Dua bulan pascabencana, empat desa masih terisolasi karena jalan dan jembatan putus di Kecamatan Tukka, Kabupten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Ekonomi masyarakat di empat desa berpenduduk sekitar 1.000 keluarga itu masih lumpuh. Listrik juga belum mengalir di desa tersebut.
Empat desa terisolasi itu adalah Desa Sigiring-Giring, Sait Nihuta Kalangan II, Aek Bontar, dan Saur Manggita. Desa-desa itu berjarak 10-20 kilometer (km) dari pusat kabupaten. Sekitar 10 km di antaranya terputus karena jalan tertimbun longsor, amblas, dan jembatan putus di beberapa lokasi.
“Kami sangat terpukul selama dua bulan ini karena akses jalan ke desa kami putus total. Kami menjual hasil pertanian seperti karet, durian, dan berbagai jenis buah-buahan dengan berjalan kaki 4-8 jam sekali jalan,” kata Martahan Sitompul, warga Desa Sait Nihuta Kalangan II, Senin (26/1/2026).
Empat desa terisolasi itu berada di satu kawasan di Kecamatan Tukka. Ada belasan titik longsor dan beberapa jembatan yang putus di sepanjang jalan kabupaten tersebut. Beberapa di antaranya sudah dibangun, tetapi belum bisa menembus desa-desa terisolasi.
Martahan mengatakan, hampir semua warga di empat desa itu adalah petani. Mereka hidup dari hasil pertanian seperti durian, karet, duku, dan buah-buahan lainnya. Mereka juga bertani padi.
Namun, bencana meluluhlantakkan sejumlah rumah, jalan, jembatan, ladang dan sawah di empat desa tersebut. Sawah dan kebun-kebun di kawasan itu rusak dan gagal panen. Beberapa kebun masih menghasilkan, tetapi warga kesulitan menjual karena akses jalan yang terputus.
“Kami akhirnya hanya menjual durian kupas agar bisa kami bawa berjalan ke kota. Tapi harganya jatuh lebih dari setengah,” kata Martahan.
Martahan menyebut, warga desa sangat bergantung pada akses jalan tersebut. Bantuan dari pemerintah berupa kebutuhan dasar juga sulit masuk ke desa mereka karena akses jalan yang terputus. Beberapa keluarga masih tinggal di tenda pengungsian dan bergantung pada bantuan.
Sebelum bencana, kata Martahan, warga sudah berulang kali mengeluhkan kondisi jalan yang rusak berat.
Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu mengatakan, pemerintah bersama aparat TNI Angkatan Darat masih terus berupaya membuka akses jalan ke empat desa itu.
“Pembukaan akses jalan dan jembatan menuju empat desa itu ditargetkan rampung dan bisa diakses kendaraan roda dua dan roda empat pada Februari ini,” kata Masinton.
Menurut pendataan Pemkab Tapanuli Tengah, kata Masinton, jalan terputus di sekitar 12 lokasi. Prajurit TNI AD sudah selesai mengerjakan dua jembatan jenis armco. Petugas juga sedang mengikis tebing untuk membuka jalan yang nyaris putus karena terjangan banjir bandang dan longsor.
“Sebelum bencana, jalan menuju empat desa tersebut memang rawan longsor. Satu alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum Tapanuli Tengah sedang melakukan pembersihan jalan saat bencana terjadi. Alat berat ekskavator itu juga ikut tertimbun longsor,” kata Masinton.
Di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, warga berjibaku menggerakkan lagi roda ekonomi. “Warga desa kami sudah pindah dari tenda pengungsian ke hunian sementara. Namun, ekonomi di desa kami masih lumpuh,” kata Risman Rambe, Kepala Desa Garoga.
Risman mengatakan, warga desa mereka dan desa tetangga lain di perbatasan Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan itu juga petani karet. Mereka menutupi biaya hidup sehari-hari dari kebun karet. Namun, kebun karet di kawasan itu juga rusak berat dihantam banjir, hanya sebagian kecil yang bisa bertahan.
Desa Garoga adalah salah satu desa yang rusak paling parah akibat bencana Sumatera. Hampir semua wilayah desa yang dihuni 245 keluarga rusak. Rumah, ladang, kebun, jalan, dan jembatan rusak total dihantam banjir bandang dari Sungai Garoga yang membentang di tengah desa.
Setelah banjir melanda pada akhir November 2025, permukiman dan ladang pertanian di Desa Garoga semuanya rusak. Kayu gelondongan, lumpur, dan bebatuan menumpuk di desa itu.
Kementerian Pertanian mencatat, sawah yang terdampak bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar seluas 107.327 hektar (ha). Dari total luasan itu, 56.077 ha rusak ringan, 22.152 ha rusak sedang, dan 29.095 ha rusak berat. Kementan juga mencatat, tanaman padi dan jagung mengalami gagal panen di lahan seluas 44.600 ha.
Kementan menyiapkan Rp 1,49 triliun untuk pemulihan lahan pertanian, antara lain, untuk merehabilitasi sawah dan irigasi yang rusak ringan dan sedang sebesar Rp 736,21 miliar serta bantuan benih tanaman pangan Rp 68,6 miliar.
Risman mengatakan, Kementerian Pertanian sudah turun ke lokasi mereka untuk memperbaiki dan membuka sawah. Warga berharap, lahan pertanian mereka bisa segera diperbaiki agar ekonomi masyarakat bisa bangkit lagi.



