Panji dan Sekartaji: Tirakat Cinta di Atas Tanah Kediri

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Di Kediri, cinta tidak pernah menjadi narasi yang manis dan manja. Di sini, cinta adalah tentang kehilangan, pencarian, dan penyamaran yang melelahkan—sebuah kisah klasik antara Raden Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji.

​Menyamar untuk Menemukan: Filosofi Panji Semirang

​Sering kali terdapat anggapan keliru bahwa cerita rakyat hanyalah dongeng pengantar tidur tentang pangeran yang menyelamatkan putri dari menara tinggi. Namun, dalam labirin lakon Panji, narasi yang muncul justru merupakan kontras tajam dari dongeng-dongeng ala Barat yang cenderung pasif.

​Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana, sang putri dari Kerajaan Jenggala, tidak memilih untuk duduk diam meratapi nasib di balik tembok istana. Ketika keadaan memaksanya untuk pergi, langkah yang diambil bukan sekadar pelarian, melainkan sebuah keputusan untuk "menghilang".

Dalam berbagai versi babad, Sekartaji menanggalkan segala atribut keningratannya, memotong rambut, dan menyamar menjadi seorang pemuda bernama Panji Semirang.

​Ada keunikan sosiologis dalam keputusan ini. Pilihan untuk menyamar sebagai rakyat jelata—bahkan berpindah identitas gender—menunjukkan bahwa jati diri tidaklah melekat pada kemben sutra atau mahkota emas.

Dengan menyentuh tanah, merasakan lapar di perjalanan, dan memahami arti kesetiaan dari kasta terbawah, Sekartaji sedang melakukan sebuah pengujian terhadap makna cinta yang sesungguhnya. Identitas anonim digunakan untuk membedakan antara mereka yang mencintai penampilan luarnya saja dengan mereka yang setia pada esensi jiwa.

​Kondisi ini terasa sangat kontras dengan era panggung sandiwara media sosial. Di saat dunia sibuk flexing, membangun citra agar terlihat "berada", Sekartaji justru sibuk menghilangkan jejak agar bisa melihat kenyataan dengan lebih jujur.

​Panji: Sang Pangeran yang Berpeluh Matahari

​Di sisi lain, terdapat sosok Raden Panji Asmoro Bangun atau Inu Kertapati. Sebagai putra mahkota, sangat mudah untuk mengirim pasukan demi mencari kekasih yang hilang. Namun, dalam hikayat Panji, sang pangeran justru memilih untuk berangkat seorang diri.

Ia berkelana dari satu desa ke desa lain, menyamar menjadi pengembara dengan berbagai nama, salah satunya Kuda Wanengpati.

​Ini adalah bentuk pengabdian yang jauh mendahului konsep modern tentang pemimpin yang turun ke lapangan. Panji rela menukar kenyamanan istana dengan debu jalanan.

Pencarian ini bukan hanya tentang menemukan orang lain, melainkan tentang penempaan diri sendiri. Bahwa cinta yang besar menuntut kerendahan hati untuk melepaskan segala hak istimewa.

​Tirakat yang dilakukan Panji adalah antitesis dari gaya hidup instan. Di masa kini, perpisahan sering kali direspons dengan penghapusan memori digital secara cepat. Namun, Panji dan Sekartaji membuktikan bahwa cinta yang suci layak diperjuangkan melalui perjalanan yang berpeluh dan melelahkan.

Semangat "laku" atau tirakat ini masih terasa denyutnya di Kediri—hadir dalam keheningan para santri yang melantunkan bait-bait doa saat sepertiga malam atau dalam kesunyian para perajin tenun yang menyilangkan benang demi benang dengan penuh presisi.

​Kontras Sosiologis: Antara Istana dan Trotoar

​Terdapat keindahan tersembunyi dalam legenda ini yang melunturkan sekat-sekat strata sosial. Penyamaran Panji dan Sekartaji menghancurkan protokol kaku istana dan menggantinya dengan interaksi yang manusiawi di tengah masyarakat.

Ketika mereka menyamar, bahasa yang digunakan bukan lagi bahasa kekuasaan, melainkan bahasa bertahan hidup.

​Fenomena ini sangat relevan dengan atmosfer Kediri. Seperti halnya Jalan Dhoho yang bertransformasi saat malam tiba, aura egaliter selalu menyelimuti kota ini. Di sana, perbedaan strata sosial seolah tertinggal di area parkir.

