JAKARTA, KOMPAS.com - Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menceritakan momen emosional tentang salah satu direksinya yang diganti oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tanpa sepengetahuannya saat awal menjabat Komisaris Utama (Komut) Pertamina periode 2019-2024.
Pernyataan ini disampaikan Ahok saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) bertanya apakah dia mengetahui temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) soal pengadaan.
“Mungkin itu saya jelaskan situasi di dalam, Pak, ya. Oke. Saya pernah waktu baru jadi komut, tiba-tiba ada direktur yang dicopot dari holding. Saya marah di dalam rapat. ‘Ini apa-apaan kok komut enggak tahu ada direktur diganti dari menteri’,” kata Ahok, di muka persidangan, Selasa (27/1/2026).
Saat itu, seorang corporate secretary (corsec) langsung mengingatkan Ahok bahwa pergantian direksi sepenuhnya sudah berada di tangan Menteri BUMN.
Baca juga: Ahok Sempat Minta Jabatan Dirut Buat Benahi BUMN ke Jokowi
Hal ini yang membuat Ahok malah tambah naik pitam.
“Saya waktu itu mau saya lempar pakai botol air minum sudah dia gituin saya,” ujar Ahok.
Meski begitu, Ahok mengatakan, akhirnya memahami sistem tata kelola BUMN berjalan demikian.
Ahok mengaku, telah berulang kali melaporkan kondisi tersebut kepada Joko Widodo yang saat itu menjabat sebagai Presiden ke-7 Indonesia.
“Makanya saya terus lapor pada Presiden. Satu tahun, dua tahun tidak ada reaksi, makanya tahun ketiga saya sudah putuskan,” ucap dia.
Dalam kesaksiannya ini, Ahok menyebut mendiang Menteri Pertambangan dan Energi Indonesia ke-10, Kuntoro Mangkusubroto, menyarankan dirinya untuk mundur karena keterbatasan kewenangan komisaris utama.
Namun, dia memilih bertahan untuk mencoba memperbaiki Pertamina dari dalam, terutama dalam hal optimalisasi biaya.
Baca juga: Saat Jadi Komut, Ahok: Kondisi Kami Itu Berdarah-darah!
Ahok akhirnya memutuskan mundur karena merasa telah mencapai batas maksimal yang bisa dilakukan dalam sistem tersebut.
Ia juga telah menyerahkan seluruh notula rapat kepada jaksa untuk diperiksa.
“Makanya saya bilang, saya lapor ke jaksa, saya punya rapat, saya kasih pada jaksa, silakan Bapak periksa semua notula rapat, tinggal ditanya kenapa tidak ikuti saran dari Dekom (dewan komisari). Itu jauh lebih penting buat saya,” tegas Ahok.
Diberitakan sebelumnya, perkara dugaan korupsi tata kelola minyak mentah ini mempunyai sejumlah terdakwa yang tengah diadili oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).




