triliun hingga Rp 170 triliun,” kata Novi dalam Media Briefing di Kantor Pusat Kemenkeu, Senin (26/1).
Novi memastikan penawaran SBN ritel akan tersedia hampir sepanjang tahun. Jeda antar seri juga relatif singkat, sekitar satu sampai dua minggu. Dengan pola ini, investor bisa mengatur pembelian secara bertahap sesuai kondisi keuangan.
Selain membeli saat masa penawaran awal, investor juga bisa membeli SBN ritel di pasar sekunder untuk seri yang bisa diperdagangkan. ORI dan Sukuk Ritel, misalnya, tetap dapat dibeli meski masa penawaran perdana sudah berakhir.
“Jadi kalau tidak dapat kesempatan pasar perdana, pasar sekunder juga bisa,” tuturnya.
Dari sisi investor, Novi menyebut generasi muda kini menjadi mayoritas pembeli SBN ritel. “Generasi muda di sini sudah mulai banyak yang berpartisipasi bahkan majority. Jadi 57 persen adalah kaum muda, generasi milenial dan gen z,” kata dia.
Menurut Novi, tingginya minat investor muda menjadi sinyal positif bagi perkembangan SBN ritel ke depan. Meski investor dari kalangan Gen X dan Baby Boomers masih memiliki daya beli terbesar, peran generasi muda terus meningkat. Investor kelahiran 1965–1979 tercatat menyumbang 43 persen dari total penjualan.
Sementara itu, kontribusi generasi Tradisionalis (kelahiran 1928–1945) sangat kecil, hanya sekitar 1 persen. “Jadi artinya ini potensi untuk ke depannya SBN retail ini untuk terus berkembang,” kata Novi.
Selain itu, pembeli SBN ritel didominasi oleh perempuan sebesar 58 persen, sementara laki-laki 42 persen. Dari sisi pekerjaan, investor paling banyak berasal dari pegawai swasta sebesar 33 persen, disusul wiraswasta sekitar 18 persen.
Novi mengatakan jadwal tersebut masih bersifat sementara. Meski begitu, jadwal ini bisa menjadi gambaran bagi investor untuk menyiapkan dana.
“Jadwalnya masih tentatif. Tapi biasanya, kalaupun bergeser, ya geser satu-dua hari saja,” ungkapnya.
Berikut Jadwal Penawaran SBN 2026:
ORI029: 26 Januari—19 Februari 2026
SR024: 6 Maret—15 April 2026
ST016: 8 Mei—3 Juni 2026
ORI030: 6—30 Juli 2026
SR025: 21 Agustus—16 September 2026
SWR007: 4 September—21 Oktober 2026
SBR015: 28 September—22 Oktober 2026
ST07: 6 November—2 Desember 2026.





