Jakarta Fashion Week yang digelar pada awal November 2025 tak hanya meninggalkan deretan visual gaya di linimasa media sosial, tetapi juga merangkum arah baru mode lewat enam tren besar yang mencuat dari panggung peragaan.
Tren-tren ini hadir sebagai refleksi dinamika industri sekaligus respons terhadap perubahan selera dan kebutuhan berpakaian masyarakat urban saat ini.
Meski masing-masing tren tampil dengan karakter dan pendekatan berbeda, keseluruhannya berbicara dalam bahasa yang sama: tentang ekspresi diri, relevansi, dan keberlanjutan gaya. Perbedaannya terletak pada cara penyampaiannya, mulai dari siluet, palet warna, hingga detail yang menjadi penekanan.
Berikut rangkuman enam tren utama Jakarta Fashion Week 2026 yang dapat menjadi referensi gaya dan inspirasi berbusana sepanjang tahun ini.
Tentang RomansaIde romantis renda dan pita tak cuma bisa tampil legit. Didi Budiarjo dan Rama Dauhan, seirama pada warna gading dan siluet terusan.
Ketika Didi mengampu budaya Tionghoa melalui cheongsam apik berbordir flora, Rama mengedepankan gaya modern lewat terusan renda tanpa lengan berluaran organza.
Starry dan Ingrid Husodo sepaham untuk membenturkan konsep. Hitam dari Starry adalah elegan sensual dan putih dari Ingrid adalah kemurnian yang digdaya.
Studio Jeje dan Julianto setuju bahwa romantis dan sensual adalah dua sisi mata uang. Jeje menyematkan banyak pita merah muda pada rok menerawangnya, lalu memberinya atasan kutang hitam. Julianto membentuk gumpalan pita organza yang abstrak bagi gaun kemben super mininya.
Gaya BerlombaSoal gaya, tak perlu berperang sewa studio atau berlaga mengayun raket, karena adopsi inspirasi bisa lebih luas dari pilates dan padel.
Tata gaya koleksi Calla x Tyga dan Erspo adalah untuk kamu yang terkesima pada Emma Raducanu tanpa ingin meneteskan keringat.
Karya Klé dan Project Lulu yang menjemput gagasan dari jalan lintas alam, kenakan saja untuk hang out di taman luar ruang.
Club of Nobody dan Montsenu menjemput budaya papan luncur yang terkesan tak acuh. Tepat untuk berselancar di garage sale akhir minggu atau menyaksikan idola di konser musik.
Wastra SekarangTerjemahan kini wastra tidak terbatas pada eksplorasi motif kain, tapi juga penataan gaya yang semakin cair. Sejauh Mata Memandang menoleh ke lautan dan mencipta motif aneka fauna samudra dalam ragam siluet rileks.
Denny Wirawan dan Danny Satriadi mempertemukan wastra dengan non wastra, menyuguhkan pilihan jadi romantis atau provokatif.
Wilsen Willim menyuntikkan semangat avant-garde pada jas dari Tenun Dayak Iban. Dua warna, dua motif, dua jenis wastra, ditabrakkan estetis oleh Mel Ahyar. Setelan kain kebaya karya BIN House datang dalam siluet dan paduan motif, bergerak modern tanpa kehilangan inti artisannya.
Bicara BlazerRupa-rupa rekaan blazer musim ini menyajikan pilihan luas untuk dikenakan di dalam dan luar ruang kerja. Jan Sober dan Studio Moral mengaryakan warna dan siluet klasik serta aksen menggelitik.
Sematan tassel-tassel kecil berkilau dari Jan Sober, dan dua celah yang menampakkan kulit punggung bawah dari Studio Moral. Ketika ada perayaan terhadap wastra atau kode busana, blazer juga bisa jadi jawaban.
Seperti karya-karya ciamik Tenun Sumba dari Mel Ahyar dan Songket Bali dari Sapto Djojokartiko. Bahkan untuk acara istimewa serupa pernikahan atau malam bersama sahabat, peran blazer bisa dimaksimalkan.
Seperti blazer berkelepak dekontruktif dengan sematan aksen bunga dari Rama Dauhan untuk resepsi di dalam gedung, serta produk modern Urban Exchange untuk agenda kuliner Jumat malam.
Celana BalonTerakhir kali benda mode ini pernah sangat populer adalah pada era 1980-an dalam bentuk baggy pants.
Sejak pekan mode New York awal September lalu hingga ke Jakarta Fashion Week, celana balon mulai ramai bermunculan lagi, dari yang halus elegan hingga yang tegas ala streetwear.
Toton dan St Yarra menggubahnya penuh lipitan yang jatuh lembut. Sejauh Mata Memandang menempatkan batik motif bunga dan geometrisnya, melenturkan tradisi menjadi playful.
Dari Rinda Salmun dan Shop At Velvet, hadir dua siluet yang ramah gaya keseharian.
Sementara itu, Vivi Zubedi dan label Montsenu dari Korea Selatan memberi tawaran yang lebih berani: bertabur logo dan bahan kulit sintetis yang bisa dibelah terbuka.
Kitaran PastelBukan cuma aroma menggemaskan yang bisa dijangkau oleh palet pastel. Ia juga mampu mencapai gaya bohemian, artsy, bahkan profesional.
Dari Haidee & Orlin serta BWBYAZ, pastel datang manis kuadrat bersama motif bebungaan. Menyimak karya tabrak motif antara atasan babydoll dan terusan organza dari Nadjani, serasa menyaksikan gaya para pelajar seni.
Tangan-tangan artisan Sejauh Mata Memandang dan Biasa, meniupkan nafas bohemian ke dalam long dress serta atasan bandeau berbahu tunggal dan celana palazzo.
Karya Geulis, setelan dusty pink dengan blus berselendang aksen mawar, adalah otoritas yang terbungkus mulus: soft power suit.
Penulis: Rifina Marie




