Di Antara Gelar, Gengsi, dan Realitas: Cara Gen Z Memandang Urgensi Pendidikan

kumparan.com
18 jam lalu
Cover Berita

Di sebuah kafe kecil yang tak pernah sepi dari Wi-Fi dan colokan listrik, sekelompok anak muda duduk menghadap layar masing-masing. Ada yang sedang menyunting video, membuka dashboard e-commerce, membaca jurnal ilmiah, atau sekadar menelusuri lowongan kerja. Mereka sama-sama Gen Z, tetapi arah hidup yang mereka tuju tidak selalu sama. Di tengah percakapan ringan tentang karier dan masa depan, satu pertanyaan kerap muncul tanpa pernah benar-benar dibahas tuntas: masih sepenting itukah pendidikan tinggi hari ini?

Bagi generasi sebelumnya, pendidikan tinggi adalah tangga yang relatif jelas. Kuliah, lulus, bekerja, lalu membangun hidup secara bertahap. Pendidikan tinggi bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan sosial. Gelar sarjana adalah simbol keberhasilan, sekaligus tiket menuju mobilitas sosial. Namun bagi Gen Z, narasi itu tak lagi berdiri sendirian. Dunia yang mereka masuki jauh lebih cair, lebih cepat, dan lebih tidak pasti. Internet membuka banyak pintu sekaligus meruntuhkan banyak kepastian.

Gen Z tumbuh di era ketika cerita sukses tidak selalu dimulai dari bangku kuliah. Mereka menyaksikan figur-figur muda yang meraih penghasilan tinggi tanpa ijazah, membangun bisnis dari kamar tidur, atau menjadi kreator digital dengan jutaan pengikut. Di sisi lain, mereka juga melihat lulusan perguruan tinggi yang masih berjuang mencari pekerjaan, terjebak dalam kontrak tidak tetap, atau bekerja di bidang yang jauh dari disiplin ilmunya. Kontras inilah yang membentuk cara pandang Gen Z terhadap pendidikan tinggi: bukan lagi sebagai satu-satunya jalan, melainkan salah satu dari sekian banyak kemungkinan.

Namun menyederhanakan pandangan Gen Z sebagai “anti-kuliah” adalah kesimpulan yang tergesa-gesa. Yang sesungguhnya terjadi bukanlah penolakan terhadap pendidikan tinggi, melainkan pergeseran cara memaknainya. Gen Z tidak lagi melihat kuliah sebagai simbol status, tetapi sebagai investasi yang harus masuk akal. Mereka bertanya, bukan hanya apa gelarnya, tetapi apa dampaknya. Bukan hanya berapa lama kuliah, tetapi seberapa relevan kompetensinya dengan dunia nyata.

Pendidikan tinggi di mata Gen Z berada di persimpangan antara idealisme dan pragmatisme. Di satu sisi, banyak dari mereka masih percaya bahwa kampus adalah ruang pembentukan nalar kritis, etika, dan kedewasaan intelektual. Kampus dianggap sebagai tempat belajar berpikir, bukan sekadar menghafal. Namun di sisi lain, mereka juga menuntut kejelasan: apakah kurikulum mampu mengikuti perubahan zaman, apakah dosen memahami realitas industri, dan apakah lulusan dipersiapkan untuk dunia kerja yang nyata, bukan dunia ideal di atas kertas.

Ketidakpastian ekonomi global turut memperkuat sikap kritis ini. Gen Z tumbuh di tengah krisis: krisis finansial, pandemi, perubahan iklim, dan disrupsi teknologi. Mereka menyaksikan bagaimana stabilitas bisa runtuh dalam waktu singkat. Dalam konteks ini, pendidikan tinggi tidak lagi dipahami sebagai jaminan masa depan, melainkan sebagai salah satu alat untuk bertahan dan beradaptasi. Maka tak heran jika Gen Z lebih tertarik pada keterampilan yang fleksibel, lintas disiplin, dan aplikatif.

Bagi sebagian Gen Z, urgensi pendidikan tinggi justru terletak pada kemampuannya membentuk cara berpikir, bukan sekadar memberi pekerjaan. Mereka melihat kampus sebagai ruang untuk memperluas perspektif, membangun jejaring, dan memahami kompleksitas sosial. Di tengah banjir informasi dan algoritma media sosial, kemampuan memilah kebenaran, berpikir kritis, dan memahami konteks menjadi semakin penting. Pendidikan tinggi, dalam idealnya, menawarkan hal-hal tersebut.

Namun ada pula Gen Z yang memandang urgensi pendidikan tinggi secara lebih selektif. Mereka tidak menolak kuliah, tetapi menunda atau memilih jalur yang berbeda. Gap year, kursus daring, sertifikasi profesional, hingga pengalaman kerja lebih dulu menjadi alternatif yang dipertimbangkan serius. Keputusan ini sering kali lahir bukan dari kemalasan, melainkan dari kesadaran akan biaya, risiko, dan peluang. Biaya pendidikan yang semakin mahal membuat pendidikan tinggi menjadi keputusan ekonomi yang besar, terutama bagi mereka yang tidak memiliki jaring pengaman finansial.

Di sinilah pendidikan tinggi diuji bukan hanya sebagai institusi akademik, tetapi sebagai institusi sosial. Apakah kampus mampu menjadi ruang yang inklusif dan relevan bagi generasi baru? Apakah pendidikan tinggi masih mampu menjembatani kesenjangan sosial, atau justru memperlebar jurang antara mereka yang mampu dan tidak mampu? Gen Z, dengan sensibilitas sosial yang relatif tinggi, tidak menutup mata terhadap pertanyaan-pertanyaan ini.

