Aisyah si perenang sungai raih emas APG 2025

antaranews.com
23 jam lalu
Cover Berita
Nakhon Ratchasima (ANTARA) - Dari arus sungai di kampung ke podium Asia Tenggara, dari riak permainan ke gelombang prestasi. Beginilah perjalanan yang ditempuh Siti Aisyah hingga mengharumkan nama Indonesia.

Nama Siti Aisyah mendadak menjadi perbincangan di arena para renang ASEAN Para Games (APG) 2025 Thailand, di Aquatic Center, 80th Birthday Anniversary Stadium, Nakhon Ratchasima.

Dalam umur yang masih belia, 15 tahun, dan berstatus debutan, atlet putri para renang Indonesia itu tampil tanpa beban, berenang tanpa gentar, dan pulang membawa dua medali emas serta tiga perunggu.

Prestasi tersebut tak hanya melampaui target pribadi, tetapi juga menegaskan lahirnya talenta masa depan dari lintasan air bagi tim Merah Putih.

Sebagai yang termuda di tim para renang Indonesia, dia tampil di lima nomor lomba dan mencatat hasil terbaik pada nomor 100 meter dan 200 meter gaya punggung kelas S14.

Dua emas itu terasa istimewa karena salah satunya diraih dengan mengungguli perenang unggulan Thailand, Nattharinee Khajhonmatha yang selama ini memegang rekor di kelas tersebut.

Debut di ajang sekelas ASEAN Para Games tak membuatnya gentar, justru menjadi panggung pembuktian.

Keberhasilan Aisyah turut memperkaya perolehan medali kontingen Indonesia yang tampil solid sepanjang perhelatan.

Di tengah ketatnya persaingan para renang Asia Tenggara, atlet muda asal Kota Padang, Sumatera Barat, itu mampu menjaga konsistensi sejak babak penyisihan hingga final, mengayuh air dengan irama tenang dan dorongan keyakinan.

"Awalnya hanya menargetkan satu nomor saja, saya hanya mengikuti arahan pelatih dan berusaha maksimal, soal menang atau kalah belakangan," ujar dia.



Sering berenang di sungai

Jejak prestasi putri dari pasangan Imam Wahyudi dan Iya Diana Sari berawal jauh dari kolam berstandar internasional.

Dia tumbuh dengan kebiasaan sederhana: berenang di sungai dekat rumah.

Sepulang sekolah, Aisyah kerap bermain bersama teman-teman sebaya. Sungai menjadi ruang belajar, tempat bersenang-senang, sekaligus arena latihan tanpa sadar.

Kebiasaan itu kemudian menarik perhatian keluarga.

Seorang kerabat yakni ipar ibunya, Rika Astika, menyarankan kepada Aisyah untuk mengikuti les renang, agar kemampuannya lebih terarah dan aman.

Dukungan pun datang, termasuk pembiayaan latihan yang ditanggung perempuan yang kerap disapa Bunda oleh dia.

Dari situlah Aisyah mulai mengenal teknik dasar renang secara formal saat duduk di bangku kelas empat sekolah dasar (SD).

Perjalanan awal itu tidak selalu mulus. Rasa lelah dan jenuh sempat membuatnya berhenti latihan selama beberapa pekan.

Namun kecintaan pada air membuatnya kembali, pelan tetapi pasti, mengasah kemampuan. Renang yang awalnya sekadar permainan berubah menjadi jalur pembinaan prestasi.

Ketekunan itu akhirnya berbuah perhatian dari pengurus National Paralympic Committee (NPC) Sumatera Barat.

Aisyah dinilai memiliki potensi besar, terutama pada nomor gaya punggung.

Dengan karakter kuat di air dan daya tahan yang terus berkembang, dia mulai diarahkan ke jalur kompetisi yang lebih terstruktur.



Jauh dari orang tua

Pada usia 12 tahun atau kelas enam SD, perempuan kelahiran 1 September 2010 itu mendapat tawaran mengikuti pembinaan atlet oleh Pemerintah Indonesia.

Tawaran itu bukan perkara mudah untuk diterima. Dia harus meninggalkan kampung halaman dan tinggal jauh dari orang tua.

