Pantau - Iran menyatakan bahwa mereka lebih siap dari sebelumnya untuk menanggapi setiap potensi serangan, di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat usai gelombang protes besar-besaran di dalam negeri.
Ketegangan Meningkat Pasca Protes Berdarah di IranPernyataan tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam konferensi pers mingguan di Teheran pada Senin.
Ia menyebut situasi saat ini sebagai bentuk perang hibrida yang ditandai dengan berbagai bentuk tekanan politik, ekonomi, serta aksi kekerasan.
Baghaei merujuk pada perang 12 hari yang terjadi pada Juni lalu dan gelombang protes baru-baru ini, yang menurut Teheran dipicu oleh campur tangan Amerika Serikat dan Israel.
"Ancaman dan klaim tanpa dasar terus datang dari Amerika Serikat dan Israel," ungkapnya.
Ia juga mengutip pernyataan Presiden AS Donald Trump serta laporan pergerakan kapal-kapal perang Amerika menuju Teluk Persia sebagai bukti tekanan yang semakin meningkat.
Iran Desak Negara Tetangga Ambil SikapBaghaei menyatakan bahwa negara-negara kawasan menyadari bahwa ketidakstabilan di Iran bisa menyebar dan memengaruhi keamanan regional secara luas.
Ia menyampaikan kekhawatiran bersama dari negara-negara tetangga terkait kemungkinan dampak dari serangan militer terhadap Iran.
Dalam pernyataannya, Baghaei mendesak negara-negara tersebut untuk "mengambil sikap yang jelas" terhadap ancaman dari Amerika Serikat.
Ia menegaskan bahwa "dengan mengandalkan kemampuan dalam negeri serta pengalaman berharga di masa lalu, Iran lebih siap dari sebelumnya dan akan merespons secara komprehensif, tegas, dan dengan cara yang akan disesalkan terhadap setiap potensi agresi."
Ketegangan antara kedua negara meningkat setelah aksi protes di Iran berubah menjadi bentrokan berdarah yang, menurut pemerintah Iran, menyebabkan lebih dari 3.000 korban jiwa.
Pada puncak demonstrasi awal bulan ini, Presiden Trump memperingatkan pemerintah Iran agar tidak menggunakan kekuatan mematikan terhadap pengunjuk rasa dan mengatakan ia akan "datang menyelamatkan" para demonstran.
Beberapa hari kemudian, Trump mendesak warga Iran untuk terus berdemo dan "mengambil alih lembaga-lembaga", sambil menjanjikan bahwa bantuan akan segera tiba.
Trump juga menyatakan bahwa "sudah waktunya terjadi perubahan kepemimpinan", pernyataan yang oleh banyak pihak di Iran dianggap sebagai ancaman langsung terhadap Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Armada AS Bergerak, Iran Siapkan ResponsPada Sabtu lalu, Presiden Trump mengonfirmasi bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln beserta sejumlah kapal perusak berpeluru kendali sedang menuju kawasan Timur Tengah.
Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat "memantau situasi di Iran dengan cermat", sejalan dengan laporan bahwa armada tempur AS dijadwalkan tiba dalam beberapa hari mendatang.
Langkah tersebut langsung memicu reaksi keras dari pemimpin politik dan militer Iran.
Mereka menegaskan akan memberikan respons kuat dan menyeluruh jika Iran menjadi sasaran serangan militer oleh pihak asing.



