Penjualan mobil nasional sepanjang 2025 tercatat mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut membuat proyeksi penjualan mobil anggota Gaikindo pada 2026 masih belum ditetapkan secara resmi.
Ketua I Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto, mengatakan hingga saat ini belum ada pembahasan internal dengan seluruh anggota terkait target penjualan tahun ini. Menurutnya, penentuan proyeksi tidak bisa diputuskan secara sepihak dan harus melalui kesepakatan bersama.
“Jujur saya belum rapat dengan anggota. Ayo sama-sama kita tentuin, proyeksinya berapa tahun ini," ujar Jongkie saat ditemui di Jakarta Selatan baru-baru ini.
"Saya nggak bisa memutuskan sendiri. Harus bicara dengan anggota,” lanjutnya.
Jongkie menilai, performa penjualan mobil pada 2026 akan sangat bergantung pada berbagai faktor eksternal. Mulai dari kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi, hingga sektor perbankan disebut akan berpengaruh besar.
“Saya nggak berani ngomong (target penjualan mobil tahun ini). Tapi kalau kita lihat kemarin tahun lalu, itu 803 (ribuan), turun sekitar 7% dibanding tahun 2024,” lanjut Jongkie.
Sebagai catatan, total penjualan mobil secara wholesales sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai 803.687 unit. Angka tersebut turun 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Meski mengalami penurunan secara tahunan, pencapaian penjualan 2025 tetap melampaui target Gaikindo yang dipatok di angka 780 ribu unit. Hasil tersebut ditopang oleh lonjakan penjualan pada penghujung tahun.
Pada Desember 2025, wholesales tercatat mencapai 94.100 unit. Angka itu melonjak 25,7 persen dibandingkan Desember 2024 dan naik 26,9 persen secara bulanan dibandingkan November 2025.
Ia menambahkan, situasi makroekonomi menjadi indikator penting dalam melihat peluang pertumbuhan penjualan otomotif tahun ini. Faktor seperti suku bunga, nilai tukar, dan target pertumbuhan ekonomi nasional dinilai saling berkaitan.
“Dan di tahun 2026, kalau pemerintah positif, optimis, pertumbuhan ekonomi, plus perbankan, suku bunga. Banyak faktor yang akan memengaruhi proyeksi tadi,” jelasnya.
Menurut Jongkie, suku bunga Bank Indonesia yang berada di level 4,75 persen menjadi sinyal positif bagi industri otomotif. Namun, ia menegaskan perkembangan tersebut tetap harus dilihat secara realistis seiring berjalannya waktu.
“Jadi nggak cuma satu faktornya. Ada nilai tukar, suku bunga sekarang BI rate 4,75 bagus. Kita lihat saja. Terus pertumbuhan ekonomi, katanya targetnya 5,5%–6%. Bagus, kita lihat kenyataannya nanti sambil berjalan,” tegas Jongkie.





