Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami penguatan. Mata uang Garuda berbalik arah menguat terhadap dolar AS usai sempat tertekan pada pembukaan pagi tadi.
Mengutip data Bloomberg, Selasa, 27 Januari 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp16.768 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat 14 poin atau setara 0,08 persen dari posisi Rp16.782 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sementara itu, data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada di zona hijau pada posisi Rp16.760 per USD. Rupiah menguat 10 poin atau setara 0,06 persen dari Rp16.770 per USD di penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp16.801 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.779 per USD.
Baca Juga :
Purbaya Sebut Penguatan Rupiah-IHSG Bukan Cuma Efek Thomas Djiwandono(Ilustrasi. MI/Usman Iskandar) Ketegangan AS dan sekutu NATO soal Greenland Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan sekutu NATO terkait Greenland, yang telah mengguncang pasar global.
"Retorika Trump tentang kepentingan strategis AS di wilayah Arktik telah memperketat hubungan transatlantik, memicu kekhawatiran tentang dampak diplomatik dan ekonomi yang lebih luas," ucap Ibrahim.
Memperparah ketegangan geopolitik tersebut, Trump meningkatkan gesekan perdagangan dengan Kanada akhir pekan ini, berjanji untuk mengenakan tarif 100 persen pada barang-barang Kanada jika Ottawa melanjutkan kesepakatan perdagangan dengan Tiongkok.
Trump menulis di platform media sosialnya bahwa Kanada dapat digunakan sebagai 'pelabuhan transit' untuk barang-barang Tiongkok yang masuk ke AS dan memperingatkan Beijing akan 'memakan Kanada hidup-hidup' jika kesepakatan tersebut berjalan.
Selain itu, ekspektasi seputar kebijakan moneter AS. Federal Reserve dijadwalkan untuk mengakhiri pertemuan kebijakannya pada Rabu, dan pasar secara luas mengantisipasi bahwa para pembuat kebijakan akan mempertahankan suku bunga tetap.
"Meskipun jeda kenaikan suku bunga sebagian besar sudah diperhitungkan, investor akan mencermati pernyataan The Fed dan komentar Ketua Jerome Powell untuk mencari petunjuk tentang waktu dan laju potensi penurunan suku bunga di akhir tahun ini," papar Ibrahim.


