Si TEMPUR, Cara Petani Gunungkidul Melawan Krisis Air

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Di Dusun Karangnongko, Purwosari, Gunungkidul, Wirya Susanto menghabiskan hampir seluruh hidupnya sebagai petani. Usianya kini lebih dari delapan dekade. Tenaganya tak lagi sekuat dulu, tetapi kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi dari lahan yang telah digarapnya seumur hidup—lahan yang semakin sering berhadapan dengan kekeringan panjang. Bagi Wirya dan banyak petani lansia lainnya, persoalan utama bukan hanya soal panen, tetapi tentang keberlanjutan hidup ketika air semakin sulit dijangkau.

Kondisi geografis Gunungkidul membuat persoalan air menjadi tantangan struktural. Sebagian besar wilayahnya bertumpu pada tanah karst dan bebatuan, yang membuat air hujan sulit tertahan lama di permukaan. Ketika musim hujan semakin pendek, cadangan air cepat menghilang. Dampaknya terasa langsung pada produktivitas pertanian.

Seperti 2019 silam, ketika kemarau panjang menyebabkan sekitar 2.000 hektare lahan pertanian di Gunungkidul mengalami puso atau gagal panen. Bagi banyak keluarga petani, kegagalan panen bukan hanya soal kehilangan hasil produksi, tetapi juga ancaman terhadap pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Wagimin, petani yang telah 20 tahun menggarap lahan di Gunungkidul, mengingat betul bagaimana kekeringan berdampak langsung pada petani.

“Pernah waktu itu kita kehabisan air, terus tanaman itu sudah berbuah banyak dan membutuhkan air. Kita mau sedot dari bawah atau dari tangki itu kan beli. Beli itu tidak terjangkau, jadinya kita harus menggunakan dua diesel baru bisa sampai ke atas. Terus ya waktu itu pokoknya pasrah, kita panen dapatnya seberapa ya kita syukuri,” tuturnya saat ditemui Pandangan Jogja, Rabu (14/1).

Pada masa kekeringan ekstrem, air berubah menjadi barang mahal. Sebagian warga harus membeli air tangki dengan harga tinggi, sementara lainnya mencari sumber air alternatif di sekitar kawasan karst.

“Waktu itu pas parah-parahnya nggak ada air itu harga air per tangki Rp5 ribu per liter, bahkan sampai Rp200 ribu. Itu paling parahnya. Ada juga yang bahkan kalau ngambil air untuk minum itu di gua-gua,” ungkap petani lainnya, Suwarno. Upaya mencari sumber air tanah juga dilakukan dengan pengeboran hingga kedalaman lebih dari 80 meter. Namun hasilnya tak selalu sesuai dengan harapan.

Di tengah keterbatasan sumber air, sebagian petani masih mengandalkan cara manual untuk menyiram tanaman. Air dipikul menggunakan jerigen dari rumah atau sumber air, lalu disiram satu per satu ke tanaman menggunakan gembor. Pola kerja ini tentunya menyita tenaga dan waktu, terutama bagi petani berusia lanjut.

Menghadapi hal ini, warga tak hanya berdiam diri. Wagimin, Suwarno, dan petani lainnya yang tergabung dalam kelompok Petani Milenial Purwosari mencari cara agar sawah dan ladang mendapatkan pasokan air yang cukup tanpa membebani fisik petani yang sudah tak prima.

“Kami itu gimana ya, biar para petani lansia ini bisa tetap melakukan aktivitas pertanian tapi dengan sistem yang lebih mudah,” ujar Suwarno.

Dari proses musyawarah bersama warga dan petani lansia, lahirlah sebuah inovasi yang diberi nama Si TEMPUR—Smart Irigasi Tetes Petani Milenial Purwosari. Sistem ini dirancang untuk menyalurkan air secara bertahap langsung ke tanaman dengan tenaga minimal. Teknis alat ini sederhana: air ditampung terlebih dahulu di toren, kemudian dialirkan melalui jaringan pipa menuju selang-selang kecil yang meneteskan air langsung ke perakaran tanaman. Prinsipnya memanfaatkan gravitasi dan mengurangi ketergantungan pada penyiraman manual.

