Baru-baru ini, PKT (Partai Komunis Tiongkok) secara tiba-tiba mengumumkan bahwa Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC) Zhang Youxia dan Kepala Staf Gabungan CMC Liu Zhenli telah tumbang. Proses pengumuman resmi oleh otoritas penuh dengan kejanggalan, menunjukkan bahwa peristiwa ini terjadi secara mendesak, situasi di internal PKT tidak stabil, dan pertarungan kekuasaan yang sengit semakin terbuka ke permukaan.
EtIndonesia. Pada 24 Januari 2026, Kementerian Pertahanan Partai Komunis Tiongkok (PKT) merilis pernyataan bahwa anggota Politbiro dan Wakil Ketua CMC Zhang Youxia, serta anggota CMC sekaligus Kepala Staf Gabungan Liu Zhenli, diduga terlibat pelanggaran disiplin dan hukum berat, sehingga keduanya resmi diselidiki.
Sebelumnya, mereka tidak hadir dalam pembukaan kelas pelatihan khusus bagi pejabat utama tingkat provinsi dan kementerian pada 20 Januari. Mereka juga absen dalam acara penutupan pada 23 Januari. Hal ini memicu spekulasi bahwa keduanya telah ditangkap.
Pengamat luar mencatat, pada kasus-kasus sebelumnya seperti mantan Menteri Pertahanan Wei Fenghe, Li Shangfu, serta mantan Wakil Ketua CMC He Weidong, pengumuman resmi kejatuhan mereka baru dilakukan setelah mereka “menghilang” cukup lama. Namun kali ini, Zhang Youxia dan Liu Zhenli diumumkan secara resmi dengan sangat cepat dan tidak lazim. Hal ini kemungkinan besar karena situasi yang mendesak, kondisi yang sulit diprediksi, dan penuh dengan variabel.
“Dapat dibayangkan bahwa ini terutama berkaitan dengan krisis rasa tidak aman atas melemahnya kekuasaan Xi Jinping sendiri, atau untuk mencegah Zhang Youxia dan Liu Zhenli melancarkan pemberontakan militer. Setelah penangkapan, tentu dikhawatirkan dampaknya meluas, atau muncul unit militer lain maupun penempatan kekuatan lain yang ikut merespons. Karena itu, pengumuman resmi dilakukan dengan sangat cepat,” ujar peneliti Institut Riset Pertahanan dan Keamanan Nasional Taiwan, Shen Mingshi.
Penulis yang bermukim di AS sekaligus komentator independen Chen Pokong menyatakan: “Pengumuman yang begitu cepat dan begitu terang-terangan, tanpa melibatkan Komisi Inspeksi Disiplin Pusat (CCDI) maupun Komisi Inspeksi Disiplin Militer, melainkan mengatasnamakan ‘keputusan setelah diteliti oleh Komite Pusat Partai’, pada dasarnya ini adalah sebuah kudeta.”
Pada 25 Januari, surat kabar militer PKT menerbitkan editorial yang menuduh Zhang Youxia dan Liu Zhenli telah “secara serius menginjak-injak dan merusak sistem tanggung jawab ketua CMC”, mempengaruhi kepemimpinan mutlak Partai atas militer, serta merusak wibawa CMC. Tuduhan ini sangat jarang muncul dan hampir secara langsung mengonfirmasi rumor lama bahwa faksi Zhang Youxia berseteru dengan Xi Jinping dan bahwa konflik internal PKT sangat sengit.
Shen Mingshi mengatakan: “Dari editorial PLA Daily dapat terlihat bahwa masalah utamanya bukan korupsi, melainkan pelanggaran prinsip ‘Partai mengendalikan senjata’ dan sistem tanggung jawab ketua CMC. Ini secara implisit menyiratkan bahwa Zhang Youxia dan Liu Zhenli mungkin telah bertindak bertentangan dengan kehendak Xi Jinping atau Ketua CMC, melakukan sesuatu tanpa melapor, atau bahkan merencanakan hal-hal yang berpotensi menggulingkan Xi Jinping.”
Berbeda dengan praktik sebelumnya, setelah pengumuman resmi Beijing kali ini, hingga berita ini ditulis belum terlihat pernyataan kesetiaan besar-besaran dari elite nasional maupun petinggi militer. Shen Mingshi menilai bahwa arah perkembangan situasi selanjutnya masih dipenuhi ketidakpastian.
Shen Mingshi berkata: “Setelah pengumuman ini, opini publik tidak menunjukkan pembelaan besar-besaran terhadap ‘satu pemimpin tertinggi’ atau pernyataan sikap ala pilih kubu. Hal ini terutama karena situasi masih belum jelas.”
“Mungkin Wang Huning atau Cai Qi sendiri juga merasakan bahwa posisi mereka tidak aman, sehingga dalam kondisi seperti ini, mereka tidak terlalu aktif menggunakan propaganda atau opini publik untuk membentuk citra Xi Jinping sebagai satu-satunya otoritas tertinggi.”
Chen Pokong menambahkan: “Mereka tentu ingin mengumpulkan lima lembaga utama—Dewan Negara, Kongres Rakyat Nasional, dan Konferensi Permusyawaratan Politik—untuk mengadakan pertemuan dan menyatakan sikap, lalu diikuti pernyataan dari tingkat provinsi dan kementerian. Namun sekarang tampaknya Xi Jinping mulai berada dalam posisi canggung. Mereka mungkin perlu melakukan banyak pekerjaan terlebih dahulu sebelum hal itu bisa digerakkan.”
Chen Pokong juga menunjukkan bahwa dalam pengumuman resmi PKT kali ini, tidak digunakan istilah “jabatan sebelumnya”, melainkan langsung menyebut jabatan saat ini dan mengumumkan penyelidikan.
Selain itu, pihak yang mengeluarkan pengumuman bukan CCDI maupun Komisi Disiplin Militer, melainkan keputusan atas nama “Komite Pusat Partai”. Hal ini sangat tidak biasa. Ini mencerminkan bahwa pertarungan kekuasaan di tingkat tertinggi PKT telah menjadi terbuka dan mendesak, serta mekanisme operasional kekuasaan berada dalam kondisi tegang.
Chen Pokong berkata: “Hampir semua orang hidup dalam ketakutan. Bukan hanya pejabat tinggi lainnya yang takut, bahkan orang-orang dari kubu Xi sendiri juga sangat takut. Dari suasana rapat saja bisa terlihat, ekspresi mereka penuh kecemasan dan kegelisahan—itulah rasa takut dan ketidaknyamanan. Karena semua orang merasa terancam; tidak ada yang tahu kapan giliran dirinya akan jatuh.”
Chen Pokong menilai bahwa pengumuman resmi kali ini bukan sekadar tindakan antikorupsi atau penyelidikan disiplin, melainkan sebuah penyesuaian besar dan keras terhadap struktur kekuasaan PKT. Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada apakah akan muncul perlawanan di dalam militer, serta apakah PKT masih mampu mempertahankan stabilitas semu di internal partai. (***)





