Jika suatu hari Sahabat Kumparan berjalan pelan di hutan pegunungan yang lembap dan bertajuk rapat, mungkin Sahabat tidak sadar sedang diawasi. Bukan oleh predator besar, melainkan oleh seekor burung kecil berwarna hitam putih yang bertengger diam di dahan.
Itulah sikatan belang, burung mungil yang hidupnya nyaris selalu berada di balik tirai dedaunan. Ia bukan jenis burung yang rajin pamer suara atau warna. Namun justru di situlah daya tariknya. Sikatan belang hadir sebagai pengingat bahwa alam sering menyimpan keindahan dalam bentuk paling sederhana.
Dalam dunia perburungan Indonesia, sikatan belang memang bukan nama populer. Ia jarang masuk percakapan para penggemar burung kicau rumahan. Tidak banyak pula yang memburunya untuk dipelihara. Namun, bagi pengamat burung dan peneliti ekologi hutan, spesies ini justru penting.
Dalam buku Birds of Sumatra, Java, Bali, and Kalimantan karya MacKinnon dan Phillipps tahun 1993, sikatan belang disebut sebagai indikator sehatnya ekosistem hutan pegunungan. Keberadaannya menandakan rantai makanan berjalan normal.
Nama ilmiahnya adalah Ficedula westermanni. Ia termasuk keluarga Muscicapidae, kelompok burung sikatan dan flycatcher Dunia Lama. Nama Ficedula berasal dari bahasa Latin yang berarti pemakan ara, meski faktanya burung ini pemakan serangga.
Nama spesies westermanni diberikan untuk menghormati Coenraad Jacob Temminck Westermann, tokoh penting dalam sejarah zoologi Eropa abad ke-19. Dalam literatur berbahasa Inggris, burung ini dikenal sebagai Little Pied Flycatcher, merujuk ukuran tubuhnya yang kecil dan warna belang hitam putih yang khas.
Di Indonesia, penyebutannya tidak seragam. Di beberapa daerah, ia tetap disebut sikatan belang. Di tempat lain, ia dikenal sebagai decu mini atau decu gunung. Perbedaan nama lokal ini lumrah dan mencerminkan cara masyarakat memberi identitas pada satwa di sekitarnya.
Namun, dalam kajian ilmiah, penggunaan nama latin menjadi penting agar tidak terjadi kekeliruan. Eaton dan kolega dalam Birds of the Indonesian Archipelago tahun 2016 menegaskan bahwa standar nomenklatur membantu menyatukan pengetahuan lintas wilayah dan budaya.
Dari segi penampilan, sikatan belang termasuk burung berukuran sangat kecil. Panjang tubuhnya hanya sekitar sebelas sentimeter dari ujung paruh hingga ekor. Meski kecil, tampilannya tegas. Burung jantan memiliki kombinasi warna hitam pekat di bagian atas tubuh dan putih bersih di bagian bawah.
Garis alis putih, garis sayap, serta pangkal ekor yang terang membuatnya mudah dikenali oleh mata terlatih. Betina tampil lebih kalem dengan warna coklat keabu-abuan di bagian atas dan warna pucat di bagian bawah.
Perbedaan warna antara jantan dan betina ini dikenal sebagai dimorfisme seksual. Dalam perspektif biologi evolusi, perbedaan tersebut berkaitan dengan strategi bertahan hidup dan reproduksi.
Charles Darwin dalam The Descent of Man menjelaskan bahwa warna mencolok pada jantan berfungsi menarik pasangan. Sementara warna kusam pada betina membantu kamuflase saat mengerami telur. Pada sikatan belang, teori ini sangat relevan.
Habitat alami sikatan belang berada di hutan pegunungan dengan ketinggian sekitar seribu hingga dua ribu enam ratus meter di atas permukaan laut. Ia menyukai hutan cemara, hutan lumut, serta hutan campuran yang lembap.
Lingkungan ini menyediakan serangga melimpah dan suhu relatif stabil. Tajuk pohon yang rapat memberi perlindungan dari pemangsa sekaligus ruang berburu yang ideal. IUCN Red List tahun 2024 mencatat bahwa ketergantungan pada hutan pegunungan membuat spesies ini sensitif terhadap perubahan habitat.
