Harga emas telah melonjak melewati USD 5.100 per troy ounce, karena investor berbondong-bondong membeli aset safe haven di tengah ancaman Presiden AS Donald Trump tentang tarif baru terhadap Kanada dan kekhawatiran kembali terjadinya shutdown (penutupan) pemerintahan di AS.
Dikutip dari The Guardian, Senin (26/1), Trump mengancam Kanada dengan tarif 100 persen jika negara tetangga AS itu membuat kesepakatan dagang dengan China. Ini terjadi setelah konfrontasi dramatis Trump dengan Eropa mengenai masa depan Greenland.
Selain itu, ada juga risiko bahwa pemerintah AS dapat ditutup (government shutdown) untuk kedua kalinya dalam beberapa bulan, setelah Partai Demokrat mengancam akan memotong pendanaan untuk Kementerian Keamanan Dalam Negeri menyusul penembakan seorang pria di Minneapolis oleh agen imigrasi federal pada akhir pekan lalu.
Harga emas spot naik 2,2 persen mencapai rekor tertinggi baru sepanjang masa di angka USD 5.110,50 per ons. Nilainya meningkat 64 persen tahun lalu, menjadikannya kenaikan tahunan terbesar sejak 1979. Pada Januari 20206 saja, harga emas telah naik lebih dari 18 persen.
Pelemahan dolar dan pemotongan suku bunga telah menambah daya tarik emas, dan juga didorong oleh pembelian bank sentral dan rekor arus masuk ke dana yang diperdagangkan di bursa (ETF).
Harga perak juga terus naik setelah menembus angka USD 100 per ons pada Jumat (23/1). Harga perak spot naik 4,5 persen menjadi USD 107,6 per ons, setelah mencapai rekor tertinggi USD 109,44.
Analis senior di Swissquote, Ipek Ozkardeskaya, mengatakan bahwa larinya investor kepada aset safe haven ini mengejutkan karena tanpa ada berita geopolitik yang besar pada pagi hari ini.
"Tidak ada eskalasi baru selama akhir pekan, tidak ada pelanggaran hukum internasional baru, tidak ada invasi, tidak ada ancaman militer langsung. Namun, AS memang mengancam Kanada dengan tarif 100 persen, setelah Mark Carney mendekati China minggu lalu, menentang Gedung Putih, sebuah pengingat bahwa ketegangan perdagangan masih tetap ada," jelasnya.
Ipek menambahkan, pekan lalu ditandai dengan peningkatan dan penurunan sebagian atas ketegangan geopolitik dan perdagangan antara AS dan Uni Eropa, serta meningkatnya tekanan seputar utang publik Jepang.
"Terakhir memicu aksi jual tajam obligasi pemerintah Jepang, mendorong beberapa imbal hasil obligasi pemerintah Jepang jangka panjang ke level tertinggi dalam beberapa dekade, dan dalam beberapa kasus mencapai rekor tertinggi," katanya.
Sementara itu, mata uang Jepang Yen melonjak pada Jumat dan naik 1 persen menjadi JPY 154,06 per dolar hari ini, memicu spekulasi tentang potensi intervensi.
Menurut laporan Reuters yang mengutip sumber, Federal Reserve New York melakukan pengecekan suku bunga pada Jumat, meningkatkan kemungkinan intervensi bersama AS-Jepang untuk menghentikan penurunan nilai mata uang tersebut.




