Penerbangan Dialihkan, Radar Menyala, Armada Berkumpul: Dunia Bersiap Menyambut Perang Timur Tengah

erabaru.net
8 jam lalu
Cover Berita


EtIndonesia.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat tajam dalam beberapa jam terakhir, menyusul pengerahan militer besar-besaran oleh AS di sekitar wilayah Iran. Sejumlah kapal induk, pesawat tempur, hingga sistem pendukung tempur tingkat tinggi dilaporkan telah berada di posisi strategis, memicu kekhawatiran luas bahwa konflik bersenjata dapat meletus sewaktu-waktu.

Di dalam negeri, Iran juga tetap berada dalam status siaga tinggi, terutama setelah gelombang penindasan internal yang terjadi sepanjang awal Januari. Kombinasi tekanan eksternal dan gejolak domestik ini membuat situasi keamanan Iran berada pada titik paling rapuh dalam beberapa tahun terakhir.

Dentuman Misterius di Langit Teheran

Pada 25 Januari, warga di kawasan Niavaran, Teheran timur laut, melaporkan terdengarnya dentuman besar yang tidak biasa dari udara. Selain itu, sistem pemantauan juga mendeteksi keberadaan objek tak dikenal melintas di langit kawasan tersebut. Hingga kini, otoritas Iran belum memberikan penjelasan resmi terkait insiden tersebut.

Tak lama berselang, Presiden Amerika Serikat,  Donald Trump mengunggah pernyataan singkat namun provokatif di media sosial, dengan menulis: “Besok malam akan ada ledakan besar. Saya hanya bisa mengatakan sejauh ini.”

Unggahan tersebut langsung memicu spekulasi luas di dunia maya. Banyak warganet menilai pernyataan itu mengarah langsung pada Iran, mengingat eskalasi militer AS yang tengah berlangsung. 

“Jika bukan Iran, lalu di mana lagi ledakan besar itu akan terjadi?” tulis sejumlah komentar yang ramai beredar.

Aktivitas Militer Intensif di Udara dan Laut

Masih pada hari yang sama, jet tempur Angkatan Udara Iran terpantau melakukan patroli intensif di atas wilayah Niavaran dan sekitarnya. Di laut, Iran dilaporkan mengerahkan kapal perang dan kapal cepat untuk memantau pergerakan armada AS, khususnya di sekitar posisi kapal induk USS Abraham Lincoln.

Seorang analis militer yang dikenal dengan nama akun Mario mengungkapkan bahwa dua pesawat tanker Angkatan Udara AS baru saja terbang melintasi Teluk Persia, dekat wilayah udara Iran. Dalam praktik militer, pergerakan tanker udara biasanya mengindikasikan dukungan langsung terhadap misi pengintaian jarak jauh atau persiapan operasi tempur.

Pada saat yang sama, pesawat angkut strategis C-5M Super Galaxy milik AS, yang sebelumnya mendarat di kawasan Timur Tengah, dilaporkan telah lepas landas kembali menuju Inggris. Langkah ini diduga berkaitan dengan pengiriman atau penarikan perlengkapan pertahanan udara tambahan.

Israel: Operasi Militer AS “Siap Sepenuhnya”

Media Israel melaporkan bahwa rencana operasi militer potensial Amerika Serikat terhadap Iran telah sepenuhnya siap. Pengerahan pasukan dan persiapan tempur di berbagai titik kawasan disebut telah memasuki tahap akhir.

Di dunia maya, beredar pula informasi bahwa intelijen Israel (Mossad) tengah menyerahkan kepada pihak Amerika Serikat daftar perwira Garda Revolusi Iran. Para perwira tersebut dituduh terlibat langsung dalam perintah dan pelaksanaan penindasan massal terhadap warga sipil Iran dalam gelombang protes domestik awal Januari lalu.

Seorang analis pertahanan menyebutkan bahwa Iran juga telah mengerahkan kapal induk drone tipe Shahed ke sekitar Selat Hormuz, sebuah langkah yang dinilai sebagai persiapan menghadapi kemungkinan konfrontasi langsung dengan kapal perang AS.

Armada AS Berkumpul, Kerja Sama Regional Menguat

Sementara itu, USS Abraham Lincoln dilaporkan telah tiba di perairan Timur Tengah. Media internasional menggambarkan pemandangan tidak biasa: armada besar militer AS sedang berkumpul di sekitar Iran, mencakup kapal perusak rudal, penataan ulang sistem pertahanan udara regional, serta kehadiran pejabat tinggi Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) di Israel.

Pengamat militer Israel menekankan bahwa pengerahan ini jauh melampaui satu kapal induk semata, dan menunjukkan kesiapan menghadapi berbagai skenario, termasuk konflik skala besar.