Wilayah sebaran sikatan belang cukup luas. Ia ditemukan mulai dari Himalaya, India, Cina selatan, hingga Asia Tenggara. Di Indonesia, persebarannya meliputi Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Nusa Tenggara.
Meski luas, kehadirannya bersifat lokal dan terbatas pada dataran tinggi. Inilah salah satu alasan mengapa banyak orang tidak pernah melihatnya langsung. Ia hidup jauh dari hiruk pikuk manusia.
Dalam kesehariannya, sikatan belang adalah pemakan serangga. Menu utamanya meliputi lalat kecil, kumbang, ulat, dan laba-laba. Cara makannya khas burung sikatan. Ia bertengger diam, lalu terbang cepat menangkap mangsa di udara atau dedaunan, kemudian kembali ke tenggeran semula.
Pola ini dikenal sebagai flycatching. Menurut Ricklefs dalam buku Ecology tahun 2008, strategi ini sangat efisien di hutan bertingkat karena menghemat energi.
Bentuk tubuh sikatan belang mendukung gaya hidup tersebut. Paruhnya kecil dan runcing, ideal untuk menangkap serangga. Kakinya cukup panjang untuk ukuran tubuhnya, memungkinkan bertengger stabil dalam waktu lama.
Iris mata berwarna coklat memberi kesan lembut, hampir kontras dengan perilakunya yang gesit. Semua elemen tubuhnya seolah dirancang untuk satu tugas utama, berburu serangga di hutan.
Soal suara, sikatan belang memang tidak sepopuler burung kicau lomba. Namun, kicauannya memiliki karakter khas. Suaranya berupa siulan bernada tinggi, agak melengking, dengan pola naik turun teratur. Kadang diselingi bunyi getar pendek.
Kicauan ini berfungsi sebagai penanda wilayah dan komunikasi antarindividu. Cornel Lab of Ornithology dalam Handbook of Bird Sounds tahun 2015 mencatat bahwa vokalisasi sikatan relatif konsisten antarpopulasi.
Pada musim berbiak, sikatan belang mulai menunjukkan sisi lain kehidupannya. Ia membangun sarang berbentuk cawan kecil dari lumut yang dijalin serat halus. Sarang biasanya diletakkan di cabang tinggi atau kanopi, jauh dari jangkauan predator darat.
Betina bertelur satu hingga tiga butir. Telurnya berwarna coklat kekuningan gelap. Proses pengeraman berlangsung sekitar dua minggu hingga telur menetas.
Sistem reproduksi sikatan belang tergolong monogami musiman. Jantan dan betina bekerja sama menjaga wilayah. Namun, betina lebih dominan dalam mengerami telur dan merawat anakan awal. Umur produktifnya dimulai sekitar satu tahun.
Di alam liar, usia sikatan belang diperkirakan mencapai lima hingga tujuh tahun. Pola ini umum pada burung hutan kecil.
Saat ini, status konservasi sikatan belang tergolong Least Concern. Artinya, populasinya masih stabil secara global. Namun, status ini bukan alasan untuk lengah.
Deforestasi hutan pegunungan, perubahan iklim, dan fragmentasi habitat tetap menjadi ancaman jangka panjang. Burung kecil seperti sikatan belang sering luput dari perhatian kebijakan konservasi yang lebih fokus pada satwa besar dan karismatik.
Padahal, peran ekologis sikatan belang tidak kecil. Sebagai pemakan serangga, ia membantu mengendalikan populasi hama alami di hutan. Kehilangannya bisa berdampak pada keseimbangan ekosistem.
Mengenal sikatan belang berarti belajar melihat pentingnya detail kecil dalam alam. Tidak semua yang penting harus ramai dibicarakan.
Sikatan belang mengajarkan satu hal sederhana. Alam bekerja melalui banyak makhluk kecil yang setia menjalankan perannya. Ia tidak bersuara keras, tidak berwarna mencolok, tapi hadir menjaga harmoni.
Barangkali, justru dari burung kecil inilah kita belajar tentang makna keseimbangan yang sesungguhnya.





