Probolinggo, Jawa Timur (ANTARA) - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengatakan Museum Tengger yang telah direvitalisasi dapat menjadi pusat edukasi, budaya, dan informasi tentang Suku Tengger untuk wisatawan yang berkunjung di kawasan Gunung Bromo.
"Saya mengajak wisatawan yang berkunjung ke kawasan Gunung Bromo tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga menyempatkan diri mengunjungi Museum Tengger untuk memahami lebih dalam budaya masyarakat Tengger," katanya saat meresmikan revitalisasi Museum Tengger di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Senin.
Peresmian revitalisasi Museum Tengger tersebut ditandai dengan pemotongan untaian bunga dan penandatanganan prasasti oleh Menbud Fadli Zon yang didampingi Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo Fahmi AHZ.
"Alhamdulillah, hari ini revitalisasi Museum Tengger telah selesai. Saya mengapresiasi setinggi-tingginya kerja sama Pemerintah Kabupaten Probolinggo dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur dalam mewujudkan hal itu," tuturnya.
Fadli Zon mengatakan pihaknya telah meninjau kondisi Museum Tengger beberapa bulan lalu saat menghadiri upacara Yadnya Kasada. Sejak saat itu, pihaknya langsung merespons perlunya revitalisasi museum tersebut.
"Rehabilitasi dan revitalisasi museum merupakan bagian penting dari komitmen bersama dalam melestarikan warisan budaya, tradisi serta adat istiadat masyarakat Suku Tengger yang telah mengakar kuat dari generasi ke generasi," katanya.
Baca juga: Menbud resmikan Pendopo Pate Alos di Situbondo
Museum Tengger yang terletak di kaki Gunung Bromo ini menyimpan berbagai ekspresi budaya berupa benda pusaka bersejarah, dokumentasi, busana adat serta beragam artefak budaya lainnya. Koleksi tersebut mencerminkan nilai-nilai leluhur dan tradisi, termasuk upacara Yadnya Kasada, yang membentuk identitas serta pola kehidupan masyarakat Tengger.
"Masyarakat Tengger telah menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar warisan, tetapi juga sumber kekuatan. Nilai harmoni antara manusia dan alam, sesama manusia, serta dengan Sang Pencipta, termasuk semangat gotong royong, merupakan jati diri yang harus terus dijaga dan dilestarikan," ujarnya.
Sementara itu, Wabup Probolinggo Fahmi AHZ mengatakan Museum Tengger merupakan pusat informasi budaya masyarakat Tengger yang memiliki nilai sejarah tinggi. Museum itu dibangun dengan tujuan sebagai ruang edukasi, dokumentasi, serta pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi mendatang.
"Harapan kami, Museum Tengger menjadi wujud nyata perhatian pemerintah pusat terhadap pelestarian warisan budaya bangsa, khususnya budaya masyarakat Tengger yang sarat nilai historis, filosofis dan kearifan lokal," katanya.
Ia berharap Museum Tengger dapat berkembang sebagai pusat kajian kebudayaan sekaligus destinasi wisata edukasi yang memperkuat identitas Kabupaten Probolinggo sebagai daerah yang kaya akan budaya dan tradisi.
Baca juga: Menbud dorong Candi Jabung jadi ekosistem budaya di Probolinggo
"Semoga Museum Tengger menjadi pusat kajian kebudayaan dan destinasi wisata edukasi yang memperkuat identitas Kabupaten Probolinggo sebagai daerah yang kaya akan budaya dan tradisi," ujarnya.
"Saya mengajak wisatawan yang berkunjung ke kawasan Gunung Bromo tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga menyempatkan diri mengunjungi Museum Tengger untuk memahami lebih dalam budaya masyarakat Tengger," katanya saat meresmikan revitalisasi Museum Tengger di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Senin.
Peresmian revitalisasi Museum Tengger tersebut ditandai dengan pemotongan untaian bunga dan penandatanganan prasasti oleh Menbud Fadli Zon yang didampingi Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo Fahmi AHZ.
"Alhamdulillah, hari ini revitalisasi Museum Tengger telah selesai. Saya mengapresiasi setinggi-tingginya kerja sama Pemerintah Kabupaten Probolinggo dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur dalam mewujudkan hal itu," tuturnya.
Fadli Zon mengatakan pihaknya telah meninjau kondisi Museum Tengger beberapa bulan lalu saat menghadiri upacara Yadnya Kasada. Sejak saat itu, pihaknya langsung merespons perlunya revitalisasi museum tersebut.
"Rehabilitasi dan revitalisasi museum merupakan bagian penting dari komitmen bersama dalam melestarikan warisan budaya, tradisi serta adat istiadat masyarakat Suku Tengger yang telah mengakar kuat dari generasi ke generasi," katanya.
Baca juga: Menbud resmikan Pendopo Pate Alos di Situbondo
Museum Tengger yang terletak di kaki Gunung Bromo ini menyimpan berbagai ekspresi budaya berupa benda pusaka bersejarah, dokumentasi, busana adat serta beragam artefak budaya lainnya. Koleksi tersebut mencerminkan nilai-nilai leluhur dan tradisi, termasuk upacara Yadnya Kasada, yang membentuk identitas serta pola kehidupan masyarakat Tengger.
"Masyarakat Tengger telah menunjukkan bahwa budaya bukan sekadar warisan, tetapi juga sumber kekuatan. Nilai harmoni antara manusia dan alam, sesama manusia, serta dengan Sang Pencipta, termasuk semangat gotong royong, merupakan jati diri yang harus terus dijaga dan dilestarikan," ujarnya.
Sementara itu, Wabup Probolinggo Fahmi AHZ mengatakan Museum Tengger merupakan pusat informasi budaya masyarakat Tengger yang memiliki nilai sejarah tinggi. Museum itu dibangun dengan tujuan sebagai ruang edukasi, dokumentasi, serta pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi mendatang.
"Harapan kami, Museum Tengger menjadi wujud nyata perhatian pemerintah pusat terhadap pelestarian warisan budaya bangsa, khususnya budaya masyarakat Tengger yang sarat nilai historis, filosofis dan kearifan lokal," katanya.
Ia berharap Museum Tengger dapat berkembang sebagai pusat kajian kebudayaan sekaligus destinasi wisata edukasi yang memperkuat identitas Kabupaten Probolinggo sebagai daerah yang kaya akan budaya dan tradisi.
Baca juga: Menbud dorong Candi Jabung jadi ekosistem budaya di Probolinggo
"Semoga Museum Tengger menjadi pusat kajian kebudayaan dan destinasi wisata edukasi yang memperkuat identitas Kabupaten Probolinggo sebagai daerah yang kaya akan budaya dan tradisi," ujarnya.