Kehadiran Militer Mesir di Israel Terungkap

Perhatian publik juga tertuju pada laporan mengenai kehadiran personel militer Mesir di Pusat Komando Kiryat Gat, selatan Tel Aviv. Militer AS sempat merilis foto dan video dari pusat komando tersebut yang memperlihatkan keberadaan personel Mesir, namun materi itu kemudian dihapus.

Menurut laporan Channel 11 Israel, penghapusan dilakukan atas permintaan Pemerintah Mesir, karena gambar-gambar tersebut dianggap sebagai bukti sensitif kehadiran pasukan Mesir di wilayah Israel. Meski secara politik hubungan Kairo dan Tel Aviv kerap diwarnai ketegangan, kerja sama militer kedua negara dilaporkan tetap berjalan erat.

Saat ini, Pusat Komando Kiryat Gat juga berperan dalam pengawasan gencatan senjata antara Hamas dan Israel.

Iran Siaga Penuh, Ancaman Perang Total Menguat

Pada 25 Januari, anggota Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Sani, menyatakan bahwa menghadapi pengerahan militer pihak asing, angkatan bersenjata Iran telah memasuki status siaga penuh.

Dia menegaskan bahwa pasukan Iran siap bertempur kapan saja jika terjadi serangan. Peringatan keras juga datang dari Teheran, yang menyebut setiap serangan terhadap Iran akan dibalas dengan perang total, sebuah pernyataan yang semakin meningkatkan kecemasan global.

Penindasan Internal dan Tuduhan Pembantaian Massal

Di dalam negeri, Kementerian Intelijen Iran melaporkan telah melakukan operasi besar di Provinsi Yazd, menangkap lebih dari 150 tokoh inti yang dituduh memimpin kerusuhan baru-baru ini. Jaksa Agung Iran memperingatkan bahwa para dalang protes anti-pemerintah akan menghadapi hukuman berat tanpa kompromi.

Namun, media oposisi dan platform Iran International mengungkapkan klaim yang jauh lebih mengerikan. Mereka menyebut bahwa selama penindasan nasional pada 8–9 Januari 2026, rezim Iran diduga membantai lebih dari 36.000 orang hanya dalam dua hari, menjadikannya salah satu peristiwa paling berdarah dalam sejarah protes jalanan Iran.

Sejumlah pengamat membandingkan situasi saat ini dengan periode menjelang Revolusi Iran 1979, menilai negara tersebut telah memasuki fase krisis yang “tanpa jalan kembali”.

Dampak Langsung ke Penerbangan Sipil

Ketegangan AS–Iran juga berdampak langsung pada sektor penerbangan. Singapore Airlines dan Scoot mengumumkan pengalihan rute untuk menghindari wilayah udara Iran, Irak, dan kawasan Teluk, karena dinilai berisiko tinggi.

Israel bahkan memperingatkan maskapai internasional bahwa jalur udara menuju Bandara Ben Gurion berpotensi ditutup pada akhir pekan mendatang jika situasi terus memburuk—sebuah langkah yang pernah dilakukan sebelumnya dalam kondisi darurat.

Analisis: Skala Pengerahan Militer yang Tidak Biasa

Analis militer Afriaht menyebut bahwa Amerika Serikat kini telah mengerahkan kombinasi kekuatan yang sangat besar, mencakup jet tempur, pesawat tanker, pesawat angkut, pesawat peringatan dini, pesawat komando, serta tiga gugus tempur kapal induk yang tersebar di Timur Tengah dan Eropa.

Menurutnya, skala pengerahan ini menunjukkan bahwa Washington tengah mempersiapkan diri untuk skenario terburuk, sementara dunia menahan napas menunggu apakah ketegangan ini akan berakhir pada tekanan diplomatik—atau justru meledak menjadi konflik terbuka.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Komdigi Blokir 2,7 Juta Konten Negatif Sepanjang 2025, Terbanyak Judol
• 23 jam laludetik.com
thumb
Kemenkum Dorong Mediasi Sengketa PT Pakerin untuk Lindungi Nasib Karyawan
• 21 jam lalupantau.com
thumb
Tim SAR Gabungan perluas pencarian korban longsor Cisarua ke Sektor B2
• 8 jam laluantaranews.com
thumb
Fakta Menarik Film Kuyank, Bikin Rio Dewanto Jatuh Cinta dengan Kalimantan
• 58 menit lalukumparan.com
thumb
Thomas Djiwandono Ungkap 5 Strategi saat Fit and Proper Test Deputi Gubernur BI
• 21 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.