Bisnis.com, JAKARTA — Dua emiten asal Indonesia, PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) dan PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) menembus jajaran 10 initial public offering (IPO) terbesar di Asia Tenggara sepanjang 2025.
Berdasarkan laporan Deloitte Southeast Asia, EMAS menempati peringkat ketujuh dengan penghimpunan dana sebesar US$279 juta. Sementara itu, SUPA berada di posisi ke-10 dengan nilai IPO mencapai US$168 juta.
Secara kumulatif, daftar 10 IPO teratas di regional tersebut meraup dana US$4,26 miliar atau menyumbang 65% dari total nilai IPO di Asia Tenggara.
EMAS diketahui melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pada 10 September 2025 dengan kapitalisasi pasar US$2,79 miliar. Di sisi lain, SUPA yang melantai pada 17 Desember 2025 memiliki kapitalisasi pasar US$1,27 miliar.
Sementara itu, Singapura mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin pasar melalui instrumen Real Estate Investment Trust (REIT).
Dua posisi teratas ditempati oleh NTT DC REIT yang meraup dana IPO senilai US$824 juta pada Juli 2025, disusul Centurion Accommodation REIT yang meraih dana penawaran umum sebesar US$597 juta pada september 2025.
Sektor jasa keuangan juga menunjukkan tajinya melalui emiten asal Vietnam. Techcom Securities dan VPBank Securities tercatat masing-masing menghimpun dana US$525 juta dan US$484 juta. Adapun, Techcom Securities memegang rekor kapitalisasi pasar terbesar dalam daftar ini mencapai US$5,24 miliar.
Sepanjang tahun lalu, daftar IPO terbesar ini mengantongi total kapitalisasi pasar US$20,6 miliar. Angka tersebut merepresentasikan 62% dari seluruh nilai kapitalisasi pasar IPO di Asia Tenggara yang mencapai US$33,3 miliar.
Laporan Deloitte menunjukkan penghimpunan dana dari 120 IPO di enam bursa regional mencapai US$6,5 miliar atau melonjak 76% secara tahunan.
Capital Markets Services Leader Deloitte Southeast Asia, Hwee Ling Tay, mengungkapkan bahwa kenaikan nilai tersebut didorong oleh kinerja pasar yang kuat di Singapura, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia. Sektor real estat, energi, sumber daya, serta jasa keuangan menjadi motor utama penggerak nilai emisi.
“Ada pergeseran ukuran rata-rata IPO seiring dinamika sektor, dengan pasar semakin menekankan perusahaan yang memiliki ketahanan lebih tinggi,” ungkap Hwee Ling dalam laporannya dikutip Selasa (27/1/2026).
Dia mencatat bahwa rata-rata nilai transaksi IPO di kawasan ini melonjak lebih dua kali lipat, dari angka US$27 juta pada 2024 menjadi US$54 juta pada 2025.
Pertumbuhan nilai transaksi didukung oleh empat IPO “blockbuster” yang tercatat meraup dana lebih dari US$500 juta di Singapura, Vietnam, dan Filipina, serta 14 emiten baru dengan kapitalisasi pasar di atas US$1 miliar.
Untuk prospek IPO sepanjang tahun ini, Hwee Ling memperkirakan bahwa selera investor di kawasan Asia Tenggara akan tetap berada di level yang sehat.
“Melihat ke depan, Deloitte memperkirakan minat investor akan tetap sehat, didorong oleh terus munculnya peluang pasar baru,” pungkasnya.
Berikut daftar 10 IPO terbesar di Asia Tenggara sepanjang 2025:
1. NTT DC REIT (Singapura): US$824 juta – Real estate
2. Centurion Accommodation REIT (Singapura): US$597 juta – Real estate
3. Maynilad Water Services, Inc. (Filipina): US$583 juta – Energy & resources
4. Techcom Securities (Vietnam): US$525 juta – Financial services
5. VPBank Securities (Vietnam): US$484 juta – Financial services
6. UltraGreen.AI Limited (Singapura): US$400 juta – Healthcare
7. Merdeka Gold Resource (Indonesia): US$279 juta – Energy & resources
8. Eco-Shop Marketing (Malaysia): US$230 juta – Consumer
9. Mr. DIY Holding (Thailand): US$174 juta – Consumer
10. Super Bank (Indonesia): US$168 juta – Financial services
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





