Meski Bisa Datangkan Sergio Ramos, Layvin Kurzawa Jauh Lebih Masuk Akal Mengisi Kekuatan Pertahanan Persib Bandung

harianfajar
1 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, BANDUNG — Nama Sergio Ramos memang selalu menggoda. Ia legenda hidup, simbol mental juara, dan ikon sepak bola modern. Namun sepak bola profesional bukan soal romantisme, melainkan kecocokan kebutuhan dan konteks. Dalam realitas itulah Persib Bandung justru mengambil langkah paling rasional dengan merekrut Layvin Kurzawa, bukan mengejar sensasi sebesar Ramos.

Persib resmi memperkenalkan mantan bek Paris Saint-Germain tersebut di hadapan ribuan Bobotoh seusai kemenangan 1-0 atas PSBS Biak, Minggu (25/1/2026), di Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Kontrak hingga akhir musim Super League 2025/2026, plus opsi perpanjangan, menjadi sinyal jelas: ini rekrutmen berbasis kebutuhan, bukan pamor.

Persib Butuh Solusi, Bukan Monumen

Secara reputasi, Sergio Ramos jelas berada satu tingkat di atas Kurzawa. Namun justru di situlah masalahnya. Ramos adalah center back murni, berusia 39 tahun, dengan tuntutan fisik dan ritme pertandingan yang jauh berbeda dengan karakter kompetisi Indonesia dan Asia Tenggara.

Persib Bandung tidak sedang mencari monumen kejayaan masa lalu. Mereka membutuhkan pemain yang bisa langsung mengisi lubang taktik, bukan sekadar menjadi pemimpin simbolik.

Deputy CEO PT PERSIB Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan, menegaskan perekrutan Kurzawa murni rekomendasi teknis tim pelatih.

“Tim pelatih merekomendasikan perekrutannya untuk menambah kedalaman skuad di posisi yang biasa ditempatinya, yaitu bek kiri, sayap kiri, dan bek tengah.”

Kalimat itu menjadi kunci. Fleksibilitas.

Kurzawa: Jawaban Atas Banyak Masalah Sekaligus

Layvin Kurzawa bukan sekadar bek kiri. Ia adalah pemain multiperan:

Bek kiri dalam sistem empat bek

Wing-back kiri dalam formasi tiga bek

Bek tengah sisi kiri saat bertahan rendah

Dalam konteks Persib yang akan bermain di Super League dan ACL 2, kemampuan ini krusial. Jadwal padat, rotasi wajib, dan kebutuhan adaptasi cepat menuntut pemain yang bisa mengisi lebih dari satu peran tanpa mengorbankan kualitas.

Bandingkan dengan Sergio Ramos:

Posisi tunggal (center back)

Minim fleksibilitas taktik

Risiko adaptasi tinggi terhadap iklim, tempo, dan travel Asia

Kurzawa justru datang dengan profil yang lebih “siap pakai”.

Pengalaman Eropa yang Relevan, Bukan Sekadar Nama Besar

Kurzawa bukan pemain sembarangan. Ia:

Finalis Liga Champions 2019/2020 bersama PSG

Lima kali juara Ligue 1

154 pertandingan bersama PSG

14 gol dan 23 assist dari posisi bek

13 caps Timnas Prancis

Yang sering dilupakan: Kurzawa adalah bek modern dengan naluri menyerang kuat. Ia terbiasa bermain dalam sistem berintensitas tinggi, pressing, dan transisi cepat—elemen yang sangat relevan dengan gaya Bojan Hodak.

ACL 2 bukan kompetisi nostalgia. Lawan-lawan seperti Ratchaburi FC menuntut:

Intensitas tinggi

Transisi cepat

Fullback yang aktif naik-turun

Di level ini, Kurzawa lebih “hidup” ketimbang Ramos.

Kontrak Pendek, Risiko Terkendali

Satu lagi perbedaan krusial: durasi dan kontrol risiko.

Persib hanya mengikat Kurzawa hingga akhir musim, dengan opsi perpanjangan berbasis evaluasi performa. Artinya:

Tidak ada beban finansial jangka panjang

Tidak ada kewajiban mempertahankan pemain jika performa tak sesuai

Klub tetap memegang kendali penuh

Bandingkan jika Persib mendatangkan nama sekelas Ramos:

Tuntutan gaji tinggi

Ekspektasi publik berlebihan

Tekanan non-teknis di ruang ganti

Persib memilih jalan dewasa.

Bukan Anti Bintang, Tapi Pro Kebutuhan

Keputusan Persib bukan berarti menolak bintang besar. Justru sebaliknya: Persib memilih bintang yang tepat.

Kurzawa datang bukan untuk dijual sebagai poster, tetapi sebagai alat kerja:

Menambah kedalaman skuad

Memberi opsi taktik

Menularkan pengalaman Eropa

Membantu Persib bersaing di Asia

Di sepak bola modern, keputusan terbaik sering kali bukan yang paling heboh, tetapi yang paling fungsional.

Kesimpulan

Jika Persib ingin viral, Sergio Ramos adalah jawabannya.
Namun jika Persib ingin menang, stabil, dan kompetitif di Asia, maka Layvin Kurzawa adalah pilihan yang jauh lebih masuk akal.

Dan di musim ini, Persib jelas memilih menjadi tim serius, bukan sekadar klub sensasional.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bursa Asia Bergejolak, Emas Tembus US$5.000 di Tengah Panasnya Geopolitik Global
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
Bintang-Bintang yang Menyala di Piala Dunia 1934
• 21 jam lalutvrinews.com
thumb
Si TEMPUR, Cara Petani Gunungkidul Melawan Krisis Air
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Catatan Sempurna Pelita Jaya di IBL Berlanjut, Ini Kata Jeffree Withey
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
IHSG dan Rupiah Hadapi Pekan Berat: Menanti Sinyal The Fed - Aksi Konglo
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.