Generasi yang Tumbuh Tanpa Ruang Bercerita

kumparan.com
15 jam lalu
Cover Berita

Di tengah narasi tentang generasi muda yang adaptif, kreatif, dan tangguh, terdapat ironi yang jarang dibahas: semakin banyak generasi muda yang tumbuh dengan kecenderungan untuk menutup diri. Tanpa disadari, sejak usia dini, sebagian dari mereka telah terbiasa hidup tanpa ruang untuk menceritakan kisah mereka. Pendapat tidak dimintai, perasaan dianggap berlebihan, dan keluhan sering dianggap sebagai tanda kelemahan. Dari situ, keheningan secara bertahap menjadi kebiasaan, dan menarik diri terasa lebih aman daripada berbagi cerita.

Kondisi ini sejalan dengan meningkatnya masalah kesehatan mental di kalangan remaja. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa bunuh diri merupakan penyebab kematian ketiga terbesar di kalangan usia 15–29 tahun secara global. WHO juga menyatakan bahwa satu dari tujuh remaja berusia 10–19 tahun mengalami gangguan mental, terutama depresi dan kecemasan. Di Indonesia, Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional 2022 (I-NAMHS) menunjukkan bahwa sekitar 34,9 persen remaja mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental, dan lebih dari 5 persen mengalami gangguan mental berat. Dalam sepuluh tahun terakhir, hampir setengah dari semua kasus bunuh diri terjadi di kalangan remaja. Data ini menegaskan bahwa masalah kesehatan mental bukan hanya masalah individu, tetapi juga masalah sosial yang serius.

Namun, angka-angka ini tidak berdiri sendiri. Salah satu akar masalah yang sering diabaikan adalah kurangnya ruang aman untuk berbagi cerita. Banyak remaja dibesarkan dalam lingkungan yang menuntut ketaatan daripada dialog; lebih menekankan pencapaian daripada proses; dan lebih cepat mengoreksi daripada mendengarkan. Ketika perasaan tidak pernah diakui, mereka belajar untuk menyimpannya sendiri. Seiring waktu, menahan emosi menjadi cara bertahan hidup, meskipun hal itu secara perlahan merusak kesehatan mental.

Dampaknya tidak hanya psikologis, tetapi juga sosial. Remaja yang terbiasa menutup diri cenderung kesulitan membangun hubungan yang sehat, merasa kesepian meskipun dikelilingi orang lain, dan kehilangan arah dalam mencari makna hidup. Dalam situasi stres, ketidakhadiran ruang untuk berbagi cerita membuat masalah terasa semakin putus asa. Banyak dari mereka akhirnya melihat bunuh diri sebagai pelarian, bukan karena mereka tidak ingin hidup, tetapi karena mereka tidak tahu kepada siapa harus berbicara.

Oleh karena itu, membuka kembali ruang untuk berbagi cerita telah menjadi kebutuhan mendesak. Ruang-ruang ini tidak selalu harus berbentuk layanan profesional, meskipun hal itu penting, tetapi dapat dimulai dari hal-hal paling dasar: keluarga yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi, sekolah yang menyediakan ruang untuk dialog, dan lingkungan sosial yang tidak meremehkan perasaan. Bertanya dan mendengarkan perlu menjadi kebiasaan lagi, bukan sekadar formalitas. Memberikan ruang untuk berbagi cerita tidak berarti membenarkan semua pilihan, tetapi membuka kemungkinan untuk menghadapi masalah bersama.

Pada akhirnya, generasi yang sehat bukanlah yang selalu tampak kuat, tetapi yang diberi kesempatan untuk jujur pada diri sendiri. Pemuda tidak membutuhkan nasihat terburu-buru atau tuntutan untuk selalu baik-baik saja. Mereka membutuhkan ruang untuk berbagi cerita dan keyakinan bahwa suara mereka layak didengar. Perbedaan pendapat akan selalu ada, tetapi selama ruang dialog tetap terbuka, kita dapat berjalan bersama—tanpa merasa selalu benar, dan tanpa kehilangan generasi hanya karena mereka dipaksa untuk diam terlalu lama.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bakal Dilantik Prabowo, 8 Anggota Dewan Energi Nasional Tiba di Istana
• 5 jam laluokezone.com
thumb
KPK Kembalikan Aset Rp 1,531 Triliun ke Kas Negara Sepanjang 2025
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Kemenpora Targetkan Car Free Day di 514 Kota untuk Tingkatkan Partisipasi Olahraga Nasional
• 21 jam lalupantau.com
thumb
Kementerian ATR/BPN Buka Lowongan Kerja, Cek Syarat dan Jurusan yang Bisa Daftar
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
12 Aparat Hukum Diduga Perkosa Seorang Ibu di Papua, Saksi Mata Ungkap Kronologi Pilu
• 23 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.