Penulis: M Sholeh Basyari, Dosen Pascasarjana INSURI Ponorogo dan Direktur Eksekutif Center for Strategic Islamic and International Studies (CSIIS) Jakarta
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump tampak maju mundur, jadi atau tidak menyikat Iran. Gagalnya agen-agen Amerika dan Israel memobilisasi demonstran di Iran untuk menjatuhkan rezim Khamenei membuat Trump geram sekaligus gentar.
Kegagalan ini terangkai oleh jatuhnya pesawat siluman F-35 Amerika yang dioperasikan Israel, Starlink yang on-off, hingga pesimisme para penasihat militer senior presiden Amerika paling nyentrik ini.
Trump Geram tetapi Gentar
Trump tampak gentar. Meski begitu, ia juga terlihat geram menghadapi Iran. Sikap geram Trump terbaca setelah Presiden Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa armada besar angkatan laut AS sedang bergerak menuju kawasan Teluk, dengan Iran menjadi fokus utama pengawasan Washington.
Kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One usai menghadiri World Economic Forum di Davos, Swiss, Trump mengatakan Amerika Serikat terus memantau perkembangan situasi di Iran. Ia menegaskan kehadiran militer tersebut bersifat antisipatif di tengah meningkatnya eskalasi dengan Teheran.
Meski demikian, di sisi lain, seperti dikutip Al Jazeera, (23/1/2026), Trump menyatakan masih berharap situasi tidak berkembang menjadi konflik terbuka.