Pandangan Gen Z terhadap pendidikan tinggi juga dipengaruhi oleh relasi mereka dengan otoritas. Mereka tumbuh di era dialog, bukan doktrin. Mereka lebih mudah menerima argumen daripada perintah. Maka pendidikan tinggi yang masih bertumpu pada hierarki kaku, metode satu arah, dan resistensi terhadap kritik sering kali terasa asing bagi mereka. Sebaliknya, ruang belajar yang kolaboratif, terbuka terhadap diskusi, dan menghargai suara mahasiswa lebih sesuai dengan karakter Gen Z.

Urgensi pendidikan tinggi bagi Gen Z pada akhirnya tidak bisa dilepaskan dari konteks makna hidup. Generasi ini kerap digambarkan sebagai generasi yang mencari makna, bukan sekadar materi. Mereka ingin pekerjaan yang selaras dengan nilai, kehidupan yang seimbang, dan kontribusi yang nyata bagi masyarakat. Dalam kerangka ini, pendidikan tinggi dianggap penting sejauh ia mampu membantu pencarian tersebut. Kuliah bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan memahami diri dan dunia.

Namun ekspektasi ini juga membawa tantangan. Ketika pendidikan tinggi tidak mampu menjawab harapan tersebut, kekecewaan pun muncul. Kampus yang terlalu birokratis, kurikulum yang tertinggal, dan jarak antara teori dan praktik membuat sebagian Gen Z merasa pendidikan tinggi kehilangan urgensinya. Kritik ini seharusnya tidak dipahami sebagai ancaman, melainkan sebagai cermin yang jujur.

Menariknya, di tengah kritik tersebut, minat Gen Z terhadap pembelajaran tidak pernah benar-benar surut. Mereka belajar dengan cara berbeda. Podcast, video esai, kelas daring, komunitas belajar mandiri, dan diskusi digital menjadi bagian dari ekosistem pengetahuan mereka. Ini menunjukkan bahwa problemnya bukan pada belajar, melainkan pada bentuk dan struktur pendidikan itu sendiri. Pendidikan tinggi dituntut untuk bertransformasi, bukan untuk bersaing dengan internet, tetapi untuk melengkapinya.

Bagi Gen Z, urgensi pendidikan tinggi juga terkait dengan identitas. Di tengah dunia yang serba cepat, kuliah memberi jeda untuk bertumbuh. Waktu untuk bereksperimen, gagal, dan belajar tanpa tekanan produktivitas yang ekstrem. Dalam pengertian ini, pendidikan tinggi bukan hanya soal output ekonomi, tetapi soal proses pendewasaan. Namun nilai ini sering kali tidak terkomunikasikan dengan baik, baik oleh institusi pendidikan maupun oleh narasi sosial yang terlalu menekankan hasil instan.

Ketika publik terus mempertanyakan “untung apa kuliah?”, Gen Z menjawabnya dengan cara yang lebih kompleks. Keuntungan tidak selalu diukur dari gaji awal, tetapi dari kapasitas jangka panjang untuk beradaptasi, berpikir, dan berkontribusi. Masalahnya, tidak semua institusi pendidikan tinggi benar-benar memberikan bekal tersebut secara merata. Maka wajar jika Gen Z bersikap selektif dan kritis.

Pada akhirnya, pandangan Gen Z tentang urgensi pendidikan tinggi adalah refleksi dari perubahan zaman. Mereka tidak menolak pendidikan, tetapi menuntut relevansi. Mereka tidak anti-gelar, tetapi anti ilusi. Pendidikan tinggi masih penting, tetapi tidak lagi sakral. Ia harus terus membuktikan nilainya di hadapan generasi yang tumbuh dengan pilihan tak terbatas dan kesadaran penuh akan risiko.

Mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apakah pendidikan tinggi masih penting, melainkan pendidikan tinggi seperti apa yang masih penting. Bagi Gen Z, urgensi itu lahir ketika kampus mampu menjadi ruang belajar yang hidup, adaptif, dan manusiawi. Ruang yang tidak hanya mencetak lulusan, tetapi membentuk warga yang berpikir, peduli, dan siap menghadapi dunia yang terus berubah.

Dalam dunia yang tidak lagi menjanjikan kepastian, pendidikan tinggi tetap bisa menjadi kompas. Bukan peta yang menjamin sampai tujuan, tetapi alat untuk membaca arah. Dan bagi Gen Z, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat pendidikan tinggi tetap relevan, meski tidak lagi dipuja tanpa tanya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Warga Keluhkan Jalan HM Joyo Martono Bekasi Tetap Rusak meski Sudah Diperbaiki
• 19 jam lalukompas.com
thumb
IHSG Anjlok 8 Persen, BEI Berlakukan Trading Halt
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Safari ke Klub-Klub BRI Super League Berlanjut, Ini Kesan John Herdman Setelah Pantau Latihan Persija
• 7 jam lalubola.com
thumb
Berita Baik untuk Penggemar F1, Legenda Michael Schumacher Dikabarkan Siuman Usai 12 Tahun Terbaring Koma
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Akses Aceh Pulih, 18 Jembatan Segera Operasi
• 18 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.