Komisi I DPR menggelar rapat kerja bersama Menkomdigi Meutya Hafid. Rapat ini membahas capaian kerja Komdigi pada 2025 dan rencana Komdigi pada 2026.
Komisi I sempat meminta Komdigi untuk menertibkan marak judi online dan pinjaman online.
Anggota Komisi I Oleh Soleh mengatakan, selama masa reses kemarin, dirinya menerima banyak keluhan mengenai marak judol dan pinjol. Ia menyebut, sudah banyak masyarakat tidak mampu yang menjadi korban.
"Ketika reses kami ke daerah, saya tidak kurang tiap mendengar jeritan dari masyarakat kurang mampu akibat korban judol, mereka sampai diancam, diusir," kata Oleh di Komisi I DPR, Senin (26/1).
Politikus PKB ini menyebut, ada guru honorer yang menjadi korban. Bahkan ia sampai menggadaikan sertifikat demi menghindari tagihan.
"Yang saya mengerikan, yang jadi korban guru honorer, kita tahu guru yang begitu kita ketahui, mereka punya rumah 1 petak 5 x 3 meter, 5 x 10 meter, sampai di tenteng sertifikat dijual hanya demi dia tidak kena ancaman," kata Oleh.
"Ini gambaran, di dapil lain, pasti sama pada dasarnya ada yang berani mengungkapkan, ada yang tidak, saya yakin dan percaya masih banyak jutaan tidak berani mengungkapkan," tambah dia.
Angka transaksi judol, menurut Oleh, masih sangat besar. Ini menjadi pekerjaan bagi Komdigi.
"Soal judol kalau ibu bilang enggak bisa zero, minimal 99,9. Jangan terlalu range-nya besar. Kalau angka Rp 100 T transaksinya masih banyak, akhir-akhir ini jadi korban orang tidak mampu di daerah," kata Oleh.
Oleh juga meminta Komdigi menertibkan pinjol yang semakin marak. "Termasuk pinjol mohon ditertibkan dan bank emok sedang berkompetisi oleh sebab itu pinjol ini karena aplikasinya kebanyakan abal-abal ditertibkan," kata Oleh.
Sampai saat ini, rapat masih berlangsung.

:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/RUSDI-MASSE-Surya-Paloh-bersama-Rusdi-Masse-123.jpg)

