Pria yang Tak Mampu Menumbuhkan Kecambah Kacang Hijau

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Karakter dan integritas memang merupakan fondasi terpenting dalam menjalani hidup dan berinteraksi dengan sesama. Belakangan ini, Kementerian Pendidikan pun kembali gencar mengampanyekan pendidikan karakter.

Namun ironisnya, ketika para pemegang kekuasaan sendiri tidak memahami apa itu karakter dan etika, seberapa banyak pun slogan yang diteriakkan, semuanya tak lebih dari sekadar sandiwara.

Berapa banyak sekolah yang benar-benar menekankan pembentukan karakter? Yang lebih diutamakan tampaknya tetap soal kelulusan dan prestasi akademik. Memikirkannya saja sudah terasa begitu menyedihkan.

“Pria yang Tak Mampu Menumbuhkan Kecambah Kacang Hijau” adalah sebuah kisah indah yang berkaitan erat dengan etika kerja dan integritas moral—dan kisah ini pernah sangat menyentuh hati saya.

Kisah ini terjadi sebagai sebuah episode kecil dalam proses rekrutmen di sebuah perusahaan telekomunikasi di Italia.

Dikisahkan, setelah ujian tertulis selesai, perusahaan tersebut membagikan sekantong biji kacang hijau kepada setiap kandidat yang lolos seleksi awal. Mereka diminta untuk menanam biji tersebut dan, pada waktu yang telah ditentukan, kembali membawa kecambah kacang hijau yang telah tumbuh.

Siapa yang menghasilkan kecambah paling subur dan sehat, dialah yang akan memperoleh pekerjaan bergengsi itu—sebuah posisi yang sangat kompetitif dengan gaji dan fasilitas yang menggiurkan.

Saat hari yang ditentukan tiba, hampir semua kandidat datang membawa pot besar berisi kecambah kacang hijau yang tumbuh subur, hijau, dan penuh kehidupan. Hanya satu orang yang tidak hadir.

Direktur utama perusahaan pun secara pribadi menelepon pria tersebut dan menanyakan alasan ketidakhadirannya. Dengan suara yang bercampur antara rasa bersalah, kecewa, dan kebingungan, pria itu meminta maaf. Dia mengatakan bahwa biji kacang hijaunya belum juga bertunas. Padahal, selama waktu yang diberikan, dia telah merawatnya dengan sepenuh hati dan usaha maksimal. Namun tetap saja, biji-biji itu tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

“Sepertinya saya telah kehilangan kesempatan kerja ini,” ujar pria itu, tepat sebelum dia menutup telepon.

Namun sang direktur justru berkata kepadanya: “Justru kamu adalah satu-satunya orang yang kami terima sebagai karyawan baru.”

Ternyata, semua biji kacang hijau yang dibagikan sebelumnya telah melalui proses khusus dan tidak mungkin bisa berkecambah.

Fakta bahwa pria tersebut tidak mampu menumbuhkan kecambah justru membuktikan bahwa dia tidak memalsukan hasil. Manajemen perusahaan menilai bahwa seseorang yang jujur dalam situasi seperti ini pasti juga merupakan pribadi yang memiliki integritas dan etika moral yang tinggi.

“Dan itulah,satu-satunya standar kami dalam memilih karyawan,”  kata sang direktur.

Ada sebuah pepatah Barat yang mengatakan: “Jika keunggulan adalah ikan, maka integritas adalah pengawetnya.”

Artinya, mengejar prestasi dan kinerja yang luar biasa memang penting. Namun tanpa etika dan integritas, semua itu bisa runtuh dalam sekejap.

Seperti seekor ikan—betapapun lezatnya—tanpa pengawet, pada akhirnya tetap akan membusuk.

Demikian pula para pelamar yang begitu berambisi meraih pekerjaan tersebut. Kecambah kacang hijau yang mereka bawa memang tampak indah dan subur. Namun karena mereka tidak menjadikan kejujuran sebagai “pengawet” karakter diri, pada akhirnya mereka tetap kehilangan pekerjaan yang telah mereka perjuangkan mati-matian dan impikan selama ini.

Hikmah cerita / Renungan

Integritas, karakter, dan etika—di tengah masyarakat modern yang sering menjadikan keuntungan sebagai tujuan utama dan kemewahan semu sebagai tolok ukur—terdengar seperti sindiran yang pahit.

Namun bayangkan sebuah prinsip ini: Integritas adalah fondasi kehidupan, sedangkan kemampuan hanyalah tingkat bangunan.

Hanya dengan fondasi yang kokoh, sebuah bangunan megah bisa berdiri. Jika seseorang dipilih semata-mata karena kemampuan, tanpa mempertimbangkan karakter, maka ketika orang tersebut tidak lagi sejalan dengan kepentingan perusahaan—atau bahkan melakukan hal yang merugikan—dampak kerusakan yang ditimbulkan justru akan jauh lebih besar.

Tentu saja, para pelamar dalam cerita ini yang berusaha keras memenangkan persaingan tidak bisa serta-merta dicap sebagai orang yang tidak beretika. Mereka hanyalah individu yang berjuang mencari jalan keluar di tengah persaingan hidup yang begitu ketat.

Kesimpulan: 

Kisah ini bukan untuk menghakimi siapa pun, melainkan untuk mengingatkan diri kita sendiri: sehebat apa pun kemampuan seseorang, jika tidak digunakan untuk kebaikan bersama dan kepentingan yang benar, maka kemampuan itu justru dapat membawa kerugian besar bagi masyarakat.

Semoga sharing hari ini berkenan di hati para pembaca. Selamat menikmati akhir pekan, dan semoga hidup selalu bisa dijalani dengan senyum.(jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kapal Terbakar di Pelabuhan Muara Baru Jakut, 17 Unit Damkar Dikerahkan
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Siswa SD di Aceh Tamiang Kembali Nikmati Program MBG Pascabencana Banjir Bandang
• 12 jam lalurepublika.co.id
thumb
Adies Kadir Jadi Hakim MK, Golkar: Kami Sangat, Sangat, Sangat Menyetujuinya
• 6 jam lalukompas.com
thumb
Sawit Ilegal Ditemukan di Hutan Lindung Bangka Barat
• 19 jam lalutvrinews.com
thumb
Vietnam Pakai Pemain Muda di Piala Asia Futsal: Persiapan ke Piala Dunia
• 8 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.