Tak Hanya Hama, Ikan Sapu-sapu Juga Bisa Bernilai Jutaan Rupiah

kompas.com
20 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Di mata masyarakat Jakarta, ikan sapu-sapu (Plecostomus) tengah viral karena dianggap hama yang merusak ekosistem Sungai Ciliwung.

Ikan ini disebut-sebut merusak tanggul dan tembok sungai, serta memangsa telur ikan endemik.

Namun, stigma negatif “ikan pemakan kotoran” itu runtuh ketika melangkah ke The FIN's, sebuah toko akuarium spesialis sapu-sapu di Meruya Ilir Raya, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat.

Di sana, Anton (40), pemilik toko, memandang ikan ini sebagai hewan eksotis yang digemarinya puluhan tahun.

“Saya mungkin sejak sekitar tahun 2002 sudah menggemari ikan. Sampai sekarang pun saya fokus pada sapu-sapu,” ujar Anton, Selasa (27/1/2026).

Lahir di Jambi, Anton mulai mempelajari ikan sejak kecil dan tertarik pada sapu-sapu ketika melihatnya di Pasar Barito sekitar 2022.

Baca juga: Populasi Ikan Sapu-sapu Meledak di Ciliwung, Pramono Mengaku Belum Paham

Meski memperkenalkan sisi indah ikan ini kepada masyarakat tidak mudah.

“Bayangin tahun 2015 atau 2016 awal, begitu kita pameran, lihat ada ikan sapu-sapu harganya mahal, mereka bilang, ‘Gila, ikan makan tahi kok mahal?’” ujarnya.

Tantangan itu justru memacu Anton untuk edukasi di berbagai pameran ikan hias.

Di tokonya, koleksi sapu-sapu menampilkan berbagai corak, dari loreng, totol-totol, hingga warna cerah, dengan harga jutaan rupiah.

“Ada satu jenis yang harganya dua puluhan juta, Hypostomus luteus, agak sulit didapat,” katanya.

Baca juga: Ikan Sapu-sapu di Ciliwung Tak Layak Konsumsi, Berisiko Mengandung Logam Berat dan Bakteri

Perbedaan dengan Sapu-sapu Ciliwung

Anton menjelaskan perbedaan mendasar antara sapu-sapu invasif di Ciliwung dan jenis hias yang dijual.

Sapu-sapu liar biasanya dari keluarga Pterygoplichthys, sedangkan yang populer di kalangan kolektor termasuk genus Hypancistrus, Panaque, Pseudacanthicus, dan Ancistrus.

“Perbedaan utamanya daya tahan tubuh. Sapu-sapu liar di Ciliwung bisa hidup di air minim oksigen, sedangkan sapu-sapu hias lebih manja dan butuh air bersih,” jelas Anton.

Ia meragukan sapu-sapu hias bisa menjadi invasif di sungai kotor Jakarta.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: Ciri Siomay Ikan Sapu-sapu, Warna Lebih Gelap dan Bau Lebih Amis


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prakiraan Cuaca Ekstrem di Jakarta Hari Ini Rabu, 28 Januari 2026: Waspada Hujan Sepanjang Hari
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Santer Isu Reshuffle, Ini Kata Istana
• 4 jam laluliputan6.com
thumb
KPK Jelaskan Alasan Cegah Fuad Hasan, Dalami Peran Travel Haji Rp1 Triliun
• 5 jam lalujpnn.com
thumb
LBH Jokowi Perkasa soal Mens Rea Panji: Boleh Kritik, Asal Ada Solusi
• 20 jam laluokezone.com
thumb
Tantangan Menanti di Juni Mendatang Usai Rebalancing MSCI untuk Saham RI Dibekukan
• 1 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.