Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama sejumlah stakeholder mulai menjalani uji jalan bahan bakar minyak (BBM) jenis Biodiesel B50.
Hal ini disampaikan langsung oleh tim di lapangan yang mengendarai unit-unit pengetesan. Berdasarkan keterangannya, sejumlah kendaraan perlu menempuh jarak sekitar 560 kilometer.
“Pengetesan pakai mobil kecil sampai besar, ada bus dan truk. Kita perlu jalan seharinya kurang lebih 560 kilometer,” buka seorang tim lapangan pengujian Biodiesel B50 yang mengendarai truk Hino Dutro saat dijumpai kumparan di Rest Area KM 102 A Tol Cikopo Palimanan, Kamis (22/1/2026).
Adapun total perjalanan yang wajib dipenuhi setiap kendaraan mencapai 6 ribu kilometer. Ia pun menyampaikan bahwa saat ini Biodiesel B50 belum dipasarkan, kendaraan tes tersebut melakukan pengisian di area Kota Cirebon.
“Ini totalnya sekitar 6 ribu kilometer dengan total waktu 3 bulan. Kita pengisian (solar) di Cirebon,” sambungnya.
Mengutip keterangan resmi Kementerian ESDM, program Biodiesel B50 dirancang untuk menutup sisa kuota impor yang masih ada di bawah kebijakan Biodiesel B40.
Implementasi B50 diproyeksikan untuk meningkatkan porsi bahan bakar nabati Fatty Acid Methyl Ester/FAME di dalam minyak solar secara signifikan. Artinya, impor yang saat ini dilakukan bisa digantikan sepenuhnya oleh pasokan solar nasional dari sumber daya domestik.
Hino menjadi salah satu pabrikan yang ikut andil dalam uji coba bahan bakar ini. Direktur PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI), Harianto Sariyan mengatakan bahwa pihaknya akan mendukung arah kebijakan biosolar yang diterapkan pemerintah.
”Jika ada penerapan pergantian BBM itu kami selalu di depan, bekerja sama dengan pemerintah untuk B50 ini. Untuk sekarang memang masih dalam tahap uji coba, jadi kita belum tahu hasilnya,” kata Harianto di Purwakarta, Jawa Barat beberapa waktu lalu.
Setelah pengujian rampung, pihak HMMI akan mengetahui bagaimana reaksi dan kondisi mesin setelah menggunakan Biosolar B50. Termasuk untuk menyesuaikan kebutuhan filter solar dan sejumlah komponen lainnya.
Pada dasarnya bahan baku untuk B50 ini tidak berbeda banyak dengan yang sebelumnya, hanya saja butuh penyesuaian lebih lanjut agar kita dapat mengetahui apa saja yang dapat ditimbulkan untuk kendaraan,” ucap Executive Officer HMMI, Wingki Kurniawan di kesempatan serupa.



