AGAM, KOMPAS.TV – Seorang petani pinang di Kayu Pasak Timur Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menceritakan aktivitasnya yang perlahan kembali normal pascabanjir yang terjadi di daerah itu pada akhir November 2025.
Syahrul (44), seorang petani pinang di Kabupaten Agam, menyebut saat ini dirinya mulai memanen pinang dengan hasil yang meningkat.
"Saya mulai panen pinang dengan hasil yang cukup baik. Naik dibandingkan sebelumnya. Biasanya cuma panen 800 kilogram saat ini bisa mencapai satu ton di lahan sekitar setengah hektare," kata dia, Senin (26/1/2026).
Baca Juga: SAR Libatkan Relawan Agam Rinjani Cari Korban ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung | BERUT
Menurutnya, saat ini aktivitas petani mulai normal kembali, meski masih ada ruas jalan menuju lahan pertanian mereka yang tertimbun material banjir bandang.
Syahrul mengaku mateial banjir yang menutupi akses jalan mulai mengering dan keras, sehingga ia dapat tetap menempuh jalan tersebut.
Hal itu berbeda dengan awal bencana terjadi. Kala itu, kata dia, dirinya tidak bisa memanen pinang, karena akses jalan menuju lahan belum bisa ditempuh.
Selain itu, ia juga ikut membantu membersihkan pemukiman dan rumah warga yang menjadi korban banjir bandang.
"Untuk harga pinang kering saat ini lumayan bagus dari Rp15 ribu per kilogram naik menjadi Rp17 ribu per kilogram," tuturnya.
Pemanenan pinang tua dilakukan dua kali dalam setahun, atau kurang lebih enam bulan sekali. Sedangkan untuk pinang muda sekali dalam tiga bulan.
Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Deni-Muliya
Sumber : Antara
- agam
- sumatera barat
- petani pinang
- pinang
- pascabanjir agam




