Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian meminta para gubernur, bupati, dan wali kota di seluruh Indonesia untuk melakukan pemetaan secara rinci titik-titik rawan bencana hidrometeorologi. Langkah ini dinilai penting sebagai upaya pencegahan dan meminimalisir dampak bencana alam yang kerap terjadi akibat cuaca ekstrem.
Permintaan tersebut disampaikan Mendagri saat meninjau lokasi tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, yang menimbun sekitar 30 rumah warga. Dalam kunjungannya, Tito menekankan bahwa penanganan bencana harus dilakukan secara berjenjang, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Untuk penanganan jangka pendek, Mendagri meminta agar pencarian korban yang masih hilang dimaksimalkan, serta memastikan pendampingan bagi keluarga korban, termasuk pemakaman korban meninggal dunia dan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak.
“Yang pertama jangka pendek dulu, semaksimal mungkin mencari yang hilang. Kemudian bagi yang wafat dimakamkan secara layak dan keluarganya dibantu,” ujar Tito.
Ia juga mengapresiasi dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, TNI-Polri, relawan, hingga pemerintah pusat yang bergerak cepat membantu penanganan bencana di lokasi.
Baca juga: Tekan Potensi Hujan Ekstrem, Satu Ton Garam Disemai di Langit Pantura Jateng
Sementara itu, untuk jangka panjang, Mendagri menegaskan pentingnya relokasi permanen warga ke wilayah yang lebih aman. Ia menilai lokasi terdampak longsor sudah tidak layak lagi dijadikan kawasan permukiman.
“Untuk jangka panjang, mereka harus direlokasi supaya mendapatkan tempat yang aman. Lokasi seperti ini tidak boleh ditempati lagi,” tegasnya.
Tito juga meminta agar kawasan bekas longsor dilakukan reboisasi dengan menanam vegetasi berakar kuat guna memperkuat struktur tanah dan mencegah longsor susulan.
“Kalau ditempati lagi, nanti akan longsor lagi. Harus direboisasi, ditanam tanaman yang akarnya kuat supaya tanahnya bisa menguat kembali,” pungkasnya. Mendagri Soroti Tata Ruang di Lokasi Longsor Cisarua Dalam tinjauan tersebut, Mendagri menyoroti tata ruang kawasan perbukitan yang telah dipadati permukiman serta berkurangnya vegetasi dengan akar kuat. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor utama terjadinya longsor di wilayah tersebut.
Menurut Tito, kondisi di Cisarua memiliki kemiripan dengan sejumlah wilayah lain yang pernah mengalami bencana serupa, seperti Banjarnegara dan Cilacap.
Mendagri berharap dengan pemetaan yang akurat, penataan ruang yang tepat, serta relokasi permanen, risiko bencana hidrometeorologi di berbagai daerah dapat ditekan dan keselamatan masyarakat lebih terjamin.



