Istilah FOMO (Fear of Missing Out) hingga sekarang kerap kali digunakan Gen z untuk mengomentari seseorang yang sedang melakukan suatu tren di media sosial. Ketika seseorang mencoba olahraga padel yang sedang hype, mendengarkan lagu yang sedang booming, atau mengikuti aktivitas yang ramai dibicarakan, tak jarang langsung muncul komentar, “ih kamu FOMO banget”. Padahal, bisa saja orang tersebut memang hanya ingin mencoba hal baru, sekadar penasaran, atau bahkan memang sudah menyukai hal itu sejak lama. Tapi kenapa hal sesederhana itu jadi seolah dianggap salah?
Kebiasaan melabeli segala sesuatu sebagai FOMO ini perlahan menjadi masalah. Ketika label itu dinormalisasi, orang yang sejak awal berniat murni untuk mengeksplorasi hal baru justru bisa merasa ragu, karena takut dinilai ikut-ikutan. Akhirnya, keinginan untuk mencoba pun malah batal, bukan karena tidak mau melakukannya, tapi karena takut dengan penilaian orang lain.
Lalu, sebenarnya apa makna dari FOMO itu?
FOMO atau Fear of Missing Out, yaitu rasa takut tertinggal. Kondisi dimana seseorang merasa cemas terus menerus ketika tau orang lain melakukan sesuatu yang menyenangkan atau tren dan kita tidak terlibat didalamnya. FOMO juga bisa berarti ketakutan psikologis ketika melihat pencapaian orang lain yang lebih baik darinya, seseorang akan membandingkan hidupnya dengan pencapaian orang lain, dan akhirnya merasa dirinya kurang dalam hal tersebut.
Dalam media sosial, FOMO terjadi ketika tren menjadi rujukan utama dalam mengambil keputusan, ia bukan lahir dari pertanyaan "apa sebenarnya yang saya mau", melainkan"apa yang sedang viral hari ini". Sebuah penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa 68,66% remaja mengalami tingkat FOMO tinggi, dan lebih dari 52% menunjukkan perilaku konsumtif yang berhubungan dengan FOMO. Angka ini menunjukkan bahwa FOMO bukan sekadar istilah populer, melainkan fenomena nyata yang memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan.
Misalnya, ketika minuman matcha sedang ramai dibicarakan, banyak orang ikut membeli dan memamerkannya meski sebenarnya tidak menyukai rasanya. Atau ketika suatu jurusan dianggap menjanjikan karena sedang populer, lalu dipilih tanpa benar-benar mempertimbangkan minat pribadi. Pilihan itulah yang akhirnya mencerminkan bahwa memilih arus tren lebih diutamakan daripada suara pribadi.
Dalam kondisi seperti itu, FOMO tidak hanya membuat seseorang takut tertinggal, tetapi juga dapat menjauhkan dari proses mengenal diri sendiri. Padahal seharusnya perbedaan tidak dipandang sebagai ketertinggalan, justru keberanian untuk berbeda itulah sebagai bentuk teguhnya pendirian yang sering kali lebih sulit dibanding sekadar mengikuti arus tren.
Maka, masalahnya bukan pada tren itu sendiri. Mencoba hal baru bukan sesuatu yang salah, yang menjadi persoalan disini adalah ketika tren diikuti bukan karena ketertarikan, melainkan karena rasa takut tertinggal dan dorongan untuk menyamai hidup orang lain. Orang yang suka bereksplorasi biasanya didorong oleh rasa penasaraan atau ketertarikan. Sementara pada FOMO, ia cenderung merasa cemas jika tidak mengikuti tren, jadi suka atau tidak suka ia akan tetap lakukan asalkan tidak ketinggalan tren.
Karena itu, tidak semua orang yang mengikuti tren disebut FOMO, dan tidak semua tren harus kita ikuti. Yang perlu diwaspadai adalah ketika hidup kita mulai dikendalikan oleh pencapaian orang lain, dan ketika apa yang orang lain capai terasa seperti kewajiban yang juga harus kita kejar.
Pada akhirnya, tidak semua pencapaian orang lain harus menjadi target hidup kita juga. Setiap orang punya proses, hasil, dan waktunya masing-masing. Daripada sibuk memberi label FOMO ke orang lain, mungkin lebih bagus jika kita fokus pada proses kita sendiri. Sebab, berkembang tidak selalu harus mengikuti orang lain, dan mencoba hal baru tidak selalu berarti takut tertinggal.




