Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Sosial (Kemensos) melaporkan bahwa 3,9 juta keluarga penerima manfaat (KPM) tak lagi menerima bantuan sosial (bansos) berdasarkan pemutakhiran data yang dilakukan oleh pemerintah.
Hal ini disampaikan oleh Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf alias Gus Ipul dalam rapat kerja dengan Komisi VIII DPR RI di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
“Ada 3,9 juta keluarga penerima manfaat sudah tidak lagi menerima bansos karena menyesuaikan desil, graduasi, pemutakhiran, meninggal, karena terlibat judol [judi online] maupun karena ASN,” kata Saifullah.
Selain itu, pihaknya juga menemukan penyaluran bansos yang melebihi porsi, antara lain 4,6 juta KPM yang mendapatkan bansos lebih dari 5 tahun.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 360.000 lebih di antaranya menerima bansos lebih dari 18 tahun, sedangkan 2,7 juta lebih penerima bansos masih pada usia produktif.
Dia lantas menyampaikan sebanyak 11 juta penerima bantuan iuran dialihkan dari desil atas menjadi desil yang sesuai, yaitu desil 1 sampai dengan desil 4.
Baca Juga
- Daftar Bansos Cair Januari 2026, Lengkap dengan Daftar Penerimanya
- Cek Penerima Bansos PKH dan BPNT yang Cair Januari 2026
- Cara Cek Penerima Bansos PKH Januari 2026 via Online
“Ini adalah temuan-temuan di lapangan yang terus kita berusaha sekuat tenaga tetap bisa melakukan ground check, kemudian membuka partisipasi masyarakat agar makin tahun tentu data kita makin akurat,” ujarnya.
Saifullah kemudian menyampaikan bahwa pemerintah tengah mematangkan skema digitalisasi bansos. Tak hanya Kemensos, proyek ini melibatkan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan Komite Percepatan Transformasi Digital Pemerintah (KPTDP).
Sejauh ini, piloting bansos digital juga telah dilakukan di Banyuwangi, Jawa Timur kepada 357.000 KPM dan akan diperluas hingga 40 kabupaten/kota.
“Jadi piloting ini baru mencoba bersama-sama dengan tim besar yang dipimpin oleh Pak Luhut [Binsar Pandjaitan] untuk melakukan satu proses digitalisasi bansos. Hasilnya, ada 77% dinyatakan error ketika menggunakan data yang lama. Setelah diukur dengan DTSEN, error-nya menjadi turun 28,2%,” ujar Saifullah.




