Semua orang bisa jadi korban love scam. Seorang dokter yang berniat mencari jodoh, misalnya, terjerat penipuan yang berujung petaka: isi rekening ratusan juta sirna dalam sekejap dikuras komplotan penipu asmara.
***
Akhir pekan itu, 13 Oktober 2024, di tengah kesibukan piket jaga UGD, Via seperti lepas akal. Hilang kesadaran. Tiba-tiba ia menguras isi rekeningnya untuk ditransfer ke orang yang match dengannya di aplikasi kencan lima hari sebelumnya.
Via (nama samaran) mulai serius mencari pasangan hidup setelah separuh usia mudanya dihabiskan untuk menggapai profesi dokter. Kini usianya 31 tahun. Lima tahun lalu ia memperoleh gelar dokter dan bertugas di salah satu rumah sakit di Jakarta. Segalanya telah ia raih, kecuali jodoh.
Hari-hari ia habiskan mengejar gelar dokter. Tak ada waktu untuk pacaran. Ia tak pernah menjalin hubungan dengan pria. Maka tahun 2025, ia berpikir sudah waktunya mencari suami. Ia ingin menjalin percintaan dan menempuh siklus hidup seperti orang kebanyakan: sekolah, kerja, nikah, lalu memiliki anak.
Tekad mencari suami membawa Via pada sebuah aplikasi kencan online. Di sana ia match dengan seorang pria yang memiliki foto profil lumayan. Tidak tampan, tapi cukup mengetuk hati Via untuk melanjutkan komunikasi ke ruang obrolan WhatsApp. Percakapan terjalin. Proses PDKT dimulai.
Love bombing yang dilancarkan si pria membuat Via nyaman. Ia diminta menghapus aplikasi kencan yang mempertemukan mereka dan sepenuhnya bermigrasi ke percakapan WhatsApp. Obrolan mereka terus bergulir melalui pesan dan sambungan telepon. Namun tak pernah video call apalagi bertemu langsung.
Via sebenarnya tak langsung menaruh hati. Hanya saja, pria tersebut masuk pertimbangannya karena ia merasa cocok saat mengobrol, ditambah profil si pria yang menjanjikan: tinggal di Kalimantan dan bekerja di perusahaan tambang raksasa di Indonesia.
“Cuma obrolan sehari-hari doang ... Mungkin karena aku juga nyarinya kayak [calon] suami, jadi ngobrolnya hal-hal yang serius gitu, [misal] nanyain pekerjaan,” cerita Via kepada kumparan, Kamis (22/01).
Tanpa ada kecurigaan sedikit pun, Via menyambung hubungan dengan pria tersebut di obrolan WhatsApp. Proses pendekatan awal terus berlanjut hingga 13 Oktober 2024—hari kelima sejak mereka pertama kali match di aplikasi kencan.
Hari itu awalnya berjalan seperti biasa. Via berangkat kerja karena kebagian piket jaga akhir pekan. Di rumah sakit, di sela kesibukan melayani pasien, Via yang hatinya agak berbunga-bunga menyempatkan waktu merespons telepon dari pria “calon suami” yang baru dikenalnya itu.
Tak dinyana, sambungan telepon tersebut berbuah petaka. Mulanya call tersebut biasa-biasa saja—si pria dengan buain manisnya menaruh perhatian untuk Via. Tapi dalam kalimat-kalimat itu terselip permintaan agar Via berkenan mengirimkan pulsa untuk beberapa nomor. Via yang sedang sibuk melayani pasien, mengiyakan saja.
Ia diminta mengisi pulsa untuk beberapa nomor telepon dengan total sekitar Rp 500 ribu. Karena mobile banking tak menyediakan pulsa Rp500 ribu, jadinya Via mengirimkan uang. Si pria beralasan, pulsa tersebut untuk menghubungi anak buahnya yang sedang angkut material tambang. Karena dalam kondisi sibuk melayani pasien, Via begitu saja mentransfer uang ke pria tersebut.
“Aku iyain karena posisiku lagi jaga IGD, jadi ya sudahlah, biar cepet aja,” kata Via menggambarkan situasi saat itu.
