JAKARTA, KOMPAS – Konser Amal Gitaris untuk Negeri berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp 874.335.764 untuk pemulihan Sumatera. Konser yang digelar dan ditayangkan langsung dari Studio 1 Kompas TV, pada Senin (26/1/2026) malam itu melibatkan sembilan penyanyi, 18 gitaris, dan 15 seniman lukis.
Selain berasal dari sumbangan langsung masyarakat, donasi juga didapatkan dari hasil lelang sejumlah karya lukisan 15 pelukis serta lelang gitar bertandatangan para musisi penampil. Seluruh dana akan disalurkan melalui Dana Kemanusiaan Kompas (DKK).
Donasi, terutama akan digunakan untuk membantu pemulihan di kawasan terdampak bencana alam di tiga wilayah Sumatera. Terutama untuk membangun dan memulihkan kembali fasilitas-fasilitas Pendidikan dan Kesehatan.
Sebelumnya, pada periode 28 November-21 Desember 2025, DKK juga telah menggalang donasi publik dan terkumpul total donasi sebesar Rp 5.067.820.335. Sebagian donasi telah disalurkan pada Sabtu (29/11/2025) bersama Kolinamil, Minggu (7/12/2025) bersama Forum Komunikasi Daerah Kompas Gramedia, Kamis (1/1/2026) bersama Palang Merah Indonesia (PMI), dan Selasa (20/1/2026) bersama Gramedia Banda Aceh.
Dalam sesi acara off air Ketua Yayasan DKK, Gesit Ariyanto, menyebut DKK akan membangun fasilitas pendidikan di Pidie Jaya dan Aceh Timur pada bulan Februari atau Maret 2026. Selain itu, DKK juga sedang menjajaki penyaluran donasi bagi pemulihan dan pembangunan infrastruktur pendidikan dan kesehatan di Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
“Kami dari DKK juga akan bekerja sama dengan beberapa pihak untuk mencari kemungkinan penyaluran bantuan di sektor lain, seperti ekonomi masyarakat," tambahnya.
Di konser amal Gitaris Untuk Negeri, sejumlah penyanyi dan musisi lintas generasi dari beragam genre tampil bersama membawakan karya-karya mereka. Dengan menghibur, mereka sekaligus mengajak masyarakat berdonasi untuk membantu meringankan kesulitan para korban bencana.
“Kami hadir di sini juga sebagai bagian dari anak bangsa dan negara ini, yang merasa harus saling bergotong royong dan membantu,” ujar Arda Hatna.
Arda tampil bersama sang istri, Tantri Sjalindri, yang juga vokalis band Kotak. Mereka membawakan lagu “Panggung Sandiwara” diiringi pencipta lagunya, gitaris senior Ian Antono.
Gitaris Endah Widiastuti menyebut, musik adalah medium yang kuat untuk menyuarakan empati kepada sesama. Dengan begitu, musik menjadi salah satu cara bagi mereka, para musisi, untuk menunjukkan kepedulian lewat aksi-aksi kemanusiaan. Termasuk dengan memotivasi masyarakat agar bisa ikut berdonasi.
Kami hadir di sini juga sebagai bagian dari anak bangsa dan negara ini, yang merasa harus saling bergotong royong dan membantu.
Sejumlah gitaris yang turut terlibat adalah Andre Dinuth, Baim, Denny Chasmala, Dewa Budjana, Edi Kemput, Endah, Eet Sjahranie, Eross Candra, Ezra Simanjuntak, Gugun Blues Shelter, Ian Antono, Jubing Kristianto, Kin The Fly, Kongko Cadillac, Ramadhista Akbar, Ridho Hafiedz, Stanly Bactian, dan Tohpati. Sementara penyanyi yang ikut berkolaborasi, selain Arda dan Tantri ada Dira Sugandi, Ipang Lazuardi, Lea Simanjuntak, Nadhif Basalamah, Nyak Ina Raseuki (Ubiet), Sandy Canester, dan Uap Widya.
Saat tampil live, sejumlah musisi menyampaikan apabila mereka turut terkena dampak bencana yang terjadi di tiga provinsi di Sumatera. Salah satunya Kin The Fly yang memiliki darah Aceh Tengah alias Gayo. Ia mengungkapkan, kakak kandungnya masih tinggal di sana dan mengalami sendiri bagaimana bencana alam membuat banyak lokasi terisolir, terutama di kawasan dusun-dusun. Bahkan hingga saat ini warga di daerah terisolir itu masih harus berjalan kaki mencari bantuan.
Gitaris Ezra Simanjuntak, yang berasal dari Medan, Sumatera Utara juga mengalami hal serupa. Dia mendapat banyak cerita menyedihkan dari sejumlah kenalan serta kerabatnya di daerah yang terkena dampak bencana.
Ia mengungkapkan, banjir bandang telah membuat para korban bencana kehilangan harta benda, terutama rumah tinggal akibat terendam lumpur yang lama-kelamaan mengeras. Beberapa dari mereka bahkan menuturkan kepada Ezra bahwa mereka malah dimintai uang oleh sejumlah oknum jika rumah mereka ingin dibersihkan dari genangan lumpur.
Beberapa kerabatnya juga menceritakan penderitaan sejumlah kenalan yang kehilangan anggota keluarga akibat terseret banjir bandang. “Ada yang cerita di depan mata kepala mereka sendiri tiga anak gadisnya terseret arus air tanpa mereka mampu menolong. Saya baru kehilangan ibu karena sakit paskabencana kemarin tapi saya jadi merasa seolah kesedihan saya belum apa-apa jika dibandingkan para korban bencana tadi,” ujar Ezra.
Penggalangan donasi untuk pemulihan Sumatera akan terus dibuka hingga 11 Februari 2026. Seluruh hasil donasi akan diumumkan kepada publik melalui berbagai kanal KG Media sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas.