Setelah melalui diskusi dengan keluarga, Aisyah memilih menerima tantangan tersebut.

Dia pindah ke Kota Solo, Jawa Tengah, untuk mengikuti pembinaan di Sentra Khusus Olahraga Disabilitas Indonesia (SKODI).

Di sana, remaja itu hidup bersama calon atlet lainnya, menjalani rutinitas latihan yang ketat, disiplin tinggi, dan jadwal padat.
Lebih dari 2 tahun dia beradaptasi dengan kehidupan mandiri.

Rindu rumah menjadi teman setia, tetapi tekad untuk berkembang menjadi bahan bakar utama. Lingkungan pembinaan yang terstruktur membuatnya semakin matang, baik secara fisik maupun mental.

Aisyah terdeteksi memiliki hambatan perkembangan intelektual atau tunagrahita saat menduduki kelas empat SD.

Kondisi tersebut membuatnya lebih unggul dalam aktivitas psikomotorik, termasuk olahraga. Renang menjadi medium ekspresi, tempat dia merasa bebas, fokus, dan percaya diri.

Di lintasan kolam, Aisyah menemukan dunianya. Setiap kayuhan tangan dan gerakan kaki menjadi bahasa perjuangan.

Berjauhan dari orang tua justru menempa kemandirian, membangun daya juang, dan memperkuat mental bertanding.



Tetap ingin sekolah

Meski prestasi olahraga kian menanjak, Aisyah mengaku tak ingin meninggalkan pendidikan.

Dia menyadari bahwa masa depan tak hanya dibangun di atas podium, tetapi juga di ruang kelas.

Saat persiapan APG 2025, dia sempat absen sekolah beberapa pekan. Namun niat untuk kembali belajar tetap terjaga.

Sekembalinya ke Tanah Air, Aisyah bertekad melanjutkan pendidikan sembari menjalani latihan rutin. Saat ini, dia tercatat sebagai siswa kelas delapan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Surakarta.

Baginya, sekolah dan olahraga adalah dua jalur yang harus berjalan beriringan.

Prinsip itu ditanamkan keluarga sejak awal. Orang tua selalu menekankan pentingnya usaha maksimal tanpa terbebani hasil.

Nilai tersebut menjadi pegangan Aisyah dalam setiap perlombaan, termasuk saat menghadapi lawan-lawan senior di APG 2025.

Kemenangan atas perenang unggulan Thailand pada nomor 100 meter gaya punggung S14 menjadi momen paling berkesan.

Tanpa persiapan khusus menghadapi lawan tertentu, dia fokus pada strategi sendiri, menjaga ritme, dan mengeksekusi instruksi pelatih dengan disiplin.

Prestasi di Thailand menjadi bukti bahwa pembinaan jangka panjang, dukungan keluarga, dan ketekunan mampu melahirkan hasil manis.

Dari sungai kecil di kampung halaman hingga kolam internasional, Aisyah menorehkan kisah tentang proses, kesabaran, dan keberanian bermimpi.

Dengan usia yang masih muda, peluang Aisyah masih terbentang luas.

Dia diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung para renang Indonesia pada ajang-ajang internasional mendatang.

Namun bagi Aisyah, pencapaian tertinggi bukan sekadar medali, melainkan kemampuan untuk terus belajar, berkembang, dan membanggakan orang tua serta bangsa.

Dari riak sungai ke gelombang prestasi, dari kampung halaman ke panggung Asia Tenggara, Siti Aisyah berenang melawan batas, mengayuh harapan, dan mengukir masa depan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Truk Sampah Mogok di Gatsu Arah Kuningan, Lalin Padat
• 9 jam laludetik.com
thumb
KPK: Perhitungan Kerugian Negara di Kasus Kuota Haji Masuk Tahap Akhir
• 18 jam laludetik.com
thumb
Cek Fakta: Presiden Prabowo Tegaskan Keamanan Palestina dalam Solusi Dua Negara
• 3 jam lalutvrinews.com
thumb
Forum Warga Minta Pemprov DKI Tak Hanya Andalkan OMC untuk Atasi Banjir
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Kasatgas Tito Pimpin Rakor Pembahasan Bantuan Rumah-Bantuan Sosial Pascabencana
• 20 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.