Si pria, Bagas, berjanji kepada Via akan mengembalikan uang tersebut dengan bunga Rp 50 ribu. Bagas berdalih, uang pinjaman itu akan digunakan untuk urusan usaha tambangnya.
Namun, urusan meminjam duit tak berhenti di situ. Via masih terus diminta mengirimkan dana tambahan. Lagi dan lagi, Via mengiyakan—dari awalnya hanya Rp 500 ribu berkembang menjadi jutaan rupiah.
“Aku kirimin lagi Rp 2 juta, terus lama-lama jadi Rp 5 juta, jadi Rp 10 juta; pokoknya sampai uang tabungan aku bener-bener habis. Itu sudah di angka seratusan [juta],” kata Via.
Sudah meminta lebih dari Rp 100 juta pun, Bagas belum puas. Ia masih ingin dana tambahan, sementara Via juga masih saja mengikuti kemauan lelaki yang baru ia kenal lima hari itu.
Via sempat menanyakan mengenai pengembalian uang yang sebelumnya telah dikirimkan. Bagas menjawab, untuk mengembalikan uang ratusan juta tadi, Via harus menyetorkan sejumlah uang berikutnya. Dan syarat itu diiyakan Via meski isi rekeningnya sudah kosong.
Via bahkan diarahkan untuk meminjam uang kepada orang-orang terdekatnya dengan alasan yang didiktekan oleh pria tersebut: ada keluarganya sakit dan ia membutuhkan dana banyak, sedangkan mobile banking-nya eror.
Ya, Via disuruh mengarang alias berbohong. Dan anehnya, Via mengiyakan begitu saja suruhan itu. Ia menghubungi semua temannya untuk meminjam uang dengan alasan keluarganya ada yang masuk rumah sakit sehingga ia butuh uang tapi mobile banking miliknya bermasalah. Persis alasan yang didiktekan Bagas.
Teman-teman Via percaya dan ramai-ramai meminjamkan uang. Ada yang memberi Rp 20 juta, Rp 10 juta, Rp 30 juta, hingga total terkumpul Rp 100 juta dari delapan orang. Uang tersebut selanjutnya ditransfer kepada Bagas.
“Akhirnya [total] habis sekitar Rp 220 juta,” ucap Via.
Ya, total uang yang ditransfer Via ke lelaki yang mengaku bernama Bagas itu mencapai Rp 220 juta, dengan rincian Rp 120 juta dari tabungan pribadinya, dan Rp 100 juta dari pinjaman teman-teman.
Yang mencengangkan, uang sebanyak itu raib hanya dalam sehari.
“48 kali transaksi [dalam satu hari] pokoknya,” kata Via.
Kenalan baru lima hari; hari keenam sudah tertipu habis-habisan.
Hari itu, saat melakukan 48 kali transferan, Via tak sadar sedang berada dalam kendali sindikat penipu. Ia percaya uang yang ia kirim itu untuk kebutuhan perusahaan tambang Bagas, dan yakin uangnya akan dikembalikan.
Esoknya, Via seperti terbangun. Ia baru sadar tabungannya ludes dan Bagas menghilang. Pria itu tak bisa dihubungi.
“Pas aku telepon, udah nggak bisa. [Nomorku] udah diblok,” ujar Via.
Dunia Via seketika runtuh. Ia menangis dan hampir gila; tak kuasa menerima kenyataan bahwa ia telah melakukan tindakan di luar akal sehat.
Ia mengutuk perbuatannya itu sebagai keputusan bodoh. Nyatanya nasi sudah jadi bubur. Kejadiannya begitu cepat—hanya dalam sehari. Seperti di luar kendali Via.
“Kayak ada hipnotisnya,” tambah Via.
Via dihantam kesialan bertubi-tubi. Alih-alih mendapat jodoh, tabungannya malah terkuras sampai nol rupiah. Ditambah lagi ia masih harus melunasi utang ke teman-temannya.
Di masa krisis itu, keluarga tak menyalahkan Via.
“Respons keluarga, mungkin karena Ibu takut aku gila, jadi cuma menenangkan doang. Tapi sebenarnya pasti marah,” kata Via.
Lapor Polisi tapi Tak Ada HasilPukulan bagi Via belum berhenti. Usai kena tipu, tak ada yang bisa menolongnya. Ia melapor ke polisi tapi sia-sia belaka.
