EtIndonesia. Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir, mendorong kawasan Timur Tengah ke titik rawan eskalasi konflik berskala besar. Pengerahan militer Amerika Serikat yang berfokus pada Iran kini dinilai telah memasuki tahap kesiapan penuh, sementara Iran meningkatkan status siaga nasional dan memperketat kontrol keamanan di dalam negeri.
Pengerahan Militer AS Capai Tahap Siap Operasi
Menurut berbagai laporan militer dan media internasional, kelompok tempur kapal induk Amerika Serikat yang dipimpin USS Abraham Lincoln telah tiba di Samudra Hindia dan bergerak ke arah barat menuju kawasan Timur Tengah. Armada ini sebelumnya ditempatkan di Laut Cina Selatan dan dipindahkan secara cepat sebagai respons atas memburuknya situasi Iran.
Selain pengerahan armada laut, dalam 48 jam terakhir hingga 25 Januari 2026, citra satelit dan data penerbangan menunjukkan sedikitnya 45 pesawat angkut militer C-17 Globemaster III milik Angkatan Udara AS telah mendarat atau melintas menuju berbagai pangkalan di Timur Tengah. Informasi ini pertama kali dilaporkan oleh media NewsStar pada 25 Januari, dan dipandang luas sebagai indikasi percepatan pengiriman pasukan serta logistik tempur.
Sejumlah analis militer menilai bahwa pola pengerahan udara dan laut yang berlangsung bersamaan ini bukanlah latihan rutin, melainkan konfigurasi khas menjelang operasi militer skala besar.
Israel Tingkatkan Kesiapan ke Level Tertinggi
Sebagai sekutu utama Amerika Serikat di kawasan, Israel telah menaikkan status kesiapan militernya ke tingkat tertinggi. Militer Israel bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi, termasuk skenario serangan balasan Iran yang melibatkan rudal balistik jarak menengah dan jauh.
Media Israel melaporkan bahwa sistem pertahanan udara nasional berada dalam kondisi siaga penuh, sementara koordinasi intelijen dengan Amerika Serikat dan sekutu regional terus ditingkatkan.
Khamenei Berlindung di Bunker, Pengamanan Diperketat
Di tengah tekanan militer dan politik yang terus meningkat, muncul laporan signifikan terkait keselamatan pimpinan tertinggi Iran. Sejumlah sumber media oposisi Iran menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah dipindahkan ke bunker bawah tanah dan berada dalam perlindungan keamanan maksimum.
Khamenei dilaporkan secara drastis mengurangi kemunculan publik dan bahkan membatalkan kegiatan keagamaan akhir pekan. Untuk menghindari pelacakan elektronik, dia memerintahkan pembatasan ketat komunikasi digital bagi pejabat tinggi dan pengawalnya.
Salah satu indikasi yang paling mencolok adalah berhentinya aktivitas Khamenei di platform X (Twitter) sejak 17 Januari 2026, padahal sebelumnya akun tersebut cukup aktif. Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa dia telah memasuki status perlindungan tingkat tinggi.
Dalam struktur kekuasaan Iran, Khamenei bukan sekadar kepala negara formal, melainkan pemimpin tertinggi agama dan politik. Posisi ini membuatnya dinilai sebagai target strategis bernilai tinggi dalam skenario konflik langsung, berbeda dari presiden Iran yang memiliki peran administratif.
Putra ketiga Khamenei, Masoud Khamenei, disebut mulai mengambil alih sebagian urusan harian dan berperan sebagai penghubung utama antara kantor Pemimpin Tertinggi dengan berbagai lembaga pemerintahan.
Risiko Operasi “Pemenggalan Kepemimpinan”
Para analis militer menilai bahwa jika Amerika Serikat memilih opsi ekstrem berupa operasi pemenggalan kepemimpinan, maka penggunaan pembom siluman B-2 dengan bom penghancur bunker dapat menjadi instrumen utama. Dalam skenario ini, bahkan bunker bawah tanah dengan kedalaman ekstrem dinilai tidak sepenuhnya aman dari serangan presisi berdaya hancur tinggi.
