Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menegaskan proses seleksi masuk TNI dilakukan secara ketat dan tidak dipungut biaya.
Pernyataan ini disampaikannya merespons fenomena Warga Negara Indonesia (WNI) yang bergabung dengan militer negara lain, termasuk Amerika Serikat.
Maruli menepis anggapan seleksi ketat di TNI disebabkan adanya praktik pembayaran. Menurutnya, ketatnya seleksi semata-mata karena pemeriksaan menyeluruh terhadap kemampuan dan kesehatan calon prajurit.
“Itu haknya dia pribadi. Ya kalau memang kita lihat kualitas seleksinya, di kita seleksinya lebih ketat. Tapi bukan karena bayar. Kita cek semua kesehatannya, kemampuannya,” jelas Maruli di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/1).
Ia menegaskan dirinya juga tidak pernah membayar untuk menjadi prajurit TNI. Maruli menyebut, pilihan seseorang untuk bergabung dengan militer negara lain merupakan hak pribadi.
“Saya juga menjadi tentara enggak pernah bayar. Kalau dia mau jadi tentara di sana sebaiknya ya enggak usah berkomentar di sini,” katanya.
Terkait status kewarganegaraan WNI yang bergabung dengan tentara asing, Maruli meminta agar hal tersebut ditanyakan kepada pihak berwenang.
“Kalau status warga negaranya tanya imigrasi,” tuturnya.
Maruli memandang fenomena WNI bergabung dengan tentara negara lain sebagai hal biasa. Ia pun menegaskan bahwa hal itu tidak berdampak pada minat masyarakat untuk menjadi prajurit TNI.
“Ya biasa aja, anggota prajurit kita masih banyak yang mau jadi tentara di sini, orang Indonesia,” kata dia.
Maruli menegaskan fenomena itu tidak ada masalah, kecuali tudingan adanya pungutan biaya masuk TNI.
“Nggak ada masalah. Cuma yang jadi masalah kok tega-teganya bilang harus bayar. Gimana bayarnya?” ungkap Maruli.
Maruli menegaskan TNI selalu melakukan pengawasan melalui tim pemeriksa. “Selalu, kita selalu ada tim pemeriksa untuk itu,” kata Maruli.
“Ya kalau ada kejadian-kejadian tertangkap, itu ada di mana-mana,” lanjutnya.
Sebelumnya, mencuat kembali kasus WNI yang bergabung dengan militer negara lain. Terbaru, beredar video di media sosial yang memperlihatkan seorang gadis WNI bernama Kezia Syifa berpamitan dengan orang tuanya sambil mengenakan seragam militer Amerika Serikat.
Kasus serupa juga pernah terjadi pada Brigadir Polisi Dua (Bripda) Muhammad Rio, anggota Brimob Polda Aceh yang disersi dan bergabung dengan tentara Angkatan Bersenjata Rusia.
Selain itu, Satriya Arta Kumbara, mantan prajurit Korps Marinir TNI AL, juga diketahui bergabung menjadi tentara Rusia dan terlibat dalam operasi militer di Ukraina.