Ia terjerat scamming 13 Oktober, dan membuat laporan ke Polda Metro Jaya pada 14 Oktober. Ia memohon bantuan untuk melacak kontak WhatsApp yang digunakan pelaku, tapi petugas yang melayaninya mengatakan, kontak pelaku sudah tak aktif, susah dilacak.
“Polisi cuma kayak, ‘Mana nomor teleponnya?’ Terus aku kasih nomor teleponnya. Ditelepon nggak aktif, dia (petugas) cuma bilang kayak ‘Oh, ini handphone-nya udah nggak aktif, nggak bisa dilacak,’” kata Via menirukan ucapan petugas itu saat ia membuat pengaduan ke polisi.
Mendengar jawaban itu, Via hanya bisa menangis sambil membatin, “Gue ngapain ke polisi, Bambang! Gue bisa ke konter pulsa aja [kalau cuma cek nomor aktif atau enggak],” timpalnya kesal.
Via sempat berharap pada polisi, sebab aparat biasanya punya alat canggih untuk melacak transaksi atau tindak penipuan online. Terlebih, dalam laporannya, Via juga mencantumkan nama dan rekening bank yang jadi tujuan transfer. Inilah nomor rekening yang digunakan lelaki yang menipunya.
Dari bukti transfer yang diperlihatkan Via, tertulis tujuan pengiriman adalah rekening atas nama PT Order Kuota Evolusi.
Via awalnya berharap data tersebut menjadi pintu masuk pelacakan. Namun harapan tinggal harapan. Hingga kini uang Via tak kembali dan pelaku penipuan entah di mana.
Vina menduga, pelaku tak hanya satu, tapi berkomplot. Sebab, di awal Via diminta mengirimkan uang, Bagas beberapa kali menyambungkannya dengan orang lain. Dia bilang, orang lain di line telepon itu adalah bosnya. Si “bos” meyakinkan Via bahwa uang akan dikembalikan.
Kendati telah membuat laporan, menceritakan detail kejadian, hingga menyertakan bukti percakapan dan bukti transfer, uang Via tetap tak terselamatkan.
Via mencoba melacak pelakunya secara mandiri. Ia kembali mengunduh aplikasi kencan online yang mempertemukannya dengan Bagas; berharap bisa melihat profilnya lagi di aplikasi itu untuk melacaknya, atau setidaknya mendapatkan kontak komplotan pelaku. Namun usaha itu tak berbuah.
Via juga mendatangi bank yang membuka rekening untuk si pelaku. Ia meminta tolong agar pihak bank bersedia membantunya melacak pelaku.
Selain itu, Via menghubungi penyedia aplikasi kencan. Singkatnya, segala upaya yang bisa ia lakukan, ia coba. Tapi hasilnya sama: nihil.
Kini Via hanya berharap keajaiban datang: pelaku ditangkap, uang dikembalikan.
“Di negara ini, kalau kita celaka, ya jatuh aja, enggak ada pengamannya. Tanggung sendiri,” kata Via.
“Sampai sekarang [saya] masih mencicil [utang ke teman-teman]. Gimana lagi, mau minta tolong polisi, tapi gitu,” imbuhnya.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, membenarkan ada laporan Via yang masuk ke mereka. Namun hingga kini prosesnya masih berjalan.
Budi mengatakan, pihaknya sudah memanggil Via untuk dimintai keterangan dan klarifikasi sebagai pelapor namun waktunya selalu tak tepat. "Jadi korban itu sudah beberapa kali diminta hadir, selalu mundur," kata Budi saat dikonfirmasi, Senin (26/01).
September 2024, sebulan sebelum Via ditipu, aplikasi penyedia produk digital, PT Order Kuota Evolusi Digital, menyampaikan kepada publik bahwa nama perusahaan mereka kerap dicatut untuk tindak penipuan berbasis online, dengan alasan kerja sama pengadaan pulsa.
“Pelaku biasanya terlebih dahulu menjalin hubungan percintaan dengan korban secara online. Modusnya, pelaku mengaku bekerja di perusahaan besar…” kata Legal PT Order Kuota, Johan Avie, seperti dilaporkan Berita Jatim.
Perusahaan itu mengimbau masyarakat tidak mudah percaya kepada orang yang baru dikenal.
