FAJAR, MAKASSAR — Dunia media sosial kembali memanas. Sebuah unggahan bernada religius yang dibagikan pendakwah muda Kadam Sidik menuai kritik tajam warganet lantaran dinilai tidak peka terhadap situasi duka atas meninggalnya selebgram Lula Lahfah.
Kadam mendadak menjadi sasaran hujatan setelah menuliskan pesan singkat di platform X yang menyinggung bahaya gaya hidup malam serta harapan agar para pelaku clubbing mendapat hidayah. Unggahan tersebut dianggap menyindir kepergian Lula Lahfah, yang saat itu tengah ramai diperbincangkan publik.
Padahal, suasana duka masih menyelimuti keluarga dan kerabat almarhumah yang baru saja dimakamkan. Momentum inilah yang kemudian memicu reaksi keras dari netizen, yang menilai pesan tersebut tidak pada tempat dan berpotensi menghakimi masa lalu seseorang yang telah wafat.
Kadam Sidik menulis di akun X miliknya, “Tidak ada kebaikan bagi mereka yang suka clubbing kecuali bertaubat kepada Allah. Ya Allah, ampunilah mereka dan berikanlah hidayah.”
Sebagian warganet menilai unggahan Kadam mencerminkan kurangnya empati. Mereka berpendapat, sebagai tokoh publik, Kadam seharusnya lebih peka terhadap kondisi sosial sebelum membagikan pesan ke ruang publik.
Namun, tidak sedikit pula yang membela Kadam. Kelompok ini menilai unggahan tersebut murni bersifat pengingat umum dan tidak ditujukan kepada individu tertentu. Mereka menyebut polemik ini sebagai bentuk kesalahpahaman yang diperbesar oleh emosi publik.
Menanggapi gelombang kritik tersebut, Kadam Sidik akhirnya angkat bicara.
Ia memberikan klarifikasi tegas dan menyatakan, sambil bersumpah, bahwa dirinya sama sekali tidak bermaksud menyinggung apalagi menyindir pihak yang tengah berduka.
Ia mengaku tidak pernah mengikuti kabar sang selebgram, apalagi mengetahui detail masa lalu Lula Lahfah. Menurut Kadam, unggahan itu merupakan pesan dakwah umum yang kebetulan dibagikan di momen yang sensitif.
“Bagi saya, itu pengingat umum. Tidak ada niat mengarah ke siapa pun,” demikian isi klarifikasi Kadam yang beredar luas di media sosial.
Meski klarifikasi telah disampaikan, perdebatan di ruang digital belum sepenuhnya mereda. Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa di era media sosial, waktu dan konteks sering kali sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri. (irm)





