Dalam tiap hubungan, ada kalanya kita akan memasuki fase aman dan stabil. Misalnya pasangan selalu hadir dengan konsisten, komunikasi terasa aman, hingga konflik tidak berubah menjadi drama besar. Namun alih-alih merasa lega, sebagian orang justru merasa gelisah, datar, bahkan mempertanyakan perasaannya sendiri.
Perasaan ini kerap muncul bukan disebabkan oleh rasa sayang yang perlahan menghilang, melainkan karena kita belum terbiasa dengan hubungan yang tenang. Sebab sejak lama, cinta sering digambarkan sebagai sesuatu yang penuh gejolak dan emosi naik-turun.
“Banyak orang terbiasa mengasosiasikan cinta dengan intensitas emosional. Ketika intensitas itu hilang, mereka mengira cintanya juga ikut hilang,” ungkap Esther Perel, psikoterapis dan pakar hubungan asal Belgia.
Terbiasa dengan Hubungan yang Naik-TurunHubungan yang penuh konflik menciptakan siklus emosi ekstrem, seperti cemas, berharap, kecewa, lalu lega. Pola ini dikenal sebagai intermittent reinforcement, di mana perhatian yang tidak konsisten justru memperkuat keterikatan emosional.
Ketika hubungan berjalan stabil tanpa ketegangan, tubuh dan emosi kehilangan lonjakan yang dulu dianggap sebagai bukti cinta. Akibatnya, hubungan yang sehat terasa hambar, padahal sebenarnya lebih aman.
Terbiasa Berjuang demi CintaSelain itu, sebagian dari kita mungkin tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta harus diperjuangkan. Mengalah, menenangkan pasangan, dan terus membuktikan diri sering dianggap sebagai bentuk kasih sayang.
Saat akhirnya berada dalam hubungan yang setara dan tidak menuntut pengorbanan emosional berlebihan, akan muncul rasa sepi. Karena tidak ada konflik untuk diperbaiki, banyak yang merasa hubungannya datar dan hening. Nah, keheningan ini yang kerap disalahartikan sebagai kebosanan.
Ketentraman Bukan Berarti Kehilangan GairahJika cinta sejak awal diasosiasikan dengan ketidakpastian, maka konsistensi justru terasa mencurigakan. Padahal, hubungan yang sehat tidak menuntut seseorang untuk terus berjaga, menebak-nebak perasaan pasangan, atau hidup dalam ketakutan akan ditinggalkan.
Dalam hubungan yang sehat, intensitas memang tidak selalu hadir dalam bentuk gejolak emosi. Keintiman justru dibangun perlahan lewat rasa aman dan kedekatan emosional. Jadi, hubungan yang tentram bukan berarti kehilangan gairah atau perasaan, melainkan jadi tanda hubungan yang lebih dewasa.





:strip_icc()/kly-media-production/medias/5441889/original/058278100_1765520069-7.jpg)