Pengalaman Israel dalam konflik regional sebelumnya telah memperlihatkan efektivitas serangan presisi terhadap target bernilai tinggi, terutama ketika lokasi target berhasil diidentifikasi secara akurat.
Karena itu, risiko terbesar bagi keselamatan Khamenei bukan terletak pada sistem pertahanan udara Iran, melainkan pada apakah lokasi keberadaannya dapat terdeteksi atau tidak.
Pernyataan Trump: “Mari Kita Lihat Apa yang Terjadi”
Pada 23 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara terbuka mengonfirmasi bahwa militer AS tengah memantau Iran dengan sangat ketat dan telah mengerahkan armada besar ke kawasan Teluk Persia. Ini menjadi pengakuan publik pertama Trump terkait pemindahan aset militer strategis ke Timur Tengah.
Trump menyebut bahwa langkah tersebut merupakan respons atas penindasan keras Iran terhadap aksi protes domestik. Dia juga mengklaim bahwa Iran telah membatalkan rencana eksekusi tertentu, yang disebutnya sebagai sinyal positif, namun memperingatkan bahwa jika tindakan represif berlanjut, AS akan merespons dengan langkah yang “belum pernah terjadi sebelumnya”.
Terkait pengerahan armada besar, Trump mengatakan: “Mungkin kita tidak perlu menggunakannya. Mari kita lihat apa yang terjadi.”
Iran Perketat Represi, Internet Diputus
Di dalam negeri, Iran terus memperketat kontrol untuk menekan gelombang protes yang telah berlangsung hampir satu bulan. NetBlocks, lembaga pemantau internet berbasis di London, melaporkan bahwa pemadaman internet nasional Iran telah memasuki minggu ketiga hingga Jumat, 25 Januari 2026.
Meskipun sebagian warga berhasil menggunakan VPN untuk mengakses aplikasi pesan instan, tingkat konektivitas internasional secara keseluruhan tetap sangat rendah. Iran dinilai menerapkan sistem penyaringan tingkat lanjut, termasuk daftar putih layanan daring yang hanya mengizinkan akses ke platform yang disetujui pemerintah.
Gelombang protes bermula pada 28 Desember 2025, dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi, dan kemudian berkembang menjadi tuntutan perubahan rezim.
Sanksi Baru AS dan Sorotan Internasional
Sebagai respons tambahan, Departemen Keuangan AS pada Jumat, 24 Januari 2026, mengumumkan sanksi baru terhadap “armada bayangan” Iran, yang mencakup sembilan kapal serta perusahaan pemilik dan pengelolanya. Armada ini dituduh mengekspor minyak Iran secara ilegal dengan nilai ratusan juta dolar.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent menegaskan bahwa sanksi tersebut menargetkan jalur pendanaan utama rezim Iran yang digunakan untuk menekan rakyatnya.
Situasi Iran juga menjadi perhatian Dewan HAM PBB, yang menggelar sidang khusus pada hari yang sama. Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Türk menyatakan bahwa meskipun kekerasan jalanan mungkin menurun, pelanggaran HAM masih terus berlangsung dan mendesak Iran menghentikan penindasan berlebihan.
Israel dan Kawasan: Efek Domino Tak Terhindarkan
Para analis sepakat bahwa jika konflik AS–Iran benar-benar pecah, Israel hampir pasti akan terseret langsung. Dalam konflik sebelumnya, Uni Emirat Arab, Yordania, dan Inggris telah berperan membantu pertahanan udara regional. Mesir sejauh ini memilih sikap hati-hati dan ambigu.
Dalam wawancara dengan CNN, Reza Pahlavi, putra mahkota Iran di pengasingan, menyebut bahwa jumlah korban tewas akibat represi kemungkinan telah melampaui 20.000 orang, serta mengklaim adanya retakan serius di tubuh pemerintahan dan militer Iran, dengan sekitar 150.000 orang berniat keluar dari sistem rezim.
Pahlavi menegaskan bahwa protes kali ini berbeda dari sebelumnya dan menyebutnya sebagai revolusi sejati.