Semua Bisa Kena Love ScamCerita Via bukan satu-satunya. Komunitas Relawan Siaga Cerdas - Waspada Scammer Cinta (RSC-WSC), perkumpulan yang aktif mengedukasi, mengadvokasi, dan memberi bantuan psikologis korban love scam, mencatat bahwa terdapat peningkatan aduan kasus ini dari tahun ke tahun.
Pada 2016, WSC yang baru berdiri hanya menerima aduan dari sekitar 19 korban. Lompat ke tahun 2020, korban yang tercatat di WSC mencapai 119 orang. Lalu di tahun 2024, korban masih ratusan, 111 orang.
Ratusan korban itu berasal dari berbagai kalangan dan status pendidikan—muda dan tua; berpendidikan tinggi dan rendah. Love scamming tak pandang bulu. Semua bisa terjerat; semua bisa jadi korban.
Love scamming membuat banyak orang sengsara. Mereka yang terkuras hartanya dan terguncang mentalnya, bukan tak mungkin berujung mengakhiri hidup.
WSC pernah menerima aduan tentang korban perempuan di Kalimantan yang tewas di kamarnya. Ia mengakhiri hidup setelah terjerat love scamming. Kala itu, tenda biru sudah terpasang, tapi pengantin laki-laki tak kunjung datang.
“Sampai keesokan harinya, dia enggak datang-datang. Si pengantin perempuan masuk ke kamar. Pas digedor, digebrak pintunya, sudah meninggal,” kata Ketua WSC Diah Agung Esfandari kepada kumparan, Kamis (23/1).
Menarget banyak korban, love scamming punya pola sama. Bahayanya, tindak penipuan ini bisa muncul di semua platform sosial media, baik aplikasi kencan, aplikasi belanja online, sampai aplikasi pencarian kerja.
Dari berbagai aplikasi itu, pelaku menghubungi korban dengan tahapan serupa. Diawali perkenalan cepat dan taktik love bombing yang mengindikasikan pelaku cenderung buru-buru dalam menjalin hubungan: kenal, langsung minta sesuatu.
Pelaku akan membombardir calon korban dengan perhatian dan berbagai hal yang bisa memikat korban. Tujuannya satu: membuat korban nyaman dan mersakan kecocokan sehingga ia lebih mudah dikendalikan.
Via mengalami hal tersebut. Mulanya hanya perkenalan, lalu semua proses berlangsung cepat hingga berlanjut ke komunikasi intens. Pada tahap ini, Via sudah masuk ke jerat permainan pelaku. Ia dengan mudah dikendalikan dan mengikuti semua permintaan pelaku.
Dari pengalaman pahitnya, Via berbagi tips untuk mengenali modus love scam. Ciri utamanya: foto profil selalu good looking, dan mengaku punya pekerjaan mapan.
Ciri lainnya: nama pelaku tak bisa dilacak secara tepat di internet. Nama yang mereka gunakan cenderung tak memiliki alamat media sosial. Bila pun ada, akunnya selalu baru dengan followers terdiri dari akun aneh-aneh.
Ciri yang tak kalah penting: komunikasi hampir selalu via panggilan telepon. Pelaku meminimalisasi penggunaan pesan teks. Rupanya, panggilan telepon lebih cepat dan efektif untuk mengelabui korban; berbeda dengan pesan teks yang pengaruhnya lebih lambat karena calon korban butuh proses untuk membaca—dan mencerna—isinya terlebih dahulu sebelum membalas pesan.
“Setiap transaksi (minta duit) juga pasti lewat telepon,” kata Via.
Untuk itu, RSC-WSC membagikan tiga tips untuk menghindari love scam: 1) Jangan mau buru-buru menjalin hubungan; 2) Jangan sungkan mengatakan “tidak” atau menolak permintaan lawan bicara; 3) Jangan mau dimintai uang.
“Kalau mereka (korban love scam) enggak bisa berkata ‘tidak’ karena sungkan, delete saja nomornya [pelaku], enggak usah ditanggapi,” kata Diah.
“Penipuan sekarang banyak banget caranya. Benar-benar harus hati-hati,” pesan Via, berharap korban love scam tak makin banyak.



