Setelah dua bulan bertahan di tenda pengungsian pasca bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda pada akhir November lalu, sejumlah warga Desa Pante Lhong, Kabupaten Bireuen, Aceh, kini mulai membangun tempat tinggal sementara secara mandiri.
Warga yang kehilangan tempat tinggal akibat tersapu arus banjir tersebut memilih membangun gubuk darurat menggunakan bahan seadanya, seperti kayu sisa banjir dan terpal plastik. Langkah ini diambil karena adanya kekhawatiran dan rasa kurang nyaman jika harus menjalani ibadah di bulan suci Ramadhan mendatang di kamp pengungsian.
Baca juga: 912 Warga Tapanuli Tengah Hidup di Tenda Pengungsian
Asmiati, salah seorang warga Desa Pante Lhong, mengungkapkan bahwa dirinya bersama sang suami telah memutuskan untuk menempati gubuk yang mereka bangun sendiri dalam beberapa hari terakhir. Material gubuk tersebut dikumpulkan dari sisa-sisa kayu yang terbawa banjir serta bantuan dari para dermawan.
"Bahan-bahannya ada yang kasih. Atapnya ini pakai plastik (terpal) pemberian orang," ujar Asmiati.
Ia mengaku lebih memilih tinggal di gubuk sempit bersama suaminya daripada bertahan di pengungsian. Selain masalah kenyamanan, ia merasa lebih mudah mengurus kebutuhan rumah tangga, seperti memasak, jika tinggal di tempat milik sendiri.
Bagi Asmiati dan warga lainnya, tinggal di gubuk darurat tentu bukan pilihan utama, namun hal ini dianggap lebih baik demi menyambut bulan puasa yang kian dekat. Mereka sangat berharap pemerintah segera memberikan kepastian terkait pembangunan hunian tetap (Huntap) agar warga tidak terus-menerus hidup dalam ketidakpastian.