Di atas tikar yang sama, menghadap sepiring pecel tumpang yang sama, semua orang kembali menjadi manusia biasa. Tidak ada yang peduli akan status sosial di siang hari; di hadapan rasa yang jujur, semua adalah pengembara yang sedang singgah.

​Legenda Panji dan Sekartaji seolah merestui karakter ini. Keduanya memberi pesan bahwa untuk mencapai kebahagiaan yang substansial, terkadang seseorang harus memiliki keberanian untuk menjadi "bukan siapa-siapa".

Perjalanan Adalah Tujuan

​Kisah Panji tidaklah linier. Ia bercabang menjadi berbagai fragmen cerita yang masing-masing membawa pesan moral yang kuat. Ada Panji Semirang, ada Ande-Ande Lumut, ada pula Keong Mas. Namun, semua itu bermuara pada satu tema besar: perjalanan.

​Panji dan Sekartaji tidak pernah benar-benar "selesai" dalam satu malam. Pencarian mereka memakan waktu bertahun-tahun, melewati hutan belantara, hingga harus bertarung dengan berbagai rintangan.

Ini adalah metafora tentang kehidupan. Bahwa cinta, karir, maupun martabat sebuah kota, tidak bisa dibangun hanya dengan menunjuk jari. Ia menuntut ketekunan yang konsisten dan kesabaran yang mendalam.

​Sekartaji yang menyamar mengajarkan keteguhan hati, sementara Panji yang mengembara mengajarkan tentang perjuangan yang tak mengenal kata menyerah. Keduanya membuktikan bahwa sesuatu yang berharga memang layak untuk dicari sejauh apa pun ia menghilang.

​Refleksi di Tanah Panji

​Melintasi kawasan Sekartaji atau mengunjungi situs-situs sejarah di Kediri terasa seperti membaca kembali memoar tentang kesetiaan yang tak lekang oleh zaman. Kediri bukan sekadar koordinat geografis di peta Jawa Timur. Kota ini adalah monumen dari sebuah pengembaraan panjang yang dilandasi oleh kejujuran cinta.

​Legenda ini memberikan cermin yang jujur bagi siapa saja yang bersedia berkaca. Bahwa dalam setiap fase kehidupan, selalu ada masa di mana seseorang merasa kehilangan arah atau merasa asing dengan lingkungannya. Namun, seperti halnya Sekartaji yang harus "hilang" untuk ditemukan, manusia terkadang harus menjauh dari kebisingan dunia untuk memahami apa yang benar-benar kita cari.

Setiap kali pendar lampu Jalan Dhoho membiaskan bayangan di atas aspal yang mulai dingin, berbaur dengan aroma gurih pecel tumpang dan riuh rendah percakapan yang egaliter, seolah ada bisikan kuno yang menggantung di udara: "Jangan takut menanggalkan mahkota, karena di balik penyamaran yang paling sederhana, di situlah letak kemuliaan yang sejati."

​Pada akhirnya, Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji tetap hidup dalam cerita sejarah. Mereka abadi karena menjadi simbol dari setiap jiwa yang berani mencintai dengan cara yang paling agung: dengan pengorbanan, dengan keringat, dan dengan keberanian untuk menjadi orang biasa demi sebuah janji yang suci.

​Di Kediri, cinta abadi itu tidak hanya terkunci di relief candi. Ia tetap berdenyut, menyusup di sela-sela riuhnya pasar, mengalir di antara arus Brantas, dan tetap hangat seperti napas bara yang tak pernah padam di jantung kota.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jokowi Dipastikan Datang ke Makassar 30 Januari, Agenda Penting
• 22 jam lalufajar.co.id
thumb
Kadis Koperas Jeneponto, Mernawati Terima Penghargaan Collaboration Partnership Award dari Konsulat Jenderal Australia
• 11 jam laluterkini.id
thumb
Iran Tangkap Lebih dari 200 Terduga Perusuh dan Provokator di Sejumlah Wilayah
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Everton ditahan imbang 1-1 ketika jamu Leeds United
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Profil Stephanie Kurlow, Balerina Berhijab Pertama yang Menginspirasi Dunia
• 15 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.