Si TEMPUR membawa perubahan pada praktik dan hasil pertanian warga Purwosari, termasuk dari segi pola tanam. Sebelum menggunakan Si TEMPUR, petani umumnya hanya menanam biji-bijian pada musim hujan. Ketika musim kemarau datang, banyak lahan dibiarkan tidak produktif karena keterbatasan air. Dengan irigasi tetes, petani masih dapat menanam tanaman hortikultura pada musim kering sekaligus menghemat penggunaan air hingga 50 persen. Jika biasanya 400 batang tanaman cabai membutuhkan 5.000 liter air, kebutuhannya dapat ditekan menjadi hanya 2.500 liter.

“Sebelum adanya Si TEMPUR itu kami cuman menanam dua kali. Awal musim penghujan padi, setelah itu kacang tanah atau kedelai. Nah, sekarang habis kacang tanah maupun kedelai, kita bisa tanam cabe. terong, sawi. Otomatis kan sudah ada peningkatan dari dua kali tanam bisa ke tiga kali. Itu yang jelas bisa meningkatkan hasil produksi pertanian dan juga meningkatkan perekonomian dari warga di daerah sini,” papar Suwarno yang menjabat sebagai Bendahara Petani Milenial Purwosari.

Pengembangan Si TEMPUR mendapat dukungan dana dan pendampingan dari YAKKUM Emergency Unit (YEU) melalui program IDEAKSI (Ide Inovasi Aksi Inklusi). Program ini mendorong lahirnya inovasi lokal berbasis kebutuhan masyarakat di wilayah rawan bencana. Ibnu Subrata, Staf Divisi Program YAKKUM Emergency Unit, menjelaskan bahwa pemetaan wilayah risiko dilakukan bersama pemangku kepentingan daerah.

“Kami bekerja sama dengan BPBD Kabupaten Gunungkidul untuk membantu menginformasikan kelompok-kelompok wilayah mana yang memiliki ancaman bencana, karena di Gunungkidul itu kan ada ancaman tsunami, longsor, gempa bumi, dan kekeringan,” kata Ibnu.

Menurut Ibnu, salah satu pertimbangan utama dalam pendampingan Petani Milenial Purwosari yakni agar kelompok rentan seperti petani lansia dan difabel dapat merasakan kemudahan akses. Oleh sebab itu, dalam merancang Si TEMPUR, YEU dan Petani Milenial Purwosari turut melibatkan masyarakat sekitar yang akan terdampak langsung dengan adanya inovasi ini.

“Makanya, baik dalam menentukan dan membangun kegiatan-kegiatan dan merancang itu juga melibatkan masyarakat setempat, terutama teman-teman atau saudara-saudara kita yang lansia,” paparnya.

Bagi petani seperti Wirya Susanto, Wagimin, dan Suwarno, keberhasilan panen menjadi harapan utama untuk menjaga keberlanjutan hidup keluarga. Di tengah tantangan kekeringan yang terus berulang, Si TEMPUR menjadi salah satu bentuk adaptasi petani Gunungkidul untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus meringankan beban kerja petani lansia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Hoaks! Arbeloa Tak Pernah Minta Trent Angkat Kaki dari Real Madrid-Dunia Olahrga
• 59 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Kapolri: Polri Terbitkan Perpol Nomor 10 Tahun 2025 Bukan untuk Melawan Putusan MK
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Polisi Periksa Reza Arap dan Teman Dekat Lula Lahfah pada Hari Ini
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Catur raup enam medali emas pada hari terakhir APG 2025
• 20 jam laluantaranews.com
thumb
OJK Catat Tren Pinjol Melonjak Selama Ramadan, Mayoritas Konsumtif
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.