Indonesia Economic Summit (IES) 2026 tidak hanya membahas arah kebijakan ekonomi.
IDXChannel – Indonesia Economic Summit (IES) 2026 tidak hanya membahas arah kebijakan ekonomi, tetapi juga menyiapkan produk dan inisiatif konkret untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Tiga sektor utama yang akan menjadi fokus hasil IES adalah sektor ekonomi hijau melalui bioekonomi, investasi perkotaan, dan pekerja migran.
Hal tersebut disampaikan Chief Operating Officer (COO) Indonesia Business Council (IBC) William Sabandar dalam konferensi pers menjelang pelaksanaan IES 2026. Menurutnya, tantangan utama Indonesia saat ini bukan lagi pada perumusan kebijakan, melainkan pada eksekusi dan implementasi agar kebijakan dapat menjadi proyek nyata.
“Kebijakan yang bagus dan lingkungan yang baik harus diikuti dengan bagaimana mengimplementasikannya. Karena eksekusi itu sangat penting,” ujarnya dalam konferensi pers Indonesia Economy Summit 2026 (IES), Jakarta, (26/1/2026) .
Sektor pertama yang akan didorong adalah ekonomi hijau melalui bioekonomi. Indonesia dinilai memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar, namun pemanfaatannya masih terbatas. Saat ini, pemanfaatan bioekonomi Indonesia baru sekitar 17 persen dari potensi, jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 60 persen.
William menegaskan, keberlanjutan tidak lagi diposisikan sebagai aktivitas tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), melainkan harus menjadi bagian dari proses bisnis inti dan sumber pertumbuhan ekonomi baru.
“Sustainability tidak lagi dilihat sebagai CSR, tetapi harus menjadi bagian dari bisnis proses dan mesin pertumbuhan baru,” katanya.
Fokus kedua adalah pembangunan kota sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Saat ini sekitar 50 persen populasi Indonesia tinggal di kawasan perkotaan, dan pada 2045 diperkirakan meningkat menjadi 79 persen.
Namun, banyak konsep pembangunan kota belum berhasil diterjemahkan menjadi proyek yang layak investasi.
Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, IES akan meluncurkan platform Indonesia City Investment Accelerator, yang bertujuan menghubungkan pemerintah, sektor swasta, dan akademisi agar kebijakan pembangunan kota dapat berubah menjadi proyek investasi yang dapat dieksekusi.
“Kami ingin fokus pada aksi, karena banyak kebijakan pembangunan kota tidak bertranslasi menjadi proyek yang investable,” ujar William.
Sektor ketiga yang menjadi perhatian adalah pekerja migran atau migrant workers, sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mendorong lebih banyak tenaga kerja terampil (skilled workers) ke luar negeri.
Menurut William, sektor swasta memiliki ruang besar untuk berpartisipasi apabila didukung kebijakan yang kondusif.
Penulis: Nasywa Salsabila
(Dhera Arizona)


